

Kau tahu? tujuh belas detik itu masih tertinggal
di mataku tak pergi, tak pudar.
Tatapanmu menjadi waktu yang tak selesai,
menggantung di antara aku dan rindu.
Seribu tahun kau mencintai, katamu, tapi aku,
barangkali hanya penunggu di tepi abad,
mengumpulkan serpihan bayangmu yang
tertiup jarak dan hari-hari bisu.
Suaramu masih bergaung, bahkan setelah
senja menutup jendela kota.
Dan setiap napas yang kau sisipkan
di udara selalu jatuh ke dadaku,
seperti hujan yang tahu di mana harus kembali.
Kita pernah berjalan di jalan yang sama,
tapi langkahmu lebih cepat dari rinduku.
Aku menatap punggungmu menjauh,
dan diam-diam menulis doa di setiap bekas jejakmu.
Kini, aku mencari di tiap sudut bumi di tepian danau yang kau suka,
di puisi yang tak sengaja menulis namamu,
di hujan dini hari yang membawa suaramu kembali samar.
Dan bila kutatap langit, aku tahu,
semesta mungkin memang tak lagi cukup luas, karena rasa ini...
terlalu penuh oleh kehilanganmu.

