

Relakanlah, benakku.
emosi itu tidak menggebu lagi
tidak meraung lagi seperti kemarin
aku melihat hal yang menyakitkan lagi
tapi reaksiku ternyata hanya diam
menatap kosong, hanya ada hembusan nafas
yang sangat dalam, tanda kekecewaan.
Tidak ada emosi, tidak ada dorongan secara implisit, untuk menghubungi, mengungkap kekecewaan, mengirim long text yang panjang.
sel emosiku bahkan sudah tidak bereaksi,
ini penerimaan atau terbiasa karena sudah disayat ratusan kali ?
apapun itu, mungkin memang sudah jalannya
untuk direlakan
Hal-hal bodoh yang aku lakukan kemarin
mulai aku terima, tak apa. Memang Salahku.
Aku yang merayunya dan jatuh dalam pelukannya
logikaku tak berjalan sama sekali
hanya tubuh yang tunduk akan perasaan
membiarkan semua mengalir,
karena beranggapan itu adalah akhir dari perjalanan
ternyata perkiraanku salah.
tapi toh begitu, bukan salahnya kan?
betul, ini salahku. Karena hanya aku yang menganggap demikian.

