

Beberapa orang terjebak di masa lalu
Tak bisa melangkahkan kakinya
Tenggelam dalam kenangan dan perasaan di masa lampau
Beberapa orang lainnya memilih untuk melihat ke depan
Berhenti menoleh ke belakang dan melanjutkan hidup
Bukan pilihan yang mudah tentunya
Apapun pilihannya ada harga yang harus dibayar
Lalu apa jadinya jika kita bersama seseorang yang terjebak di masa lalu?
Sementara kita sedang menyusun masa depan.
Bagai berjalan bersama orang yang terbelenggu rantai di kakinya
Bisa berjalan, tapi jalannya lambat, kadang menyakitkan, kadang justru ada rasa sakit melihatnya seolah menyeret orang dengan paksa, bukan berjalan bersamanya
Siapa yang menang?
Untuk orang yang menghadapi seseorang yang terjebak di masa lalunya
Siapa yang menang?
Kehidupan masa kini atau perasaan tertinggal di masa lampau
Siapapun itu, diksi masa lalu selalu mendapat tempat khusus
Masa lalu selalu mendapat doa dan harapan, barangkali hal itu muncul atas rasa bersalahnya di masa lalu
Masa lalu selalu mendapat ranah spesial seolah olah hal yang perlu dikenang, dan seolah olah berdosa ketika kita melupakan kenangan itu
Masa lalu selalu diidentikan dengan romantisasi, karena hal itu berlalu, tidak bisa lagi didapatkan, ada harapan yang pupus, ada tujuan yang hilang, maka yang bisa orang lakukan hanya mengenang dan meromantisasi tidak ada pilihan lain.
Tapi terkadang, orang hanya fokus meromantisasi masa lalu atas perasaan gagal dan kehilangan di masa lampaunya. Tapi lupa, untuk meromantisasi orang yang bersamanya.
Mungkin karena ada perasaan tenang di hatinya, bahwa ia merasa tidak akan kehilangan orang yang bersamanya.
Jadi... doa, harapan, maupun romantisasi yang mendalam ia curahkan kepada seseorang di masa lampau sekali lagi atas perasaan kehilangannya dimasa lampau.
Kalau begitu pada akhirnya siapa yang menang?
Untuk orang yang terjebak di masa lalu, mungkin kita akan lebih bermakna dan terkenang jika menjadi masa lalu pula.

