Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
PUISI

Sembahyang di belakang Sutardji

Oleh ImamBudiman
sutardji selaku imam waktu itu melebur niat seusai membaca sajak yang belum seutuhnya selesai. ia sempat naik pitam, melempar micropon, sebab dihentikan sepihak oleh pemandu acara.

"harmonikaku merajuk. aku sudah merasuk penuh ke dalam jasad puisi, saat hampir mencapai klimaks, kau seenaknya mencegahku untuk berhenti."

kemudian ia keluar ruangan. langkahnya pendek, satu-satu, buang air kecil berdiri, lalu mengambil air wudhu setelahnya.

suaranya nyaris lirih di maghrib itu, berpindah antar ayat ke ayat, tak sebernyali seraknya antar larik ke larik dalam pembacaan sajak. mengiba-iba rupanya ia kepada tuhan. meraba-raba ternyata ia menjamah tuhan. habis napasnya, tersengal helanya, di ujung fatihah.

sutardji berdoa: kaukaukau. jadikan aku kata-kata, tuhan, jadikan aku lepas dari makna. kaukaukau. tercerai dari tafsiran. pecah dari aturan. jadikan aku pramusaji kata di meja makanmu. kaukaukau.

sejarak papan catur di belakang, aku ikut haru bermasyuk, mengaminkan doa-doa masa tuanya.

Ciputat, 2017
Kamis 01 Maret 2018
288
1 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Imam Budiman

ImamBudiman

Pembaca. Menulis Puisi Sesekali.

Tuliskan tanggapanmu tentang Sembahyang di belakang Sutardji

Baca karya Imam lainnya

Sembahyang di belakang Sutardji

Puisi oleh Imam Budiman

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah