Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Penendang Kelima

Oleh Luthfinisme

Babak normal telah 30 menit yang lalu berakhir. Setiap orang di lapangan ini sudah lelah, tenaga sudah menguap bersama keringat, bahkan hujan yang mengguyurpun tak lagi bisa menolong. Rasanya kami sudah ingin kembali kerumah masing-masing, menghadiahi diri dengan mandi agar keringat, daki dan lumpur bisa segera lenyap, namun hal itu belum bisa kami lakukan. Pertandingan ini belumlah usai, dan pantang bagi kami untuk pulang sebelum titik darah penghabisan.


3-3 menjadi angka terakhir yang terpampang di papan skor. Dua gol dicetak oleh timku dan tim lawan di waktu normal. Sebiji gol lantas disarangkan oleh salah satu kawanku di babak tambahan pertama. Sayang, lawan berhasil membalasnya 5 menit kemudian. Hasil tersebut mau tak mau membawa kami ke babak penentuan terakhir, adu penalti.


Di adu penalti ini tensi sama sekali tidak menurun. Masing-masing tim masih ngotot diatas lapangan. Penjaga gawangku, sebut saja namanya Kebo sudah kebobolan lebih dari lima gol sejauh ini, tiga di babak pertandingan dan sisanya di babak adu penalti. Bila di tendangan terakhir nanti ia mampu menahan bola agar tidak bersarang di jaringnya, maka asa bagi timku untuk membawa pulang piala akan tetap terjaga.


Kebo berjalan ke gawang, bersiap untuk mengadu keberuntungan pada kesempatan terakhir. Ia nampak tak begitu mujur di partai final ini. Rekor nirbobol yang ia raih sampai babak semifinal porak poranda hanya oleh seorang pemain, Si Macan. Macan adalah penyerang utama dari tim lawan yang berhasil merobek jala Kerbau tiga kali dalam beberapa menit. Trigol yang dibuat Macan jelas membangkitkan moral timnya, membuat Kebo harus memungut bola dari gawangnya kembali sebanyak empat kali.


Penendang dari tim lawan sudah mulai bersiap-siap mendekati titik putih. Rupa-rupanya si Macan lah yang akan menjadi penendang kelima. Bagai hukum rantai makanan, orang-orang yakin bahwa Kebo akan dihabisi oleh Macan. Tapi Kebo bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja, dia mengambil nafas panjang sebelum peluit ditiup, mencoba mengalahkan segala ketakutannya.


"Priiit" peluit sudah ditiup. Macan mengambil ancang-ancang tiga langkah kebelakang. Kebo berusaha membaca arah kakinya. "KIRI" ucap Kebo di dalam hati. Ia lantas melompat ke kiri. Tendangan keras Macan mengenai bola sedetik kemudian, membuat bola meluncur deras. Sesuai perkiraan Kebo, bola itu mengarah ke sisi kiri gawang yang ia jaga. Tangan Kebo berhasil menggapai bola, membuat arahnya berbelok keatas dan melampaui mistar gawang.


Tim kami bersorak sorai. Berkat kejelian dan ketenangan Kebo akhirnya timku mampu memperbesar keunggulan. Namun kami belum bisa bernafas lega, tendangan terakhir inilah yang akan menentukan kemenangan. Wasit kembali memanggil penjaga gawang dari tim lawan. Tak lama setelahnya, ia memanggil penendang dari timku , dan diriku sendirilah yang ia panggil. Kawan-kawan menepuk pundakku, memberikan semangat. Tendangan kelima ini menjadi tendangan hidup dan mati. Bila aku berhasil membobol gawang lawan maka timku akan membawa pulang piala ini, sebuah piala yang sudah begitu lama hengkang dari etalase tim kami.


Aku jelas tak sehebat Macan, walaupun kami sama-sama penyerang namun levelku berada jauh di bawahnya. Ia hampir selalu mencetak gol dan bermain penuh waktu di kompetisi ini, sedangkan aku tidak selalu mencetak gol. Menit bermainku pun tak sebanyak Macan, bahkan di pertandingan puncak ini aku baru dimainkan pada menit ke 70. Tetapi dewi fortuna nampaknya sedang menyayangi kakiku. siapa sangka aku justru berhasil mencetak sebiji gol pada menit-menit terakhir babak kedua. Kini, beban paling berat berada di pundakku. Kemenangan dan kekalahan benar-benar bergantung dari hasil tendanganku.


Kiper lawan mengambil kuda-kuda. "Priiit" peluit untuk menendang telah dibunyikan. Aku mengambil beberapa langkah mundur untuk mengambil ancang-ancang. Sekilas aku melihat si kiper akan melompat ke sisi kirinya, menyesuaikan dengan kecenderungan tendangan kakiku. Melihat hal itu aku berusaha sebisa mungkin mengubah arah tendanganku, alih-alih menendang dengan kaki kanan aku justru menendang bola dengan kaki kiri. Sebuah perjudian besar, kaki kiriku menghantam bola, membuatnya bergulir ke arah yang berlawanan dari kiper Meski tidak begitu kencang. Jantungku berdegub kencang, waktu seolah berhenti pada saat itu, walaupun salah langkah bisa jadi Kiper lawan mampu mengubah arah lompatannya dan berbalik menyelamatkan gawang.


Untung saja hal itu tidak terjadi, kiper tetap mengarah ke sisi kanan gawangnya, sementara bolaku meluncur ke sisi kiri. Bola kini telah melewati garis putih gawang, dan mandeg diantara di jaring-jaringnya.


"Goooolllll" Seluruh tim ku bersorak sorai girang.



Di sore yang becek dan lembab ini, aku berhasil menyelesaikan tugas terberatku. Mewujudkan mimpi timku untuk membawa pulang trofi yang sudah bertahun-tahun menghilang.

Kamis 19 November 2020
108
2 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Luthfi Imama

Luthfinisme

Menulis jika ingin

Tuliskan tanggapanmu tentang Penendang Kelima

Baca karya Luthfi lainnya

Penendang Kelima

Cerpen oleh Luthfi Imama

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah