oranment
play icon
SEMBILAN PUISI PILIHAN
Puisi
karya @Lasman
Kutipan Puisi SEMBILAN PUISI PILIHAN
Karya Lasman
Baca selengkapnya di Penakota.id

Karya : Pulo Lasman Simanjuntak


TUNTAS


duka siapa mau menyergap di rimba kamarmu yang purba- tak pernah berkelamin dengan matahari pagi


hanya sepotong roti tua disuguhkan pria perkasa bersenjatakan roh ketakutan digelar di meja judi tertangkap angin jahat pada tiap dinihari


kini kita saling menjaga jarak- ruang dan waktu tak pernah lagi saling bertemu kadang kita masih rindu menulis berita tentang kapal digital, samudera raya, dan air laut yang merembes sampai ke penjara di benua orang-orang mabuk kekayaan


sekarang tersisa hanya doa berdarah saudara- bersaudara sejam masa kanak-kanak


rasa sesal mengapa dulu kita tak lagi rajin berenang di sungai membusuk depan rumah


atau menghitung sejumlah perkawinan retak mulai dari pewarta muda, pujangga teler sampai perwira mualim yang sempat terjebak mengurai kesepian di rumah bordil


Jakarta, Jumat 15 Juli 2022


IBADAH TANAH MERAH


dimulai dari kecemasan yang terus membara kuhitung waktu di bawah matahari semua sia-sia kekayaan di bumi sodom dan gomora


diperlihatkan jelang pagi iring-iringan menembus paru-paru kota kawan di sebelahku tak lagi pandai bercerita


tiba di sini tak ada lagi tangisan makin gemuk kugali lobang beton tergesa-gesa


nyaris membentuk sebuah koor kematian dan penderitaan


Jakarta, Minggu 17 Juli 2022


MENULIS PUISI TANPA MEZBAH PAGI


menulisi puisi tanpa mezbah pagi

bersama permaisuri mati suri

larik puisi ini ternyata masih membutuhkan seribu ton beras impor

yang tersimpan dalam kompor


menulis puisi tanpa mezbah pagi

bersama perkawinan kurus kering kerontang

bait puisi ini ternyata masih membutuhkan tiupan daun-daun migas

tersembur liar dari cuaca makin panas


lalu kemanakah penyair usia senja ini mau bercerita

gadai gitar yang bisa bernyanyi rock n roll dengan perut lapar

pinjaman oline yang bertebaran dalam

paru-parunya yang lumpuh setengah badan


ataukah kupilih terus menulis puisi

tanpa matahari risih

tanpa sungai mati

tanpa laut berombak kisruh

tanpa kuburan

dengan kain kafan kejang-kejang


masihkah iman ini kuat

ditusuk bertubi-tubi

dengan jutaan jarum kebenaran


Jakarta, Senin 22 Agustus 2022


MATI SURI


obrolan petang ini telah jadi

kesaksian pendek

mengapa matahari kian kurus kering

langit biru melahirkan tulang belulang ditiup angin kemarau kehabisan nafas alam semesta


“aku butuh dokter kulit untuk suntikkan vitamin dosis liar

sebab sindirin ini telah membuat mimpiku semakin jauh dari rumah tanpa suara paranabi ,” katamu seraya malas menyantap makanan najis di atas meja makan


sudahlah, kataku

mari kita bersetubuh di ranjang kolam ikan itu

agar tubuhmu makin gemuk

serta dapat membuang pikiran-pikiran yang membatu


jangan lagi taruh pisau tajam

di ujung bibirmu yang kian menyusut karena dilindas penyakit katarak menahun

atau kecelakaan lalu lintas

di trotoar yang menjual angan-angan patah hati


Jakarta, 30 Agustus 2022


TANAH PAPUA KETAKUTANKU TERBUNGKUS LIMA ABAD


perjalanan dimulai

dari sebuah bandara

kota hiruk pikuk


terbanglah rajawali

dengan mata memerah

menembus malamhari


tengoklah,

perempuan-perempuan jelita

tak pernah terlelap


setelah bersatu

dengan terbitnya matahari pagi

di wilayah paling timur nusantara

mulailah cerita

bertemu dengan keasingan

di negeri sendiri


oi, selamat datang

di hutan tanah papua

tanahku yang menghijau

dengan siraman air dingin danau sentani


pucatlah mukaku

dihiasi rambut ikal

sepanjang belum menyentuh kota jayapura


tiba di lembah baliem wamena

tanpa penghuni

sunyi


mari kita beribadah sehari saja

berdoa di gereja kota

berdinding bambu putih

tak terdengar nyanyian pujian

atau rebana ditabuh


maka kami pun masuk sebuah hotel

tanpa air jernih dan lampu-lampu

yang dapat menyala di hati kami masing-masing


perjalanan dilanjutkan menerobos gunung

bukit yang meliuk-liuk

mayat-mayat yang diawetkan

berkoteka


kita lanjutkan perjalanan

mencemaskan

sebab bisa saja suatu ketika

sebutir peluru ditaruh di pembuluh jantung kita

yang tak pernah merdeka

sejak masa kanak-kanak hanya satu impian;

