Temaram Lampu Kota
Cerpen
Kutipan Cerpen Temaram Lampu Kota
Karya Intanabila
Baca selengkapnya di Penakota.id

Ketika awal pembuatan alat penerang diciptakan, di sana terciptalah rangkaian semu dan wacana dalam diri para insan puitis. Hanya ketika sepasang bola mata redup menatap sebuah lampu yang menyala, berpendar dalam gelap.


Seseorang pernah berkata manusia itu, kau tidak akan pernah memahami konsep terang jika kau tidak mengerti tentang konsep gelap, dan sebaliknya. Itu benar terjadi, mungkin saja di dunia ini ada satu tempat yang tidak pernah bertemu dengan titik paling gelap yang dimiliki oleh semesta.


Naluriku berbisik, sepertinya para manusia yang hidup di suatu tempat itu tidak pernah memahami konsep gelap karena mereka terus menyaksikan pemandangan langit yang terang. Hari-hari mereka yang penuh dengan sisi terang, tak ada kegelapan sama sekali. Aku menyebutnya, kota dengan segala kebahagiaanya.


Ya! Terang adalah kebahagiaan, dan gelap adalah kesengsaraan. Aku menyimpulkannya, tepat di bawah siraman lampu temaram kota ini, aku berpikir dengan sangat keras dan menetapkannya di kepalaku. Jika aku berada di antara gelap dan terang, maka hidupku akan seimbang. Benar, kan?


Tentu saja benar, kenapa tidak? Jika hidup seseorang hanya dipenuhi dengan kebahagiaan, aku yakin sekali setiap harinya ia mengalami hari-hari yang penuh dengan kebisingan. Riuh ricuh orang-orang sekitarnya, tidak ada ketenangan, dan hanya ada kesenangan-kesenangan yang diciptakan bersama orang-orang ramai.


Sementara, seseorang yang hidupnya dipenuhi dengan kegelapan, waduh kasian sekali. Nelangsa, kesepian, hidup bagai tak hidup. Begitulah hidup seseorang yang dipenuhi dengan kegelapan, dan memungkinkan seseorang itu untuk depresi, juga mengalami gangguan kejiwaan, atau kematian? Ya, semua kemungkinan itu bisa terjadi cepat atau lambat.


Jika sisi terang dan sisi gelap saling beradu, seperti diriku yang berada di antara gelap dan terang sekarang ini. Maka, hidup seseorang akan seimbang. Sisi terang akan membawakan kebahagiaan kepada manusia, dan sisi gelap akan membawakan kesialan, kesengsaraan, dan nelangsa untuk memberikan manusia itu sebuah pelajaran baru untuk menjemput kebahagiaan selanjutnya.


Hei kawan, apa yang aku katakan bisa saja salah, bukan? Ya, karena aku hanyalah manusia biasa, bukan Tuhan yang dapat mengatur segalanya. Namun, pemikiran yang tiba-tiba terlintas di otak setengah berfungsi ini benar-benar logis!


Bahkan, aku tidak sadar bahwa diriku bisa berpikir kritis seperti ini ketika hanya melihat sisi gelap dan terang yang sedang berada di hadapanku. Sisi temaram lampu kota itu begitu suka menghujaniku dengan cahayanya, sementara sisi kegelapan yang mengitariku terasa amat mencekam dan penuh nelangsa yang barangkali akan kupijak dan kulewati untuk sampai di lampu temaram kota selanjutnya.


-Tamat-



18 Apr 2023 19:15
54
Kota Samarinda, Kalimantan Timur
2 menyukai karya ini
Baca bab lainnya
Penulis Menyukai karya ini
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh: