Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
NASKAH DRAMA

Hulu Tak Berhilir

Oleh Erostians

Dramatic Personae:

CORRIE DU BUSSE : Wanita keturunan Eropa, istri Hanafi.

HANAFI : Pria pribumi asli Solok, suami Connie.

MINA : Seorang pembantu di rumah Hanafi dan Corrie. Lugu.

TANTE LIEN : Wanita tua, Tionghoa. Latah.

PIET : Pria berkebangsaan Belanda. Bijak.



ADEGAN 1

BATAVIA, 1920-AN. SEBUAH TERAS SEDERHANA. CONNIE DUDUK DI KURSI MEMBACA KORAN. BUSANANYA TAK TERLALU MODIS UNTUK WANITA SECANTIK DIA. TAPI SEBAB WAJAHNYA YANG BEGITU CANTIK, GAUN SEDERHANA ITU JUSTRU MENJADI TERLIHAT MENAWAN. TAK LAMA MUNCUL SEORANG WANITA PRIBUMI.


MINA : Silakan nyonya.

CORRIE : Terima kasih, duduklah.

MINA : Mengapa nyonya menutup kembali surat kabar itu?

CORRIE : Entah mengapa. Meskipun judul-judulnya akan membuat siapa pun tertarik membacanya tapi segala warta yang ada di surat kabar ini tiada yang menarik bagiku.

MINA : Benarkah? Adakah sesuatu yang mengganjal hati nyonya?

CORRIE : Mungkin. (Terdiam)

MINA : Maaf jika keingintahuanku membuat nyonya tak nyaman.

CORRIE : (Beranjak dari kursi) Setelah menikah dengan tuan Han ada perasaan yang belum bisa kuterjemahkan dengan kata-kata. Mungkin saja karena aku memilih menikah di usia yang terbilang muda. Rasanya terlalu cepat bagiku meninggalkan masa muda dan menjadi seorang istri.

MINA : Tapi bukankah telah lama nyonya mengenal tuan Han? Dalam hubungan yang semacam itu tentu perasaan di antara keduanya sudah terjalin cukup lama. Meskipun memang usia nyonya masih terbilang cukup muda.

CORRIE : Memang demikian, bahkan sangat lama aku telah mengenalnya. Dahulu aku menganggap tuan Han sebagai seorang saudara. Namun nyatanya telah laama dia menyukaiku. Hingga kami memilih menikah dua tahun yang lalu. Begitulah singkatnya. Terimakasih untuk tehnya, Mina. (Minum teh)

MINA : Sudah kewajibanku nyonya.

CORRIE : Harum melati sungguh membuatku tenang. (Terdiam)

MINA : Nyonya, maafkan apa bila saya lancang. Ada baiknya segala permasalahan dalam rumah tangga dibicarakan mengingat nyonya dan tuan Han belum terlalu lama menikah. Tak ingin rasanya terlalu ikut mencampur urusan nyonya. Tapi setelah bekerja di sini, saya menemukan kecocokan dengan nyonya dan tak suka hati melihat nyonya berada dalam kesusahan ini. Maka dari itu, saya sampaikan semoga nyonya segera menemukan jalan keluar dari permasalahan ini.

CORRIE : Terima kasih.

MINA : Saya undur diri, nyonya. Permisi.


ADEGAN 2

CORRIE MENYERUPUT TEH KEMBALI LALU PIKIRANNYA MELAYANG. GAMANG.


CORRIE : Sebentar lagi dia pulang.


TERDENGAR KICAUAN BURUNG YANG HINGGAP DI PEPOHONAN.


CORRIE : Burung Gereja, apakah kau sedang mengejekku? Sudah berapa tempat yang kau sambangi? Adakah sepasang sayapmu terasa letih setelah terbang ke sana kemari? Aku ingin sepertimu, pergi ke manapun hati berkehendak. Namun begitu sukar hatiku untuk berkehendak. Andai saja aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi burung saja. Maka aku tak perlu memikirkan segala hal yang membebani hatiku.


ADEGAN 3

HANAFI DATANG. MEMANDANGI CORRIE YANG ASIK MENATAP BURUNG DI POHON DAN TAK MENGETAHUI BAHWA SUAMINYA TELAH PULANG.


CORRIE : (Kepada burung) Hei, mau ke mana? Kembalilah esok hari!

HANAFI : Dengan siapa kau berbicara?

CORRIE : Ah, kau sudah sampai. (Kembali duduk) burung gereja tadi hinggap di sana.

HANAFI : Apakah yang kau bicarakan dengan burung itu?

CORRIE : Tak penting. Hanya obrolan yang remeh untuk merintang-rintang hati.

HANAFI : Merintang hati?

CORRIE : Sudahlah, tak penting. Lebih baik kau segera berganti pakaian.

HANAFI : Ya, aku tahu. Namun biarkan dulu aku duduk di sini. Letih rasanya setelah bekerja seharian.

CORRIE : Akan ku buatkan teh.


CORRIE MASUK KE DALAM RUMAH, HANAFI MELEPAS SEPATUNYA DAN DUDUK DI KURSI. DIA TAMPAK KELELAHAN. CORRIE KELUAR KEMBALI MEMBAWAKAN TEH MENARUHNYA DI ATAS MEJA.


CORRIE : Bagaimana harimu di kantor BB?

HANAFI : Tak terlalu banyak hal yang bisa kuceritakan. Semua berjalan sewajarnya saja. Meski pak kepala memberikan tugas lebih dari hari biasa. Untung saja Piet membantuku mengurusi berkas-berkas itu.

CORRIE : Oh, Piet, sahabatmu? Pria berkebangsaan Belanda itu? Syukurlah. Wajarlah jika keletihan itu nampak jelas di wajahmu, sepertinya kau sangat sibuk.

HANAFI : Seharian ini kau di rumah?

CORRIE : Ya.

HANAFI : Apa saja yang kau kerjakan?

CORRIE : Berjemur, minum teh, membaca roman, surat kabar. Apalagi?

HANAFI : Sama seperti kemarin.

CORRIE : Lantas apa yang mesti ku lakukan? Adakah kewajiban lain yang mesti terpenuhi?

HANAFI : Kewajiban itu adalah motivasi bagi manusia untuk tetap hidup. Dengan adanya sebuah kewajiban yang mendorong kita untuk berpikir dan bertindak maka manusia akan tetap merasa hidup.

CORRIE : Singkatnya, aku manusia yang telah gagal bukan?

HANAFI : Dari mana datangnya anggapan itu? Jangan mengada-ada.

CORRIE : Tidak dari siapapun, melainkan dari mulutku ini saja.

HANAFI : Mari kita lupakan pembicaraan tadi.

CORRIE : Kenapa mesti dilupakan? Bukankah segala permasalahan mesti dibicarakan supaya segera terselesaikan?

HANAFI : (meminum teh) Baiklah mari kita bicarakan.

CORRIE : Kau tidak mengerti Han akan kemasygulan hatiku ini?

HANAFI : Orang-orang berkata bahwa hati itu ibarat samudera. Begitu dalam dan mustahil mengetahui berbagai hal di dalamnya.

CORRIE : Namun kau adalah suamiku. Pria yang telah menikahiku. Pria yang dua tahun lalu begitu senang setelah lamarannya diterima olehku. Dulu pria itu berjanji akan menerima segala hal ikhwal-ku termasuk sikap dan perilaku di dalamnya. Sampai sekarang kau masih belum mengerti?

HANAFI : Bagaimana aku dapat mengerti apabila kau tidak menerangkannya, Cor?

CORRIE : Baik, akan kuterangkan padamu. Aku bosan. 

HANAFI : Hanya itu? Jika kau bosan cobalah untuk pergi temasya. Mungkin itu bisa menenangkan hati dan pikiranmu.

CORRIE : Aku belum selesai berbicara. Dahulu hidup bagiku adalah sebuah petualangan. Tapi setelah menjadi seorang istri, dunia bagiku seperti kungkungan. Kemerdekaanku telah lenyap seiring dengan terpasangnya cincin ini di jari manisku. 

HANAFI : Menyesalkah kau memutuskan untuk menikah?

CORRIE : Tidak, aku tidak menyesal untuk menikah. Ingatkah kau? Sejak awal di betawi tak ada yang kukenali dekat. Hanya kau saja. Sahabatku yang akhirnya menjadi suamiku. Dahulu juga ada sahabat wanita yang pada akhirnya menjauh setelah mengetahui tunanganku adalah seorang Pria yang baru masuk menjadi Belanda. Kau pun pasti mengerti bagaimana kita telah tersisih dari masyarakat bukan?

HANAFI : Oh, aku paham sekarang. Semua ini sebabnya adalah karena sedari lahir aku seorang Bumiputera.

CORRIE : Bukan itu maksudku!

HANAFI : Bohong. Kau telah menyesal menikah denganku karena latar belakangku ini. Namun kau sendiri telah paham. Aku memilih masuk Belanda bukan karena hendak membuang diri. Aku masuk Belanda sebab inginku untuk meraih capaian yang lebih tinggi di dalam kehidupan serta hatimu, wanita yang paling kukasihi dalam hidup ini. Meskipun di dalam adat Melayu aku telah tersebut sebagai Olando, orang yang telah menceraikan diri dari adat serta kelahirannya, aku tak peduli dan tidak pula menyesali. Meskipun aku sendiri tak mampu menceraikan diri dari ibuku Mariam.

CORRIE : Jangan kau lupakan juga Rapiah dan Syafei. Mantan istrimu dan darah dagingmu sendiri.

HANAFI : Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa perkawinan itu telah ku sudahi sebab aku tak mencintai wanita itu. Aku telah diberikan padanya, sebab sejak dahulu pamanku, Sutan Batuah, saudara jauh dari ibuku telah menaksirku untuk menjadi menantunya. Apa gunanya sebuah pertalian pernikahan tanpa adanya sebuah rasa cinta, Cor? Hanya kau wanita yang ku cintai. Dan hanya padamu bahagia kan kudapati.

CORRIE : Meskipun tersisih? Meski gunjingan-gunjingan yang berlalu lalang di belakang telingamu tak ada hentinya?

HANAFI : Ya, omongan orang semacam mereka tidaklah berarti di hati bahkan telingaku.

CORRIE : Aku tak mengerti jalan pikiranmu itu.

HANAFI : Cor, sebaik-baiknya kau tak perlu mengurusi sikap orang luar terhadap kita. Mereka biar mereka, kita tak perlu bersangkutan paut dengan mereka. Di kantor BB tempatku bekerja saja hanya satu orang yang dapat kusebut sahabat. Mereka bersenyum manis di depanku tapi menoleh sedikit berganti muka, melepas topeng. 

CORRIE : Ya, aku tahu tapi satu saja tidak cukup, Han. Bah, dalam berkehidupan kita perlu untuk bersosial.

HANAFI : (memegang tangan Corrie) Bagiku, kau saja sudah cukup untuk hidupku, Cor. Untuk apa aku membutuhkan orang lain? 

CORRIE : Kau keliru, Han. Adalah sebab kita telah bersatu, maka hidupmu dan hidupku adalah satu kehidupan. Namamu adalah namaku pula. Jika salah seorang diantara kita lelah jiwanya, yang lain akan menjadi sandaran. Namun bagaimana bila kita berdua dalam keadaan lemah? Siapa yang akan membantu kita?

HANAFI : Bukan aku tak ingin untuk bersosial. Aku sudah mencoba untuk berteman dengan mereka. Namun mereka yang memalingkan muka menolak ajakanku. Karena apa? Karena aku adalah pribumi.

CORRIE : (melepaskan tangan) Kita cukupkan pembicaraan ini. Aku ingin membaca buku saja (masuk rumah).

HANAFI : Aku tak pula mengerti engkau, Cor. Kau telah berubah. (menghabiskan teh)


LAMPU MEREDUP, HANAFI MASUK. HARI BERGANTI.


ADEGAN 4

HANAFI BERSIAP BERANGKAT KE KANTOR. CORRIE DATANG DARI DALAM. MEMBETULKAN KERAH KEMEJA DAN DASI HANAFI.


HANAFI : Sepulang kerja nanti, mari kita pesiar dengan oto ke Utara.

CORRIE : Buat apa? Temasya? Tak ada yang menarik di sana.

HANAFI : Kau marah padaku?

CORRIE : Adakah raut muka ini menunjukkan kemarahan, Han?

HANAFI : Tapi kau bilang bosan kemarin bukan?

CORRIE : Bosan hanyalah masalah waktu. Sudah rapi, segeralah berangkat.


HANAFI HENDAK MENCIUM BIBIR CORRIE. CORRIE SEGERA MENGHINDAR.


CORRIE : Tahanlah birahimu itu Tuan Hanafi yang terhormat. Kita sedang di beranda.

HANAFI : Tapi kau istriku.

CORRIE : Meskipun demikian jangan membuang kehormatanmu itu dengan berbuat semacam itu.

HANAFI : (ketus) Baiklah, nyonya. Maafkan kehinaan sikap suamimu ini. Selamat pagi.

CORRIE : Apa yang terjadi padanya?


ADEGAN 5

MINA DATANG MEMBAWA BAKI DENGAN SECANGKIR KOPI DI ATASNYA.


MINA : Kopi sudah siap nyonya.

CORRIE : Kenapa hanya satu?

MINA : Maaf nyonya, apakah akan datang tamu pagi ini?

CORRIE : Tidak, buatlah satu lagi untukmu sendiri. Dan temani aku di sini.

MINA : Untuk saya? Tapi saya tidak bisa minum kopi nyonya. Saya mudah kembung.

CORRIE : Bagaimana dengan susu?

MINA : Apa boleh saya minum susu?

CORRIE : Buatlah, tidak ada yang melarangmu. Hari ini kita buka sebuah perjamuan kecil di beranda ini.

MINA : Baiklah, Nyonya. Saya segera kembali.


ADEGAN 6

MINA KELUAR. CORRIE MENATAP JAUH KE LUAR BERANDA.


CORRIE : Pagi yang cerah. Di pagi secerah ini dahulu Papa pasti sedang minum kopi sambil menghisap pipa. Tak lama kemudian dia akan menyiapkan senapannya untuk berburu ke tengah hutan. Atau membaca surat kabar. Begitu cepat waktu berlalu. Semoga Papa tenang di alam sana. Aku merindukanmu, Papa.


KICAUAN BURUNG TERDENGAR.


CORRIE : Oh, kau kah yang kemarin itu? Kau kembali ke sini. Ah, kau pasti hendak membuat sarang di pohon itu. Baguslah kita akan sering bertemu. Apa sebaiknya aku memberikan kau nama? (berpikir) Akan tetapi aku tak tahu jenis kelaminmu. Apabila jantan, mungkin Napoleon bagus untukmu. Sebab tubuhmu yang mungil. Tapi jika betina aku kira Joan saja, dari Joan of Arc.


ADEGAN 7

MINA DATANG MEMBAWA SECANGKIR SUSU.


MINA : Nyonya...

CORRIE : Ah, kemarilah, Mina! Lihatlah! Ada seekor burung yang sering hinggap di pohon itu. Nampaknya dia akan membuat sarang di sana dan aku ingin berkawan dengannya. 

MINA : Mengapa nyonya tidak menangkapnya saja?

CORRIE : Hei! Mana boleh demikian? Aku tak ingin mengurungnya. Setiap makhluk memiliki hak untuk hidup sesuai dengan keinginannya sendiri. Maka aku tidak boleh mengurungnya. Terlebih dia sudah menjadi kawanku. Mana boleh aku mengurung kawanku sendiri?

MINA : Maafkan saya, nyonya. Tapi bagaimana bila dia kabur nanti?

CORRIE : Kabur? Aku tidak memakai kata itu, Mina. Jika itu memang kehendaknya untuk pergi. Maka biarlah dia pergi.

MINA : Lantas nama apa yang hendak nyonya berikan untuknya?

CORRIE : Aku tidak tahu, Jika dia jantan aku ingin menamainya Napoleon. Jika betina, Joan. Tapi aku tidak tahu dia betina atau jantan.

MINA : Napoleon? Joan? (salah penyebutan)


CORRIE TERTAWA


MINA : Mengapa nyonya tertawa? 

CORRIE : Tidak apa-apa, Mina.

MINA : Apakah itu Bahasa Belanda, nyonya?

CORRIE : Bukan, itu nama Perancis. Papaku orang Perancis, Mina. Kau lupa?

MINA : Ah, saya lupa nyonya. Maafkan saya.

CORRIE : Tak apa. Lihatlah bulunya. Bagus sekali. Perpaduan warna coklat dan hitam, eksotik. Tapi kurasa dia wanita.

MINA : Bagaimana nyonya bisa tahu?

CORRIE : Karena dia cantik sepertimu.

MINA : Ah, nyonya lebih cantik dariku. Mengapa mesti seperti saya.


CORRIE DAN MINA MEMERHATIKAN BURUNG YANG ASIK BERKICAU ITU.


CORRIE : Tidakkah kau ingin jadi burung, Mina? Dengan menjadi burung kau akan bebas terbang ke mana saja. Tak perlu hanya di rumah setiap saat. Terlebih, kau tidak memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kau bisa mencari makan sendiri sebab segala yang ada di atas dunia ini gratis dari Tuhan, tak perlu membeli. Bahkan untuk membuat rumah kau tak perlu tembok dan atap. Karena bulumu sudah cukup untuk melindungi dari dingin, jika kau kepanasan kau bisa hinggap di pohon yang lebih rindang. Bagaimana? Lebih asyik menjadi seekor burung bukan? 

MINA : Saya rasa begitu nyonya.

CORRIE : Aku sendiri ingin sepertinya. Menjadi burung merasakan kemerdekaan.

MINA : Merdeka?

CORRIE : Ya, Merdeka! (menyadari sesuatu) Ah maafkan aku, Mina.

MINA : Tidak nyonya. Saya mengerti, nyonya tidak bermaksud demikian.


MINA DAN CORRIE SAMA-SAMA TERDIAM. SUASANA CANGGUNG.


MINA : Jadi nyonya akan menamainya Joan?

CORRIE : Ya, Joan saja.

MINA : Nama yang bagus nyonya.

CORRIE : Sudahlah, biarkan dia membangun sarangnya. Mari kita duduk.


CORRIE DAN MINA DUDUK. MEREKA MINUM MASING-MASING MINUMANNYA.


CORRIE : Mina, seperti yang pernah kuceritakan. Papaku orang Perancis sedangkan Mamaku adalah wanita pribumi.

