Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Nengga

Oleh Luthfinisme

Waktu menunjukan pukul setengah empat sore. Harusnya senja sedang bersiap untuk muncul di ufuk barat cakrawala. Namun nampaknya hari ini berbeda. Mendung kelabu membentang di sepajang langit, bisa dipastikan ia akan menjadi tabir bagi sinar senja sore ini.


“Aku tunggu kamu di tempat biasa, tepat pukul empat sore”


Kata-katamu terngiang jelas dikepalaku. Hujan perlahan turun dari langit, bermula dari rintik gerimis lalu menderas perlahan-lahan. Anehnya, tidak ada gemuruh guruh di atas sana. Hanya air yang turun bersama-sama. Membasahi segala yang ada di bawahnya. Turunnya hujan sebenarnya bisa kujadikan alasan untuk membatalkan acara kita sore ini, apalagi aku lupa membawa jas hujan. Tapi biarlah, aku rasa hujan sore ini masih cukup bisa ditolerans., Jarak antara diriku dengan tempat tujuan kita sudah tidak begitu jauh, bajuku tidak akan terlalu basah kuyup.


Aku tiba di halaman parkir tempat itu, mencari sudut yang paling dekat dengan bangunan utama agar motorku tidak terlalu basah diterpa hujan. Aku berjalan tergesa ke pintu utama bangunannya, sebuah warung kopi tua yang asri di tengah-tengah kota tempat kita selalu menghabiskan sore hari kelima dalam satu Minggu. masih ku ingat betul percakapan kita saat pertama kali ngopi di warung kopi ini. 


“Mengapa harus tempat ini, bukankah masih banyak tempat yang jauh lebih aesthetic? Misalnya saja di kafe terkenal di pusat kota itu, banyak sekali yang menghabiskan senja di sana dengan ngobrol atau foto-foto”


Kau tertawa sejenak baru menjawab pertanyaanku


“Warung kopi tua ini selalu mengingatkanku pada dua hal, yang pertama adalah situasi di rumah nenekku dulu dan yang kedua adalah rumah impianku untuk menghabiskan hari tua”


“Akan aku bantu kau mewujudkannya”


Pipimu memerah mendengar balasanku


“Dasar Garangan. Sudah berapa wanita yang kau gombali dengan kalimat itu”


“Kalimat yang ini tak pernah aku keluarkan kepada perempuan lain, seingatku hanya dua orang perempuan yang pernah mendengar dua kalimat ini. Yang pertama adalah ibuku, dan yang kedua adalah kamu”


“Kau memang Garangan sejati. Tapi aku tak pernah keberatan asalkan aku yang jadi ayamnya”


“Berarti kau siap ku terkam setelah pulang nanti”


“Dasar brengsek!”


Kita tertawa bersama-sama, lalu menyeruput susu kopi dari cangkir di depan kita masing-masing.


“Aku sangat suka tempat ini, aku suka dengan kursi kusam yang kita duduki, aku suka cangkir-cangkir tua dan juga susu kopi yang mengisinya. Ini mirip minuman kesukaan kakek yang sering aku seruput diam-diam. Aku juga suka cara pak pemilik warung mempertahankan sepetak sawah dan sejengkal kebun di samping bangunannya, sinar senja dapat turun dengan begitu lapangnya di sana. Jangan lupa empat pohon sukun besar yang ia jadikan sebagai gerbang alami warung kopi ini. Ah, aku jadi ingin turun ke sawah dan memanjat pohon itu. Pasti asyik sekali”


Aku memotong ucapannya yang pasti tak akan bisa di rem itu.


“Kau tahu, sudah seribu kata ‘aku suka’ yang kamu ucapkan. Jangan lupakan nasi pecel dan tempe mendoan yang baru datang ini. Kita belum makan sejak siang bukan”


“Hahahaha, benar sekali. Ayo kita makan, kau pasti lapar sekali bukan”


Kita mensudahi sejenak percakapan itu, lalu makan nasi pecel dengan lahapnya.


Aku tersadar dari lamunan tentang kunjungan pertama kita di warung kopi ini. Segera aku menuju kasir untuk memesan makanan dan minuman kesukaan kita, lantas duduk di meja yang paling dekat dengan sawah. Meja favorit kita tiap kali kita berkunjung ke sini. Aku melirik jam tanganku, pukul empat sore tepat. Hujan yang sejak tadi turun tidak kunjung berhenti juga. Sinar senja sudah pasti tertutup mendung dan tak mampu turun ke sawah favoritmu. 


“Pesanannya Cak, dua sukop (susu kopi), air putih, sama nasi pecel, ya?”


“Iya, cak. Terimakasih”


“Loh, sendirian kok pesennya dua-dua cak. Nunggu teman yang mau datang?


“Iya, cak. Tapi nggak tahu dia datang atau enggak. Soalnya hujan”


“Temannya nggak naik mobil tha?”


“Enggak, Cak. Soalnya dia sekarang tinggalnya di langit. Nggak di Bumi”


Pramusaji yang baru saja mengantar makanan itu bingung, garuk-garuk kepala. Aku hanya nyengir kuda. Mungkin ia menganggap aku kurang waras. Kupikir ada benarnya bila dia berpikir demikian, aku memang agak kurang waras karena kesepian dan penantian. Kesepian yang panjang karena kau tak akan pernah menemuiku lagi di warung kopi ini, sedangkan aku masih selalu setia menunggumu.      



Sabtu 28 November 2020
41
1 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Luthfi Imama

Luthfinisme

Menulis jika ingin

Tuliskan tanggapanmu tentang Nengga

Baca karya Luthfi lainnya

Nengga

Cerpen oleh Luthfi Imama

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah