

Karya : Pulo Lasman Simanjuntak
TUNTAS
duka siapa mau menyergap di rimba kamarmu yang purba- tak pernah berkelamin dengan matahari pagi
hanya sepotong roti tua disuguhkan pria perkasa bersenjatakan roh ketakutan digelar di meja judi tertangkap angin jahat pada tiap dinihari
kini kita saling menjaga jarak- ruang dan waktu tak pernah lagi saling bertemu kadang kita masih rindu menulis berita tentang kapal digital, samudera raya, dan air laut yang merembes sampai ke penjara di benua orang-orang mabuk kekayaan
sekarang tersisa hanya doa berdarah saudara- bersaudara sejam masa kanak-kanak
rasa sesal mengapa dulu kita tak lagi rajin berenang di sungai membusuk depan rumah
atau menghitung sejumlah perkawinan retak mulai dari pewarta muda, pujangga teler sampai perwira mualim yang sempat terjebak mengurai kesepian di rumah bordil
Jakarta, Jumat 15 Juli 2022
IBADAH TANAH MERAH
dimulai dari kecemasan yang terus membara kuhitung waktu di bawah matahari semua sia-sia kekayaan di bumi sodom dan gomora
diperlihatkan jelang pagi iring-iringan menembus paru-paru kota kawan di sebelahku tak lagi pandai bercerita
tiba di sini tak ada lagi tangisan makin gemuk kugali lobang beton tergesa-gesa
nyaris membentuk sebuah koor kematian dan penderitaan
Jakarta, Minggu 17 Juli 2022
MENULIS PUISI TANPA MEZBAH PAGI
menulisi puisi tanpa mezbah pagi
bersama permaisuri mati suri
larik puisi ini ternyata masih membutuhkan seribu ton beras impor
yang tersimpan dalam kompor
menulis puisi tanpa mezbah pagi
bersama perkawinan kurus kering kerontang
bait puisi ini ternyata masih membutuhkan tiupan daun-daun migas
tersembur liar dari cuaca makin panas
lalu kemanakah penyair usia senja ini mau bercerita
gadai gitar yang bisa bernyanyi rock n roll dengan perut lapar
pinjaman oline yang bertebaran dalam
paru-parunya yang lumpuh setengah badan
ataukah kupilih terus menulis puisi
tanpa matahari risih
tanpa sungai mati
tanpa laut berombak kisruh
tanpa kuburan
dengan kain kafan kejang-kejang
masihkah iman ini kuat
ditusuk bertubi-tubi
dengan jutaan jarum kebenaran
Jakarta, Senin 22 Agustus 2022
MATI SURI
obrolan petang ini telah jadi
kesaksian pendek
mengapa matahari kian kurus kering
langit biru melahirkan tulang belulang ditiup angin kemarau kehabisan nafas alam semesta
“aku butuh dokter kulit untuk suntikkan vitamin dosis liar
sebab sindirin ini telah membuat mimpiku semakin jauh dari rumah tanpa suara paranabi ,” katamu seraya malas menyantap makanan najis di atas meja makan
sudahlah, kataku
mari kita bersetubuh di ranjang kolam ikan itu
agar tubuhmu makin gemuk
serta dapat membuang pikiran-pikiran yang membatu
jangan lagi taruh pisau tajam
di ujung bibirmu yang kian menyusut karena dilindas penyakit katarak menahun
atau kecelakaan lalu lintas
di trotoar yang menjual angan-angan patah hati
Jakarta, 30 Agustus 2022
TANAH PAPUA KETAKUTANKU TERBUNGKUS LIMA ABAD
perjalanan dimulai
dari sebuah bandara
kota hiruk pikuk
terbanglah rajawali
dengan mata memerah
menembus malamhari
tengoklah,
perempuan-perempuan jelita
tak pernah terlelap
setelah bersatu
dengan terbitnya matahari pagi
di wilayah paling timur nusantara
mulailah cerita
bertemu dengan keasingan
di negeri sendiri
oi, selamat datang
di hutan tanah papua
tanahku yang menghijau
dengan siraman air dingin danau sentani
pucatlah mukaku
dihiasi rambut ikal
sepanjang belum menyentuh kota jayapura
tiba di lembah baliem wamena
tanpa penghuni
sunyi
mari kita beribadah sehari saja
berdoa di gereja kota
berdinding bambu putih
tak terdengar nyanyian pujian
atau rebana ditabuh
maka kami pun masuk sebuah hotel
tanpa air jernih dan lampu-lampu
yang dapat menyala di hati kami masing-masing
perjalanan dilanjutkan menerobos gunung
bukit yang meliuk-liuk
mayat-mayat yang diawetkan
berkoteka
kita lanjutkan perjalanan
mencemaskan
sebab bisa saja suatu ketika
sebutir peluru ditaruh di pembuluh jantung kita
yang tak pernah merdeka
sejak masa kanak-kanak hanya satu impian;
tanah negeriku tetap berair dan pucuk-pucuk pohon menghijau berkilap dilapisi emas tua
oi, tanah papua
Jayapura-Wamena, 27 Desember-31 Desember 2015
GULA DARAH DALAM PUISI
gula darah dalam puisi ini
seperti menjelma
jadi roh ketakutan
mematikan saraf mata
saat berjalan
mengejar matahari sorehari
yang mau bersentuhan
dengan air hujan
pada hari perhentian
tanpa puasa
gula darah dalam puisi ini
menjelma lagi jadi amarah
"kalian harus gerak badan sambil terus menulis puisi dan berita hutang negara harus dibayar dengan pembangunan jalan tol, kereta api cepat, jembatan gantung, bendungan, gedung pencakar langit, sampai impor beras lima ratus ton," pesan lelaki berjas merah seraya mengunyah alat ukur tensi darah
maka sebagai pujangga yang telah melanggar
hukum-hukum kesehatan
aku jadi mengerti
gula darah dalam puisi ini
sungguh beracun
sangat mematikan
harus segera diakhiri
tanpa ada perlawanan brutal
sampai nantinya bait-bait puisinya
kembali normal
bersekutu dengan nyanyian kemenangan
Jakarta, Selasa, 3 Januari 2023
MENU MAKANAN HARI INI
menu makanan hari ini-
tak lagi memesan makanan
berlemak aku benci
kolestrol aku sunyi
karbohidrat aku bersahabat
protein aku bersatu
vitamin aku kunyah
menu makanan hari ini -
tak lagi memesan makanan
gula tinggi aku seperti beelzebul
garam asin aku seperti legion
kadar lemak aku seperti dewa molokh
maka,
menu makanan hari ini-
akan berjalan kaki seribu langkah
sampai tiba di perut matahari
membuang limbah racun
paling mematikan
memasak dengan menu vegan
Jakarta, Rabu, 4 Januari 2023
PERSETUBUHAN TERAKHIR
sebelum pensyair mau mendaki
ke pesta kesenian senjahari
sering diwarnai dengan perkelahian
tanpa tetesan darah penghabisan
karena pisau belati belum ditancapkan
siapa mau naik ke ranjang kebekuan
sodomi terbalik
sebagai pentas persetubuhan terakhir
ayo,
kita minum cawan sperma
kemandulan
sambil memeluk tulang-tulang purbakala
dengan kemesraan yang kian kurus
tak ada tangisan
lepas bebas
di dalam rumah sarang hantu ini
kita sering ketakutan
tak boleh ada napsu birahi
hanya mengunyah butiran-butiran asupan vitamin jadi racun kehidupan
makanan rohani sehari-hari
jadi meditasi utang piutang
terbukti sudah-
kantong kemelaratan telah menjadi milik
kita
pesakitan berkepanjangan
nyanyian orang-orang bertaburan
kemiskinan sampai menusuk
ke ranjang yang mampu bergoyang
sampai kita tiba
di tepi kuburan massal
tak ada lagi jalan beraspal
Jakarta, Senin 7 November 2022
SANTET
mulut lelaki persungutan
datang diam-diam
dari seberang pulau tikus
selalu tawarkan tipuan
pada malam mengerikan
di kuburan samping hunian
tubuhnya dari pohon karet
kadang mengeluarkan darah segar
rajin bercumbu
dengan binatang primata
tidur pun tanpa mantera
sekarang nyawanya
sedang sakit keras
sekeras keluhan malasnya
ditusuk bertubi-tubi
jarum tajam para dukun
jampi-jampi kematian
tak mempan lagi
oleh suntikan kesepian
di atas ranjangnya
bersatu dengan akar bumi
ia bahkan suka onani
dengan ribuan kutuk busuk
yang membusuk
sampai dinihari
masih menari-nari
seperti memanggil para arwah
suara senyap
dewa-dewa bermeterai liar
"aku harus datang kepada pawang mpok ida berkuku panjang, minta maaf sambil membawa sekeranjang penyesalan kenapa rumah doa dijual jadi hunian baal perzinahan dan mabuk minuman keras," serunya masih menunggu bantuan dari benua sodom dan gomora
Jakarta, Kamis 5 Januari 2023