MINA : Begitukah nyonya?

CORRIE : Ya betul demikian. Mama adalah wanita Solok, tanah kelahiran Hanafi.

MINA : Lalu bagaimana nyonya dan tuan bisa bertemu?

CORRIE : Singkat cerita, kami telah berkawan karib sejak di sekolah rendah. Masa remaja kami sering bermain tenis bersama. Dahulu tuan Han pernah mengenyam sekolah di HBS Batavia, dan tinggal di rumah orang Belanda, maka dalam hal bergaul dengan bangsa Eropa amatlah mudah baginya. Terlebih karena dia begitu dekat denganku kami sama-sama bersekolah di HBS. Meskipun dia telah lulus terlebih dahulu.

MINA : Lalu bagaimana dengan Tuan Du Busse? Apakah beliau menyetujui perkawanan nyonya dengan tuan?

CORRIE : Papa? Tak ada kesusahan bagi hatinya. Sebab yang dia tahu kami hanya berkawan dan kawan pergaulan Hanafi yang merupakan orang-orang Barat menjauhkan Papa dari kekhawatiran. Dulu aku tak pernah berpikiran untuk menikah dengan Hanafi, sebab diantaranya setelah pernikahan itu terwujud pasti akan datang bencana akibat kesombongan bangsa.

MINA : Kesombongan bangsa? Apa itu, nyonya?

CORRIE : Timur tinggal Timur, Barat tinggal Barat, dan tidaklah keduanya akan menjadi satu. Itulah yang dikatakan oleh Papa. Setiap bangsa mempunyai sarinya masing-masing. Belanda dan Hindia. Barat dan Timur. Orang bangsa Barat yang datang ke Timur dianggap dipertuan oleh orang di sini sebab datangnya sebagai seseorang dengan pengetahuan tinggi dan hendak mengangkat derajat bangsa Timur. Terlebih jika seorang tuan mengambil 'nyai' di sini, kemudian beranak, maka tuan tersebut dianggap berjasa besar karena telah memperbaiki bangsa dan darah di sini.

MINA : Lantas bagaimana perihal seorang nyonya yang menikah dengan seorang bumiputera? Apakah nyonya juga ikut berjasa?

CORRIE : Tidak. Justru sebaliknya. Seorang wanita Barat yang menikah dengan seorang pria Timur justru akan dianggap hina, dianggap telah membuang diri dan bahkan mengurangi derajat bangsa Barat (berlinangan air mata).

MINA : Maafkan saya telah menanyakan hal tersebut.

CORRIE : Tidak apa-apa, Mina. Rasa penasaran adalah hal yang lumrah bagi manusia. Maka, sejak jari manisku memakai cincin emas sebagai mas kawin ini, dimulailah pula kehidupanku sebagai seorang manusia yang dipandang hina. Seorang wanita yang telah sengaja melompat ke dalam jurang yang curam dan tak berdasar.

MINA : Jadi itukah penyebab nyonya lebih bersuka diam di rumah daripada pergi keluar?

CORRIE : Betul, tapi begitu juga dengan Hanafi. Ia pun telah mengalami hal yang serupa denganku. Dalam adatnya sebagai pria kelahiran Solok, dia telah disebut sebagai Olando, orang yang telah menceraikan diri sendiri dari lingkungan, tanah kelahiran, serta adatnya.

MINA : Sungguh saya tak bisa membayangkan bagaimana orang luar akan memperlakukan nyonya dan tuan Han. Namun, bagaimana nyonya dapat menerima pinangan dari Tuan Han?


CORRIE TERDIAM. MINA MENGUBAH GELAGATNYA SEMACAM ORANG YANG BERKESALAHAN.


MINA : Maafkan saya, Nyonya.

CORRIE : Tak perlu minta maaf, Mina. Selain pandai dalam urusan dapur kau pandai pula membuat orang bingung dengan pertanyaanmu, Mina. Rasanya aku harus menaikan upahmu bulan depan. Aku hendak ke kamar mandi dulu. Kau tetap di sini. Kita lanjutkan lagi perbincangan kita tadi.


ADEGAN 8

CORRIE MASUK KE RUMAH. TAK LAMA KEMUDIAN SEORANG WANITA TUA BERPAKAIAN MODIS DENGAN PERHIASAN YANG BANYAK DATANG KE BERANDA. MINA MENYAPA.


MINA : Oh, Tante Lien! Silakan duduk.

TANTE LIEN : Terima kasih ye Mina. Si Corrie mane?

MINA : Sebentar saya panggilkan.


MINA MASUK RUMAH. TAK LAMA CORRIE DATANG DENGAN SUMRINGAH BERSAMAAN DENGAN MINA.


ADEGAN 9

CORRIE : Dag, Tante Lien!

TANTE LIEN : Dag, Cor!


TANTE LIEN HENDAK MENGHAMBUR DIRI KE ARAH CORRIE. NAMUN TERPELESET DAN HAMPIR JATUH KARENA MENGINJAK SEBUAH DAUN.


TANTE LIEN : Mampus gue! Selop gue terbang!

CORRIE : (tertawa) Hati-hati Tante Lien. (Memanggil) Mina!

TANTE LIEN : Mina! (Latah)

CORRIE : Anak setan!

TANTE LIEN : Anak setan!

CORRIE : Kerja yang bener!

TANTE LIEN : Kerja yang bener!

CORRIE : Gue bikin mampus lu!

TANTE LIEN : Gue bikin mampus lu!


CORRIE MENGAMBIL SELOPNYA DAN HENDAK MELEMPARKANNYA KE MINA, NAMUN TAK SAMPAI TERLEMPAR MINA SUDAH LARI KE DALAM DIIRINGI TAWA CORRIE DAN DIRINYA.


CORRIE : Kejar Tante Lien!


TANTE LIEN MENGEJAR NAMUN TERSADAR KEMBALI DAN TERENGAH-ENGAH.


TANTE LIEN : Kliwatan lu, non.

CORRIE : Marilah duduk Tante Lien.

TANTE LIEN : Semakin Tua penyakit latah gue makin jadi.

CORRIE : Terima kasih Tante Lien. Sudah lama aku tidak tertawa selepas ini. Barangkali sudah tiga bulan lamanya, sejak tertawa selepas tadi.

TANTE LIEN : Bukannye minta maaf malah terima kasih. Aneh lu!


TANTE LIEN MENGAMBIL SEBUNGKUS KARTU POKER.


CORRIE : Sebentar Tante. Sebelum bermain, tante mau pesan apa? Port, sherry, whiskey soda, apa?

TANTE LIEN : Lagaknye mau mabok macem gak bener. Udeh tue, kopi tubruk aje. 

CORRIE : (tertawa sejurus) Mina, buatkan kopi tubruk!

MINA : (dalam rumah) Baik, nyonya!

TANTE LIEN : Mulut gue rasanye pengen nyirih.

CORRIE : Tante jangan sekali-kali nyirih di sini! Aku tak tahan melihatnya.

TANTE LIEN : Iye, gue tahu.

CORRIE : Daripada mengunyah benda menjijikkan itu. Lebih baik kita membakar sigaret. Sebentar aku ambilkan.


CORRIE MASUK KE DALAM RUMAH MENGAMBIL SEKOTAK SIGARET BERUPA-RUPA. CORRIE MUNCUL KEMBALI BERSAMAAN DENGAN MINA MEMBAWA KOPI. LAGAK MEREKA SUDAH LAYAKNYA DAYANG-DAYANG. MINA MASUK KEMBALI, CORRIE DUDUK KEMBALI.


TANTE LIEN : (membuka kartu) kite main sekarang?

CORRIE : Nampaknya aku tak ingin bermain hari ini, tante.

TANTE LIEN : Lah, kenape begitu?

CORRIE : Apa tante bawa barang dagangan?

TANTE LIEN : Bawa, tapi buat ape? Non, tidak pernah membeli.

CORRIE : Sekarang aku sudah berubah pikiran. Maka keluarkanlah, aku hendak memakai dengan seindah-indahnya. Jika perlu, aku akan membayarnya kontan.

TANTE LIEN : Benar, non?

CORRIE : Benar, tante.


TANTE LIEN SUMRINGAH, LANTAS MENGELUARKAN BERBAGAI PERHIASAN YANG DIJUALNYA, MELETAKKANNYA DI ATAS MEJA. KALUNG, CINCIN, GIWANG, BANYAK SEKALI.


TANTE LIEN : Nah, ini banyak emas. Non pilah-pilah terlebih dahulu.

CORRIE : (matanya berbinar) Amat cantik kilauan emas-emas ini.

TANTE LIEN : Non, coba lihat ini. (Mengambil sepasang kerabu) Cantik, non. Ada berliannye pule. Sekarat setengah, satuannya.

CORRIE : (terperangah) betul, cantik sekali. Tapi apa tak berat memakainya?

TANTE LIEN : Berat? Coba deh lu timbang sama topi. Berat mana sama giwang ini?

CORRIE : Sayang sekali sorotnya kuning.

TANTE LIEN : Wah, kalau sorotnya biru laut, belum tentu boleh dapat dengan harga tiga atau empat ribu. Sebab ada warna kekuningan sedikit, harganya enam ratus.

CORRIE : Apa pantas memakai giwang sebesar ini?

TANTE LIEN : Coba aje, non. Lepas itu mutiara (menunjuk giwang mutiara yang dipakai Corrie). Orang Belanda bilang: mutiara itu membawa air mata. Maka pakailah ini, berkacalah! Mina, ambil kaca!


ADEGAN 10

CORRIE MELEPAS SEPASANG GIWANGNYA LALU MENGGANTINYA DENGAN SEPASANG KERABU ITU. MINA MUNCUL MEMBAWA KACA. TAKJUB MELIHAT CORRIE MEMAKAI SEPASANG GIWANG KERABU BAWAAN TANTE LIEN.


MINA : Wah, nyonya membeli giwang baru?

TANTE LIEN : Kerabu, Mina.

MINA : Oh, ya kerabu. Maafkan saya. Ah, saya lupa membeli gula. Saya pergi dulu ke toko kelontong nyonya. (Keluar)

CORRIE : Belilah seperlunya saja, Mina.

MINA : Baiklah, Nyonya.


CORRIE MELIHAT DIRINYA SENDIRI DARI CERMIN DAN TERSENYUM-SENYUM.


CORRIE : Ah, apa benar pantas, Tante?

TANTE LIEN : Sekeram jati, non. Apa saja yang kau pakai, tentu pantas. Secara kau pakai sekarang harganya sudah rupa beribu rupiah!


MINA KEMBALI DENGAN TERGOPOH-GOPOH.


MINA : Nyonya, tuan Han menuju kemari.

CORRIE : Han?! Kenapa dia kembali secepat itu? Tante, segeralah berkemas. Kerabu ini biar kupakai dahulu. Besok jika aku memang menyukainya akan kubayar. Lekas.


TANTE LIEN SEGERA MEMBERESKAN BARANG DAGANGANNYA LALU BERANJAK DARI RUMAH ITU DENGAN TERGESA.


ADEGAN 11

HANAFI MUNCUL MEMBAWA TAS KERJANYA.


CORRIE : (kepada mina) Mina buatkanlah kopi.

MINA : Baik, nyonya.


HANAFI DAN CORRIE DUDUK DI KURSI BERANDA.


HANAFI : Jika pemandanganku tak salah, nyonya tua yang keluar tadi dari rumah kita?

CORRIE : (Menghela nafas) Benar tak salah pemandanganmu

HANAFI : Apa maksudnya datang kemari?

CORRIE : Ah, tidak ada maksud apa-apa. Tiap kali dia kemari buatannya hanya bersenda gurau.

HANAFI : Jadi acap kali dia datang kemari?

CORRIE : Acap kali tentu tidak. Seminggu sekali lebih tepatnya.

HANAFI : Rupanya mevrouw Han telah bersahabat baik dengan Tante Lien. Tahukah kau apa pekerjaan wanita tua itu? Penjual perempuan! 

CORRIE : Aku tidak peduli apa pekerjaannya. Di rumah ini dia tidak pernah merentangkan jaring.

HANAFI : Bermain api hangus, bermain air basah. (bangkit dan membelalak) Aku tak suka wanita tua itu keluar masuk rumah ini.

CORRIE : Jangan terlalu keras, tuan! Tante Lien ke mari jika tuan berada di kantor. 