tanah negeriku tetap berair dan pucuk-pucuk pohon menghijau berkilap dilapisi emas tua


oi, tanah papua


Jayapura-Wamena, 27 Desember-31 Desember 2015


GULA DARAH DALAM PUISI


gula darah dalam puisi ini

seperti menjelma

jadi roh ketakutan

mematikan saraf mata

saat berjalan

mengejar matahari sorehari

yang mau bersentuhan

dengan air hujan


pada hari perhentian

tanpa puasa

gula darah dalam puisi ini

menjelma lagi jadi amarah


"kalian harus gerak badan sambil terus menulis puisi dan berita hutang negara harus dibayar dengan pembangunan jalan tol, kereta api cepat, jembatan gantung, bendungan, gedung pencakar langit, sampai impor beras lima ratus ton," pesan lelaki berjas merah seraya mengunyah alat ukur tensi darah


maka sebagai pujangga yang telah melanggar

hukum-hukum kesehatan

aku jadi mengerti

gula darah dalam puisi ini

sungguh beracun

sangat mematikan


harus segera diakhiri

tanpa ada perlawanan brutal

sampai nantinya bait-bait puisinya

kembali normal

bersekutu dengan nyanyian kemenangan


Jakarta, Selasa, 3 Januari 2023


MENU MAKANAN HARI INI


menu makanan hari ini-

tak lagi memesan makanan

berlemak aku benci

kolestrol aku sunyi

karbohidrat aku bersahabat

protein aku bersatu

vitamin aku kunyah


menu makanan hari ini -

tak lagi memesan makanan

gula tinggi aku seperti beelzebul

garam asin aku seperti legion

kadar lemak aku seperti dewa molokh


maka,

menu makanan hari ini-

akan berjalan kaki seribu langkah

sampai tiba di perut matahari

membuang limbah racun

paling mematikan

memasak dengan menu vegan


Jakarta, Rabu, 4 Januari 2023


PERSETUBUHAN TERAKHIR


sebelum pensyair mau mendaki

ke pesta kesenian senjahari

sering diwarnai dengan perkelahian

tanpa tetesan darah penghabisan

karena pisau belati belum ditancapkan


siapa mau naik ke ranjang kebekuan

sodomi terbalik

sebagai pentas persetubuhan terakhir


ayo,

kita minum cawan sperma

kemandulan

sambil memeluk tulang-tulang purbakala

dengan kemesraan yang kian kurus

tak ada tangisan

lepas bebas


di dalam rumah sarang hantu ini

kita sering ketakutan

tak boleh ada napsu birahi

hanya mengunyah butiran-butiran asupan vitamin jadi racun kehidupan


makanan rohani sehari-hari

jadi meditasi utang piutang

terbukti sudah-

kantong kemelaratan telah menjadi milik

kita

pesakitan berkepanjangan


nyanyian orang-orang bertaburan

kemiskinan sampai menusuk

ke ranjang yang mampu bergoyang

sampai kita tiba

di tepi kuburan massal

tak ada lagi jalan beraspal


Jakarta, Senin 7 November 2022


SANTET


mulut lelaki persungutan

datang diam-diam

dari seberang pulau tikus

selalu tawarkan tipuan

pada malam mengerikan

di kuburan samping hunian


tubuhnya dari pohon karet

kadang mengeluarkan darah segar

rajin bercumbu

dengan binatang primata

tidur pun tanpa mantera


sekarang nyawanya

sedang sakit keras

sekeras keluhan malasnya

ditusuk bertubi-tubi

jarum tajam para dukun

jampi-jampi kematian


tak mempan lagi

oleh suntikan kesepian

di atas ranjangnya

bersatu dengan akar bumi


ia bahkan suka onani

dengan ribuan kutuk busuk

yang membusuk

sampai dinihari

masih menari-nari

seperti memanggil para arwah

suara senyap

dewa-dewa bermeterai liar


"aku harus datang kepada pawang mpok ida berkuku panjang, minta maaf sambil membawa sekeranjang penyesalan kenapa rumah doa dijual jadi hunian baal perzinahan dan mabuk minuman keras," serunya masih menunggu bantuan dari benua sodom dan gomora


Jakarta, Kamis 5 Januari 2023

calendar
02 Jul 2023 12:00
view
30
idle liked
0 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig