Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Burung-burung yang Masuk ke Tubuh Puspa

Oleh Luthfinisme

Puspa Sari namanya, bunga desa yang tengah mekar dari kuncupnya. Semerbak harum menguar dari tiap lekuk tubuhnya, juga dengan rona merah di kelopak bibirnya dan ranum buah yang menggantung di bawah lehernya. Puspa Sari tak selalu dapat dipandang oleh tiap-tiap pemilik mata, namun harum dirinya membuat ia bisa hadir dimana dan kapan saja.


Puspa sari selalu hadir di pikiran tiap kepala. Ia mampir di kepala kupu-kupu, lebah, semut, kumbang, bahkan sampai kepala kucing garong, serigala dan buaya. Ia bisa hadir kapan saja, di tengah keramaian atau di antara hampa dan kesepian. Walaupun bagi beberapa dari mereka, Puspa lebih sering hadir di kala sepi. Ketika waktu pagi atau malam hari, di dalam kamar sunyi atau toilet sepi.


Banyak yang bilang Puspa Sari makhluk yang nyaris sempurna. Ia cantik, segar, harum, dan menawan. Namun, Puspa Sari belumlah puas akan dirinya. Ia sering mendambakan kenikmatan yang belum bisa dicapai oleh bunga seperti dirinya, terbang melayang laksana burung di langit yang membentang.


Suatu hari, keinginannya untuk bisa terbang kembali terbuka. Seekor Serigala dan Buaya yang tengah menganggur bertemu dengan Puspa Sari di tepi sebuah sungai. Mereka tak percaya kesempatan maha langka ini hadir di pelupuk mata mereka. Lebih dasyat lagi tatkala mereka tahu bahwa Puspa Sari tak semisterius cerita-cerita yang diobral para pemilik bibir di sekitar mereka. Ia ramah dan sungguh asyik diajak mengobrol. Meskipun ya, karena masih muda ia sering tak paham apa yang Serigala dan Buaya ini maksudkan.


Di tengah obrolan yang sedang asyik-asyiknya itu, Puspa Sari berkata pada serigala dan buaya.


"Kang, bagaimana caranya aku bisa terbang melayang di awang-awang"


Serigala dan buaya saling tatap


"Maksudmu?" tanya mereka


"Ya terbang dan melayang begitu, seperti burung yang terbang tinggi di angkasa. Pasti nikmat sekali"


Buaya dan Serigala saling pandang. Mereka saling melirik dan menyeringai.


"Untuk bisa terbang seperti burung, kau harus punya sayap" kata Buaya


"Dan beruntunglah kamu, Puspa. Aku dan Buaya bisa memberikan masing-masing satu sayap untukmu" tambah Serigala


"Wah hebat sekali! Bagaimana bisa kalian memberiku sayap, bukankah kalian bukan burung, atau kumbang atau kupu-kupu?" Puspa Sari merasa begitu takjub.


"Wah, jangan salah! Walaupun kami tak memiliki sayap tapi kami memiliki seekor burung" Sombong buaya


"Benarkah! lalu bagaimana aku bisa mendapatkan sayap dari kalian?" Puspa Sari masih tertakjub-takjub.


"Kita harus melakukan sebuah ritual. Tak lama kok, sebentar saja. Kita harus melakukan ritual itu setelah matahari tenggelam, di sini" jelas si Serigala.


"Baik kalau begitu, apakah kita bisa melakukannya saat ini?"


"Tentu bisa. Mungkin akan sedikit sakit. Tapi percayalah. Kau akan terbang ke awang-awang. Semakin kau merasa melayang, semakin cepat pula sayapmu tumbuh"


"Aku tak sabar melakukannya. Ayo!"


Serigala dan Buaya tersenyum licik, mereka bersorak kegirangan di dalam hati karena kepolosan Puspa Sari. Tepat setelah senja pulang ke ujung barat, ritual merekapun dimulai. Awalnya Puspa Sari kaget, ia menangis karena rasa perih dari ritual yang dilakukan Serigala dan Buaya kepadanya. Tapi semakin lama, seperti yang dikatakan Buaya dan Serigala, perasaan melayang perlahan datang.


Waktu demi waktu berlalu, tak terhitung berapa kali mereka telah melakukan ritual penumbuh sayap itu. Kian hari, Puspa Sari kian merasa melayang di awang-awang. Meski begitu tak pernah sehelai pun bulu sayap yang dijanjikan Buaya dan Serigala tumbuh di badannya.


"Kapan sayapku tumbuh, kita sudah berkali-kali melakukan ritual itu" tanya Puspa Sari


"Tunggulah besok di tepi sungai seperti biasa. Ritual terakhir besok sudah pasti akan menumbuhkan sayap di punggungmu , sepasang sayap yang putih dan indah seperti merpati" Kata Buaya dan Serigala


Puspa Sari mengangguk. Ia turuti kemauan Serigala dan Buaya, tapi janji mereka hanyalah janji semata. Sejak senja menghilang hingga bulan berganti bulan, di tepi suangai tak pernah lagi nampak batang hidung Serigala dan Buaya.


Puspa Sari makin gelisah, sayap yang ia tunggu tak kunjung tumbuh. Justru tubuhnya kian hari kian membengkak, memberinya sakit dan semua perasaan tak enak. Kecantikannya pudar, kelopaknya rontok, keharumannya kian samar. Puspa Sari perlahan layu dan tumbang.


Puspa Sari hanya bisa menyesal, ia terperdaya oleh silatan lidah Serigala dan Buaya. Rupanya mereka hanyalah penipu, yang mengambil seluruh sari kehidupan lalu membuangnya bagai ampas yang tak memiliki makna.


Kamis 14 Januari 2021
65
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Luthfi Imama

Luthfinisme

Menulis jika ingin

Tuliskan tanggapanmu tentang Burung-burung yang Masuk ke Tubuh Puspa

Baca karya Luthfi lainnya

Burung-burung yang Masuk ke Tubuh Puspa

Cerpen oleh Luthfi Imama

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah