Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
PUISI

Ikrar di Meja Makan dan Puisi-puisi Lainnya

Oleh Luthfinisme

Dapur Kala Fajar


Dapur kala fajar adalah keterlambatan

Karena kau telah menyusun cerita

bahkan ketika daun masih berselimut bayang

Pagi masih buta, dan kau telah memainkan orkestra

Dari gemericik air dan retakan kayu yang membara


Ah, padu padan itu

Ceret tua yang bersiul

Dan dandang yang mengepul

Serta bibirmu yang tak henti-hentinya bersenandung

Ketika tanganmu sibuk mendadar telur


Simfoni terakhir tlah usai

kala fajar menembus dinding

Diatas meja, seceret teh panas dan nasi sebakul bersanding

Lalu kau turun dari panggung

dan mengguncang tiap jiwa yang belum terbangun


Dapur kala fajar adalah keterlambatan

Karena mataku belum terbuka kala kau mainkan orkestra

Sementara Sadarku baru terkumpul

kala matahari telah tertawa


Ah, sial!

Tentu aku tak bisa membersamai mu berdansa

Diantara siul ceret tua dan uap pada dandang

Semua kini tlah siap terhidang


bahkan kehangatanpun perlahan menghilang

Setiap hari, aku meratapi diriku yang selalu bangun kesiangan


~~~

Ikrar di Meja Makan


Di meja makan ini

Aku menyatakan

Bahwa

Kulit ayam di piringku adalah milikmu

sedangkan sayuran hijau di mangkukmu secara de facto dan de jure

diserahkan kepadaku


Di meja makan ini

aku menyatakan

bahwa

Setiap makanan sisa di piringmu adalah kewajibanku untuk mencerna

Dan bila kau ingin menambah makanan dari piringku akan kuserakan

dengan sukarela


Di meja makan ini

aku menyatakan

bahwa

Setiap nasi yang menempel di bibir harus diambil

dengan penuh cinta dan kasih sayang

Sementara slilit yang menempel di sudut gigi harus diambil

secara diam-diam


~~~

Spirdu


Diatas piring seng ini

Kepalan nasi dan ikan asin

Dengan sambal terasi


Matamu memandangku

Dan mulutku kubuka lebar-lebar

"Aaaa" kataku


Sekepal nasi dan ikan asin

masuk ke mulutku

"Aaaa" kataku


Mulutmu pun kau buka lebar-lebar

Sekepal nasi, dan sambal terasi

masuk mulutmu


Kau terlihat kepedasan

wajahmu yang bulat rembulan purnama itu memerah

Pipiku juga ikut memerah


~~~

Cangkir Blirik di Malam Buta


Cangkir blirik di malam buta

Dengan ampas kopi sisa

Dan nyanyian radio lama

Di teras rumah kita yang tua

Kau menyandar di bahuku

bola mata kita saling bertemu

"Apakah arti kehidupan?" tanyamu

"Ketika kata-kata teruntai jadi puisi" jawabku


Yogyakarta 2020




Jumat 08 Mei 2020
64
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Luthfi Imama

Luthfinisme

Menulis jika ingin

Tuliskan tanggapanmu tentang Ikrar di Meja Makan dan Puisi-puisi Lainnya

Baca karya Luthfi lainnya

Ikrar di Meja Makan dan Puisi-puisi Lainnya

Puisi oleh Luthfi Imama

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah