

Tidak perlu meminta kembali
walau itu hanya sebesit keinginan
tidak perlu menginginkan "kita" lagi
karena tidak akan ada kata "kita" lagi.
bicaramu yang memiliki harapan untuk bertemu kembali juga pernah kamu lontarkan di timeline yang sama tahun lalu.
bahkan jejaknya pun masih tersusun di tulisanmu
Ingatkah kamu yang masih menaruh harap kepada kita
Ingatkah kamu yang berkali-kali menemuiku walau tidak punya petunjuk yang jelas dimana aku berada
Ingatkah ketika kamu menemuiku bahkan ketika kamu tahu ada pemiliknya
Perasaanku lebih besar daripada logikaku kala itu
berharap engkau bisa berubah, menjalin hubungan sebagaimana hubungan normal yang bahkan sederhana saja
Harapanku salah tapi dugaanku benar,
jauh sebelum semuanya terjadi aku sudah menduga akan seperti ini,
tapi harapan tak mengenal dugaan, ia terus tumbuh seraya memohon untuk dikabulkan
Simpanlah kerinduan dan kenangan itu, aku bahkan tidak tau wanita mana yang akan kamu kenang esok malamnya.
memuat tulisan kerinduan di malam hari, sembari menghilangkan dan membersihkan aku dari jejak digitalmu, lucu sekali.
menyampaikan perasaan rindu pada langit, sembari menjalin kembali tanda-tanda hubungan publik dengannya, mengikuti akunnya atau bermain catur bersama.
sudahilah, aku sudah mengikhlaskanmu,
aku sudah memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan, aku sudah berusaha menjadi pasangan yang mengerti lelakinya bahkan dikondisi sulit, tak pernah menuntut apapun, tak pernah mendesak keadannya, selalu mendukungnya, membantu sebisaku, menerimanya dan mencintainya walau kepercayaan dan perasaan dikhianati.
aku rasa itu sudah cukup membuktikan, dan pada akhirnya dia juga bisa melihat dan merasakan hingga menyadari apa yang sudah hilang dari hidupnya.
aku sudah banyak melanggar batasanku, aku sudah memberi kesempatan berkali-kali, dan kita sudah tau hasilnya,
Dibanding membaca buku yang sudah kita tahu akhirnya aku rasa aku punya luang untuk membaca buku yang baru.