HANAFI : Justru karena itu. Aku melarang kau membiarkan orang itu masuk ke dalam rumah ku!

CORRIE : Rumah kita berdua!


HANAFI MEMPERHATIKAN TEMPAT ABU ROKOK, SERTA MEMPERHATIKAN SEPASANG KERABU YANG DIPAKAI CORRIE. TAK LAMA, WAJAHNYA SEAKAN MENDAPATKAN SUATU KESIMPULAN.


HANAFI : Corrie, kebetulan sekali buku tabunganmu terbawa olehku. Jadi tak mungkin kau membeli barang harga beratus rupiah. Ternyata rumah kita ini telah menerima tamu hartawan!

CORRIE : (berdiri) Apa? Apa maksud perkataanmu itu?

HANAFI : Lihatlah sepasang kerabu yang ada di kupingmu itu.

CORRIE : Kerabu ini...

HANAFI : Kau telah melakukan perbuatan yang hina, Cor! Dan kau lakukan semua itu di dalam rumahku ini! Tak perlu bertanya ini dan itu segala bukti sudah di atas meja!

CORRIE : Masih belum kudengar kalimatmu yang penghabisan, Han. Katakanlah.

HANAFI : (terdiam)

CORRIE : Katakan!

HANAFI : Aku menuduhmu telah berzina!

CORRIE : (terhenyak dan terhempas ke kursi) Cabut tuduhan itu, Han. Jika kau masih menghendaki bertutur kata dengan istrimu ini. Cabutlah, tuduhan sekeji itu akan menghalangi segala jalan kita untuk berbicara secara orang yang sopan. Engkau telah berlaku sombong, kau telah mengadili istrimu sendiri dengan cara yang tidak adil. Kau berlagak seorang hakim tapi jauh dari sikap seorang hakim yang semestinya. Jika memang benar kau seorang hakim dan aku adalah pesakitan di sini, maka hendaknya kau bertanya dahulu, dan memastikan segalanya sebelum menjatuhkan hukuman. Maka sudikah kau mencabut tuduhanmu itu?

HANAFI : Maaf, Mevrouw, jika benar aku terlalu cepat menjatuhkan hukuman. Tidak perlu aku menyelidiki perihal tersebut karena semuanya sudah amat jelas.

CORRIE : Baik, oleh karena itu kau gunakanlah segala bukti itu ke pengadilan supaya disahkan dengan segera perceraian kita.

HANAFI : Bercerai? Sebelum kita bercerai, beritahukan padaku siapa laki-laki tersebut? Laki-laki yang telah kau layani itu. Sebutkan namanya!

CORRIE : Barulah sekarang kau bertanya. Kau tukang selidik. Carilah sendiri. (Beranjak dari beranda namun berhenti) Sebelum aku pergi dari sini. Terima kasih atas segalanya. Untuk kau ketahui, Tuan. Bahwa sebenarnya aku telah menerima pinanganmu dahulu karena tak lebih dari rasa kasihan. Sementara rasa cinta dalam hatiku memang tumbuh. Tapi lakumu sekarang ini telah lebih dari cukup untukku melepaskan cincin ini dari jariku, dan menghapus perasaan yang ada dalam hatiku.

HANAFI : Jadi memang benar kau merasa menyesal. Telah ku tinggalkan bangsaku, adatku, tanah kelahiranku, segalanya ku lakukan untuk mendapatkan cintamu.

CORRIE : Ya, bahkan dengan tanpa pertimbangan yang matang kau putuskan untuk meninggalkan Ibu kandungmu sendiri, Mariam yang telah melahirkan engkau dan memutuskan pertalian pernikahan antara istrimu Rapiah dan Syafei anakmu sendiri. Bisakah kau bayangkan betapa beruntungnya diriku mendapatkan lelaki semacam itu sebagai suamiku?

HANAFI : Sebab pernikahan semacam itu tak melahirkan suka cita dalam hidupku. Aku menderita karena cintaku hanyalah dirimu seorang. Jika saja kita tak perlu berpisah, jika saja kau tak berkeras hati dan menolak saat dahulu aku menyatakan perasaanku. Semua pernikahan, pertikaian, dan kelahiran Syafei tidak akan pernah terjadi.

CORRIE : Jadi sekarang aku jua lah penyebab kesengsaraan hatimu itu?

HANAFI : Betul, namun sialnya kesengsaraan demikian tidak mampu menghilangkan segala perasaanku padamu.

CORRIE : Tepat, dan itulah yang telah melahirkan kasihan dalam hatiku. Perlu kau tahu, meskipun kita tersisih dalam pergaulan, meski semua orang membelakangi kita. Sebenar-benarnya aku tidak peduli. 

HANAFI : Lantas? Mengapa kau terus mengungkit masalah sikap orang-orang luar terhadap kita?

CORRIE : Sebab perangaimu telah berkebalikan dari yang telah kau ucapkan. Kau tak peduli dengan mereka? Omong kosong. 

HANAFI : Apa maksudmu?


ADEGAN 12

PIET MUNCUL MENGUPING.


CORRIE : Ucapan dan perilaku mereka nyatanya telah menggerakkan dirimu, mengubah pandanganmu terhadapku. Sehingga setiap kali kita bertukar pikiran, kau nampak seperti orang kesetanan. Kau merasa terhimpit dari segala sisi, dari orang luar maupun dariku. Namun perlu kau ketahui bahwa apa yang telah terjadi pada diriku ini adalah sebab perangaimu yang sudah layaknya orang asing bagiku.


HANAFI TERDIAM.


CORRIE : Jika tidak lagi ada hal yang ingin kau bicarakan, aku pamit. Baiknya aku mendahului urusan perceraian ini. Sebab dari sekarang, tiada lagi sudi bagiku untuk tinggal satu atap denganmu (Corrie melepaskan cincin perkawinannya dan meletakkannya di atas meja). Aku akan meninggalkan tempat ini, selamat tinggal, tuan (meninggalkan Hanafi).


HANAFI TERDIAM, CORRIE SEGERA MASUK KE DALAM RUMAH. TAK LAMA KEMUDIAN PIET MENDEKATI HANAFI. 


ADEGAN 13

PIET : Han, ada apa ini?

HANAFI : Piet? Tidak ada apa-apa.

PIET : Apa aku datang di waktu yang kurang baik?

