

Kematian Abah memaksa Gema pulang, dan bersamaan dengan itu, ia harus kembali berhadapan dengan bisik-bisik yang pernah ditinggalkannya.
Langkahnya pelan saat memasuki rumah duka. Sandalnya meninggalkan jejak tanah lembap di teras. Beberapa pasang mata langsung mengarah kepadanya—tatapan yang tidak benar-benar menyambut, lebih menyerupai penilaian yang disembunyikan di balik wajah prihatin.
Gema memilih menunduk.
Ia berjalan melewati barisan pelayat, mendekati jasad Abah yang terbujur di ruang tengah. Bau kapur barus bercampur wangi bunga melati memenuhi udara. Ia duduk bersimpuh di samping keranda. Wajahnya datar. Tidak ada air mata, tidak ada getar bibir.
Ummi yang duduk di dekat kepala Abah menyadari kehadirannya. Perempuan itu bangkit perlahan, lututnya sedikit gemetar, lalu duduk di samping Gema.
Tidak ada kata-kata.
Mereka hanya menatap sosok kaku yang kini dibungkus kain putih. Suasana hening di antara keduanya terasa lebih padat daripada suara doa yang dilantunkan para pelayat.
Ketidakhadiran reaksi dari Gema mengundang bisik-bisik yang mulai bergerak seperti angin tipis di antara kerumunan.
Sentuhan lembut di pundaknya membuat Gema menoleh. Adik Abah berdiri di belakangnya, tersenyum sendu, mata laki-laki itu dipenuhi rasa iba. Gema menatap sebentar, lalu kembali menatap jasad Abah tanpa ekspresi, membuat ingatan lama menyusup tanpa izin.
Malam itu lampu ruang tamu menyala redup. Gema yang masih duduk di bangku SMA sedang mengerjakan tugas di meja makan ketika pintu kamar Ummi terbuka perlahan. Adik Abah keluar sambil merapikan kancing bajunya. Ia terkejut melihat Gema, lalu tersenyum canggung sebelum berjalan cepat melewati ruang tamu.
Beberapa detik kemudian, Ummi muncul dari kamar dengan rambut yang belum sepenuhnya terikat. Mata mereka bertemu sesaat. Ummi tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya menunduk dan kembali menutup pintu kamar. Di ruang tengah, Abah masih tertidur di sofa, televisi menyala tanpa suara.
Gema menatap layar yang berkedip-kedip, mencoba menelan sesuatu yang tiba-tiba terasa pahit di tenggorokannya.
***
Pemakaman selesai menjelang sore. Tanah merah masih basah ketika Gema kembali ke rumah.
Tanpa banyak bicara, ia langsung membantu menyiapkan kudapan untuk tahlilan. Ia bolak-balik dari dapur ke ruang tengah, membawa nampan berisi gelas teh dan piring kecil berisi kue basah. Setiap langkahnya terasa seperti berada di lorong panjang yang dipenuhi tatapan.
Orang-orang memperhatikannya. Sebagian berbisik sambil menutup mulut dengan telapak tangan.
Lama-lama, Gema merasakan dengung halus di telinganya. Awalnya seperti suara listrik dari kabel tua. Semakin lama, suara itu membesar, menusuk seperti tekanan yang menekan dari dalam kepala.
Ia menaruh nampan dengan tergesa, lalu menjauh dari keramaian. Langkahnya cepat menuju kamar mandi belakang. Ia mengunci pintu dan bersandar di dinding keramik yang dingin.
Dengung itu semakin tajam. Gema menutup telinganya, memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menenangkan napas. Ketukan di pintu terdengar samar—atau mungkin hanya bayangan. Ia mengabaikannya. Dengung itu terasa lebih nyata daripada apa pun.
Tiba-tiba pintu terbuka paksa.
Ummi berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat dan cemas. Mata mereka bertemu. Gema hanya menatap datar, seolah baru saja kembali dari tempat yang sangat jauh.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang tahlilan.
Orang-orang sudah duduk melingkar, membaca Surah Yasin. Suara bacaan mengalun serempak, mengisi ruangan seperti gelombang yang naik turun. Gema duduk di barisan belakang, membuka buku kecil di tangannya, mengikuti bacaan dalam diam.
***
“Kasihan Gema...” bisik seorang ibu.
“Benar... kasihan sekali...” sahut yang lain.
Tatapan itu terasa menusuk kulit, tetapi Gema tetap menunduk pada lembaran bacaannya. Huruf-huruf arab di depannya tampak kabur sesaat sebelum kembali jelas.
Tahlilan berakhir malam hari. Para tamu pulang satu per satu, meninggalkan sisa aroma kopi, piring-piring kosong, dan kursi plastik yang belum dirapikan.
Gema berdiri di teras, mengantar tamu terakhir dengan anggukan singkat. Angin malam membawa udara dingin yang menempel di kulitnya.
Sebuah sentuhan pelan di pundaknya membuatnya tersadar dari lamunan. Ia menoleh. Ummi berdiri di belakangnya, mata perempuan itu sudah merah dan basah.
Tanpa berkata apa pun, Ummi menggenggam tangan Gema dan membawanya masuk ke rumah. Mereka duduk berhadapan di atas karpet ruang tengah. Genggaman Ummi tidak dilepaskan, seolah takut kehilangan lagi.
Mereka saling menatap lama.
Air mata Ummi akhirnya jatuh. Tangisnya pecah, tersengal, seperti sesuatu yang selama ini ditahan terlalu kuat.
“Maafkan Ummi...” suaranya pecah.
Gema tetap diam. Tatapannya tenang, hampir kosong, saat menyaksikan tangis itu mengalir tanpa jeda.
Setelah tangisan Ummi mulai mereda, Gema perlahan menarik tangannya dari genggaman.
“Besok saya harus kembali.”
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya sejak ia tiba. Suaranya datar, pelan, tanpa tekanan emosi.
Ia berdiri dan berjalan menuju kamar, meninggalkan Ummi yang kembali menangis pelan di ruang tengah.
Sebelum menutup pintu kamar, Gema menoleh sekilas ke arah adik Abah yang duduk di sudut ruangan. Pandangan mereka bertemu sesaat—pandangan yang menyimpan banyak hal yang tidak pernah diucapkan.
***
Pagi berikutnya, Gema meninggalkan rumah masa kecilnya.
Ummi mengantarnya sampai halaman dengan mata yang terus mengalirkan air. Gema mencium tangan perempuan itu, lalu berpamitan singkat pada adik Abah. Tidak ada pelukan. Tidak ada percakapan panjang.
Sepanjang jalan menuju pangkalan ojek, beberapa tetangga menatapnya. Bibir mereka bergerak—mungkin menyapa, mungkin berbisik. Gema berjalan lurus tanpa menoleh.
Bisik-bisik itu bukan hal baru baginya. Meski sering kali bukan tentang dirinya, Gema tahu bagaimana kampung bekerja. Orang-orang yang terlalu lama tinggal di sana menjadikan cerita orang lain sebagai hiburan. Hiburan saat panen gagal. Hiburan saat hidup terasa sempit.
Terminal terlihat ramai. Bus-bus berjejer, knalpot mengepulkan asap tipis. Gema duduk di bangku besi, menunggu kendaraan yang akan membawanya pergi.
Ia memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Seorang anak kecil menangis karena enggan berpisah dari neneknya. Kernet berteriak menawarkan tujuan perjalanan. Pedagang asongan berjalan mondar-mandir sambil menggoyang keranjang jajanan.
Semua bergerak cepat.
Gema duduk diam.
Rintik hujan mulai turun, memantul di atap seng terminal, menciptakan irama yang nyaris tak terdengar. Ia bergeser sedikit ke dalam agar tidak terkena tempias air.
Tatapannya lurus ke depan, menembus tirai hujan. Mengingatkannya pada suara yang dulu sering ia dengar dari balik dinding kamar. Suara kasur yang berderit pelan. Bisikan tertahan. Napas yang dipaksa lirih. Gema pernah berdiri lama di depan pintu kamar Ummi, menggenggam gagang pintu tanpa berani membukanya. Dari celah ventilasi, cahaya lampu kamar memantul redup di lantai lorong. Ia menunggu suara itu berhenti. Namun suara itu justru semakin jelas, semakin dekat, seolah menempel di telinganya.
Malam itu Gema akhirnya memilih keluar rumah menerjang hujan hingga kecelakaan terjadi. Malam ketika dunia tiba-tiba berubah menjadi ruang yang teredam.
Awalnya hanya telinga kanan yang kehilangan suara. Beberapa bulan kemudian, telinga kirinya menyusul, perlahan, seperti lampu yang meredup sebelum benar-benar padam.
Anehnya, kehilangan itu justru membawa ketenangan.
Ia tidak lagi mendengar bisik-bisik menyakitkan tentang Abah yang dikhianati istirinya. Tidak lagi menangkap suara-suara desah menjijikkan dari ibu dan adik Abah.
Di dalam keheningan yang luas dan kosong itu, Gema justru merasa napasnya lebih lapang.
Lebih hidup.

