

RESENSI NOVEL
"Seteru satu guru"
Identitas penulis
Nama : Misfar Maulana
Kelas : XI M-IPA
Sekolah : SMA Adzkia Islamic School
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Guru Pengampu : Mega fiyani
Identitas buku
Judul: Seteru 1 Guru
Penulis: Haris Priyatna
Genre: Sejarah
Tahun Terbit: 2015
Sejarah sering kali dianggap sebagai sesuatu yang kaku dan membosankan. Namun, melalui novel Seteru 1 Guru, Haris Priyatna berhasil menyajikan sejarah dalam bentuk yang lebih hidup dan emosional. Novel ini mengangkat kisah nyata tokoh-tokoh besar Indonesia yang pernah berada dalam satu lingkaran pendidikan, tetapi akhirnya memilih jalan perjuangan yang berbeda.
Novel ini menceritakan kehidupan tiga tokoh penting bangsa, yaitu Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo yang pernah belajar langsung di bawah bimbingan H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya.
Awalnya, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Namun, seiring berjalannya waktu, perbedaan cara pandang dan ideologi mulai muncul. Soekarno memilih nasionalisme, Musso condong ke komunisme, dan Kartosoewirjo memperjuangkan negara berbasis Islam. Perbedaan tersebut akhirnya membawa mereka pada konflik dan pertentangan yang tajam.
Sebagai siswa yang kurang minat pelajaran sejarah dan hanya bergantung pada pelajaran di kelas tentunya saya mendapatkan banyak hal baru mengenai pengetahuan sejarah saya Terutama tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dipaparkan dalam novel ini. Buku ini sangat cocok dibaca oleh pelajar. Dengan adanya novel sejarah seperti ini, pelajaran sejarah yang tadinya terasa berat kini terasa sangat seru dan mudah untuk dipelajari. Sehingga meningkatkan ingatan tentang apa yang sudah kita baca.
Namun Sebagai orang awam yang memiliki pengetahuan sejarah yang kurang luas, beberapa halaman mungkin sedikit berat dibacanya. Banyak istilah atau bahasa Jawa dan Sunda yang tidak diberitahukan artinya sehingga ada beberapa hal yang kurang dipahami.
Hal paling menarik dari novel ini adalah pesan bahwa perbedaan tidak selalu bisa disatukan, meskipun berawal dari tempat yang sama. Pembaca diajak memahami bahwa konflik tidak selalu muncul karena kebencian, tetapi juga karena keyakinan yang berbeda.
Selain itu, novel ini juga menunjukkan bahwa peran seorang guru sangat besar dalam membentuk pemikiran muridnya, meskipun pada akhirnya setiap individu tetap memilih jalannya sendiri.
Secara keseluruhan, Seteru 1 Guru merupakan novel sejarah yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif. Novel ini sangat layak dibaca oleh pelajar karena mampu memperluas wawasan sekaligus melatih cara berpikir kritis terhadap sejarah.