HANAFI : Duduklah, ada keperluan apa?

PIET : Para pegawai BB bercerita bahwa kau pulang lebih cepat karena sakit kepala. Aku hanya ingin menjengukmu. Minumlah Aspirin ini (memberikan sebuah botol berisi tablet Aspirin).

HANAFI : Terima kasih, Piet.

PIET : Dapatkah kau menceritakan padaku apa yang telah terjadi di sini han?

HANAFI : Tidak terjadi apa-apa, Piet. 

PIET : Aku mengenalmu, Hanafi. Kau sahabatku, ceritakanlah. Apa yang membuat kalian bertengkaran serupa itu?

HANAFI : Apa perlu kau mengurusi hidup orang lain, Piet?

PIET : Jadi kau menganggapku sebagai orang lain yang tidak perlu tahu menahu tentang permasalahan hidupmu, Han? Jadi apakah kau menganggap diriku sebagai orang-orang yang membelakangimu berpaling muka dari hidupmu?

HANAFI : Bukan begitu, Piet. 

PIET : Lantas?

HANAFI : Hanya saja hal ini terlalu aib untukku menceritakannya padamu.

PIET : Jika benar begitu kau belum mempercayaiku sebagaimana seorang sahabat. Padahal telah dua tahun lebih kita berkawan akrab di Betawi ini sebagai sesama pria yang jatuh hati pada wanita yang berbeda darah dan tanah kelahiran.

HANAFI : Kukatakan bahwa itu adalah kebenaran, namun sikap yang kita terima dari orang lain sungguh berkebalikan. Kau dipandang terhormat sedang aku tercela dan hina.

PIET : Betul, tapi tak terbesit sedikit pun dariku untuk menghinakanmu. Kau adalah kawanku sesama manusia yang terus hidup untuk berjuang demi cintanya. Maka ceritakanlah sahabatku, hal yang membebani hatimu itu.

HANAFI : Baiklah, apa kau mengenal Tante Lien? Wanita tua penjual perempuan yang banyak dibincangkan oleh orang-orang di Betawi itu. Hari ini aku melihatnya keluar dari rumah ini. Ternyata Corrie telah berkawan karib dengannya. Tak lama setelah itu aku menyadari bahwa dia telah memakai kerabu baru di telinganya sementara itu buku tabungannya masih berada di tasku. 

PIET : Lantas?

HANAFI : Dari manakah datangnya uang guna membeli sepasang kerabu itu, Piet?

PIET : Jadi kau mengira bahwa istrimu telah melakukan hal itu? 

HANAFI : Jelas, sudah cukup bukti-bukti itu. Dia telah berzina dengan pria lain di rumah ini.

PIET : (terhenyak) Apa kau yakin dengan pernyataanmu tadi, Han?

HANAFI : Ya, itu sudah cukup bagiku.

PIET : Tapi alangkah baiknya kau menyelidikinya kembali. Bagiku semua hal yang kau ucapkan tadi belum cukup untuk membenarkan pernyataanmu.

HANAFI : Apalagi, Piet?

PIET : Bukankah bisa saja dia membeli perhiasan itu dengan uangnya sendiri?

HANAFI : Mustahil. Buku tabungannya ada padaku.

PIET : Bagaimana dengan celengan?

HANAFI : Tak pernah kulihat satu pun celengan bertengger di sini. Maka sudah pasti perhiasan itu pemberian dari seseorang bukan?

PIET : Benarkah demikian? Benarkah kerabu itu pemberian seorang lelaki? Pada hematku Tante Lien memang berbisnis perhiasan.


HANAFI TERDIAM, PIET MENANGKAP GELAGAT YANG DITUNJUKKAN OLEH HANAFI.


PIET : Kini sampailah padaku bahwa kau salah menerka kebenaran yang sebenar-benarnya. Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan dan keputusan sehingga pertikaian semacam tadi terjadi di beranda ini.

HANAFI : Tapi semua sudah terlambat, kami akan bercerai. Corrie akan pergi dari sini.

PIET : Han? Apa kau sudah kehilangan akal dan kewarasan? Apa yang kau lakukan itu pasti akan kau sesali nantinya. Ingatkah bagaimana cara orang-orang memandangmu? Sebagai seorang pribumi yang membuang diri dan menikahi wanita kulit putih saja sudah melahirkan gunjingan semacam ilmu tenung dan sebagainya. Apalagi sekarang kau akan berpisah dengan Corrie. Mereka semua tidak akan puas dengan hanya menggunjingkan dirimu.

HANAFI : Perlukah kata-kata sekeji itu kau lontarkan pada sahabatmu sendiri, Piet? Jika benar kau sahabatku mestinya kau tak perlu menggunakan kata-kata sekeji itu.

PIET : Aku minta maaf padamu, Han. Sebagai sahabat pula aku mesti mengingatkanmu akan satu hal. Kau dulu sudah membuang diri, berpisah dengan ibu dan tanah kelahiranmu, menceraikan istri bersama anakmu sendiri. Sebagai gantinya kau dapatkan Corrie sebagai cinta sejatimu, sebagai istrimu. Meskipun semua orang pada akhirnya mencerca di belakangmu. Lalu hanya karena sedikit kesalahanpaham kau putuskan pernikahanmu itu. Sadarkah kau bahwa apabila itu benar terjadi kau tidak akan memiliki apapun lagi di dalam kehidupan ini?


ADEGAN 14

CORRIE MUNCUL, MEMBAWA KOPER.


CORRIE : (kepada Piet) Piet, ada perlu kau di sini?

PIET : Cor, Hanafi telah menceritakan masalah yang terjadi. Apakah kau yakin hendak pergi dari rumah ini?

CORRIE : Maaf, Piet. Jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu kembali di lain waktu.

HANAFI : Hentikan langkahmu, Cor!

CORRIE : Selamat tinggal, Han.


CORRIE TIDAK MENGINDAHKAN PERINGATAN HANAFI, LANTAS TERUS BERJALAN PERGI. NAMUN BELUM JAUH LANGKAH CORRIE, HANAFI YANG SEMPAT KE DALAM TELAH KEMBALI KE BERANDA MEMBAWA SEBUAH REVOLVER.


HANAFI : Corrie, berhenti kataku! (Melepaskan tembakan peringatan) Mundurlah perlahan.

