

Di atas tanah yang subur dan kaya
Kami melihat benih yang mulai layu
Di tangan yang seharusnya memegang pena
Kini tergenggam hal yang membutakan mata
Oh, generasi yang seharusnya bersinar
Mengapa langkahmu terasa begitu berat?
Terbuai mimpi yang tak nyata
Terhanyut arus yang tak berpihak pada cita
Akalmu dikaburkan, hatimu didustakan
Nilai luhur perlahan mulai hilang
Yang tersisa hanya hampa dan keluh kesah
Membiarkan masa depan tergenggam dalam debu
Apakah ini takdir yang harus terjadi?
Bahwa penerus bangsa perlahan runtuh dan mati?
Tidak... seruan ini hanyalah isak tangis
Agar sadar, sebelum semuanya benar-benar abis
Bangkitlah... sebelum terlambat
Kembalikan cahaya yang sempat padam
Jangan biarkan nama bangsa ini
Hanya tinggal cerita di balik tembok yang hancur.

