

Saya mengenal Sapardi Djoko Damono dan Chairil di usia 18 tahun. Kehidupan waktu itu mungkin terasa jauh bagi seorang remaja tumbuh di kota kecil yang sedikit berjarak dari Ibu Kota. Kemudian yang tanpa di sengaja, saya menyaksikan video musikalisasi puisi Hujan di Bulan Juni milik Sapardi yang dibawakan oleh Ari dan Reda, saya jatuh cinta. Bukan kepada Sapardi atau Chairil. Melainkan kepada sastra, terlebih puisi.
Karena mereka berdua, saya menyukai puisi. Sebagai seseorang yang sulit untuk mengungkapkan isi hati, puisi kemudian menjadi wadah bercerita. Masa SMK, masa pencarian jati diri, saya pun menuangkan semua isi hati dan pikiran ke dalam puisi di catatan harian.
Bahasa Indonesia menjadi pelajaran paling favorit. Saya mulai terpapar kepada sastrawan besar, terutama Angkatan Balai Pustaka, karena buku-buku di era itu bisa didapatkan di rumah (milik seorang kakak). Tentu saja, sebagai orang yang terlahir di tanah Sunda, ada banyak sastrawan yang menginspirasi terkhusus Haji Hasan Mustapa 1930 M, sosok yang melanglang buana dalam dunia ke-penyairan.
Teman-teman juga sumber inspirasi. Ada masanya saya menulis puisi kemudian di tempel di dinding kamar. Jangan harap ada halaman kosong di buku catatan, karena halaman kosong adalah tempat yang tepat untuk menulis puisi.
Dulu, salah satu tren adalah mengoleksi kertas binder. Itu wadah yang pas untuk menulis puisi. Kayaknya ada dua bundel binder berisi puisi yang sekarang hilang entah ke mana perginya....
Pada akhirnya, saya menemukan cinta baru dalam bentuk cerpen dan novel. Tulisan panjang ini menjadi wadah baru untuk meluapkan segala bentuk imajinasi.
Meski begitu, tidak ada yang mengalahkan Chairil kepada puisi. Jika cerpen dan novel adalah sarana mewujudkan imajinasi, maka puisi adalah tempat untuk meluapkan isi hati dan pikiran.
Ketika akhirnya saya sekarang jatuh cinta kepada menulis, salah satu pemantiknya adalah Sapardi dan Chairil itu sendiri, yang menumbuhkan cinta kepada sastra.
Dalam perjalanan waktu, saya sempat jauh dari sastra. Kemudian, tepatnya tanggal lima September kemarin akhirnya kembali ke Taman Ismail Marzuki, tempat nongkrong sewaktu kuliah; hal yang wajib dikunjungi "Galeri buku bengkel deklamasi", mata saya terfokus pada poster Chairil yang terpampang di pintu kaca bertuliskan "Sekali berarti, sudah itu mati" sembari menggenggam buku "Entrok" dari Okky Madasari, saya seperti dilempar ke masa lalu. Rasanya seperti bertemu cinta pertama. Bukan kepada Chairil, melainkan sastra. Terlebih puisi. Kali terakhir menulis puisi sepertinya setahun lalu, sudah lama sekali.
Sapardi dan Chairil menyadarkan kembali, ada puisi jika kita susah untuk mengutarakan apa yang membebani hati dan pikiran. Mari mengangkat pena dan menemukan kembali cinta dalam puisi dan sastra.