PIET : Han, apa yang kau lakukan?

CORRIE : Kini kau ingin membunuhku?

HANAFI : Tidak, aku akan menyelidiki hal ini terlebih dahulu. Duduklah.

CORRIE : Untuk apa? Kau tadi telah mengatakannya bahwa segala bukti telah cukup bukan?

HANAFI : Diam dan turuti perkataan ku. Duduk dan tunggu di sini sampai aku selesai menyelidikinya!


ADEGAN 15

CORRIE DAN PIET DUDUK. HANAFI BERGEGAS MENINGGALKAN TEMPAT TERSEBUT. TAK LAMA KEMUDIAN MINA DATANG KETAKUTAN.


MINA : Nyonya, apa yang telah terjadi?

CORRIE : Mina, kita akan segera berpisah. Jika kau masih menghendaki untuk tetap bekerja di sini silakan saja. Namun jika tidak, ku sarankan kau segera mengundurkan diri esok atau lusa.

PIET : Kau yakin dengan keputusanmu ini, Cor?

CORRIE : Maafkan aku, Piet. Aku tahu kau peduli dengan kami. Tapi saat ini tak ada satu pun di dunia ini yang dapat menghentikan langkahku lagi.

MINA : Baiklah nyonya, tapi nyonya hendak ke mana?

CORRIE : Aku pun tidak tahu, jika saja aku sudah mendapatkan tempat kita akan segera bertemu. Bukan sebagai Nyonya dan Budak. Melainkan secara seorang sahabat yang karib.

MINA : Nyonya...

CORRIE : Tolong bantu aku, Mina. Ambilkan kertas dan pena!


MINA BERGEGAS MENGAMBIL KERTAS DAN PENA DI DALAM RUMAH. CORRIE MENULISKAN SURAT UNTUK HANAFI. SURAT ITU TELAH SELESAI DAN DILETAKAN DI ATAS MEJA BERTUMPUKAN DENGAN CINCIN KAWIN YANG TADI SUDAH DILEPASKANNYA.


CORRIE : Mina, semoga kau selalu dalam keadaan sehat. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali.

MINA : Berhati-hatilah, nyonya. Semoga inilah jalan yang terbaik sehingga nyonya dapat menemukan kebahagiaan.

CORRIE : (Kepada Piet) Terima kasih untuk bantuanmu selama ini, Piet. Semoga kelak kita akan bertemu lagi.

PIET : Jagalah dirimu baik-baik, Cor.

CORRIE : Selamat tinggal. (Corrie bergegas tapi berhenti sejenak memandang pepohonan) Joan, terima kasih. Semoga kita bertemu lagi.


CORRIE BERANJAK DIIRINGI TANGIS MINA. LAMPU MEREDUP MENGGELAP. DALAM KESUNYIAN MASIH TERDENGAR SUARA TANGIS MINA.


ADEGAN 16

HANAFI TERGOPOH-GOPOH, DATANG DAN LALU SEGERA MEMANGGIL CORRIE. PIET BERUPAYA UNTUK MENENANGKAN HANAFI. TAPI HANAFI TERUS BERKELILING RUMAH DAN TAK MENDAPATI KEBERADAAN CORRIE. WAJAHNYA YANG NAMPAK MARAH TADI TELAH BERUBAH SEMACAM ORANG YANG SANGAT KETAKUTAN.


PIET : Tenangkanlah dirinu Hanafi!

HANAFI : Piet, di mana Corrie?

PIET : Maafkan aku, Han...

MINA : (Muncul) Tuan.

HANAFI : Di mana Corrie?

MINA : (terdiam)

HANAFI : Jawablah Mina!

MINA : Saya tidak tahu, tuan. Tapi... (Mina memandang surat di atas meja)

HANAFI : Surat? Ini tulisan tangan Corrie.


HANAFI SEGERA MEMBACA ISI SURAT TERSEBUT. TERDENGAR SUARA CORRIE MEMBACA ISI SURAT TERSEBUT DIIRINGI DENGAN SUARA MUSIK YANG MEMILUKAN. MINA KEMBALI KE DALAM.


(V.O: CORRIE)

Han,

Sama-samalah kita menerima hukuman atas tersesatnya jalan kita, dan durhakanya kita kepada orang tua, karena tidak menurut nasihatnya. Meskipun apa yang sudah terjadi dan akan terjadi, jangan kau harap-harapkan lagi bahwa kita akan hidup bersama lagi. Tidak, perasaan dan tabiat kita sudah bagaikan bumi dan langit. Sekali-kali aku tak suka kau mendatangi tempatku.

Sekarang kita bercerai, untuk seumur hidup. Jika engkau berasa perlu akan membawanya ke pengadilan, kau usahakanlah. Bagiku tidak menjadi masalah, karena aku tak sudi menjadi isterimu lagi, kau bukan suamiku lagi.

Dari padaku,

Corrie du Busse.


HANAFI BERLINANGAN AIR MATA, TANGISNYA TAK DAPAT DIBENDUNG. TERDENGAR SUARA-SUARA DARI LUAR PANGGUNG YANG BERASAL DARI INGATAN HANAFI. SEMUA CERCAAN, MAKIAN, HINGGA GUNJINGAN BERCAMPUR DENGAN SUASANA PANGGUNG YANG SAYUP DAN MEMERAH.


HANAFI : Maafkan aku, Corrie. Maafkan aku. Satu-satunya bahagia yang ku miliki telah pergi, akibat kesombongan dan kebodohanku sendiri.


HANAFI MENGGILA, BEGITU PEKAT PIKIRANNYA SEHINGGA DIA BERMAIN-MAIN DENGAN REVOLVER DI TANGANNYA SEDANGKAN SATU TANGAN LAGI MEMEGANG SEBOTOL ASPIRIN. DIA TERSENYUM TERTAWA TAPI MENANGIS. BLACKOUT.


TAMAT


(Diadaptasi dari novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, 31 Juli 2021)


Kamis 14 Oktober 2021
26
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Septio Eros Tian

Erostians

Keju, Kopi, Puisi

Tuliskan tanggapanmu tentang Hulu Tak Berhilir

Baca karya Septio lainnya

Hulu Tak Berhilir

Naskah Drama oleh Septio Eros Tian

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah