

kau berangkat, aku masih jadi stasiun
pukul 2 kereta datang,
membawa nama-nama baru
tapi tak ada yang membawa kabarmu pulang.
waktu seperti petugas stasiun,
menurunkan seluruh kenangan
dari gerbong kepala
gerbong 8 katanya.
lalu menyuruhku percaya
kehilangan adalah jadwal yang harus kutaati
malam satu dua aku masih mendengar peluit
mengira ia kembali
itu suara besi yang beradu dengan sepi
kereta akan mengangkut penumpang lain
rel akan menemukan tujuan lain
stasiun tak boleh menangisi setiap keberangkatan.
ada orang yang pergi membawa seluruh peta
kereta tak lagi tahu kemana harus pulang
pagi datang seperti pelayan
mengantar hari yg tak pernah dipesan
ia mengetuk jendela, menyodorkan cahaya
kuterima seperti surat tagihan
atas kehidupan yg masih tersisa.
malam lebih murah hati
ia memberi bangku kosong
duduk disamping kenangan
dan berpura-pura ia masih pulang
lewat notifikasi
pagi selalu datang, menggusur seluruh kemungkinan
menebang satu per dua pohon
yang kutanam atas nama kita
yg tersisa lapangan luas
tak ada lagi tempat
bagi harapan bersembunyi
barangkali di lain hari
ketika namamu tak lagi terdengar
seperti sirine ambulan
di dalam kepala, akan kuceritakan

