oranment
play icon
Sehelai kata yang menyusup ke panggung dunia
Kutipan Cerpen Sehelai kata yang menyusup ke panggung dunia
Karya Misfrar_pothiwok
Baca selengkapnya di Penakota.id


Pagi jingga yang indah, Di Bawah kota London, seiris cahaya kembali menembus langit, tanda bumi kembali bernafas. Sang surya muda merekah, menulis puisi pertama hari itu di udara. Di ufuk timur, cahaya menjalar menerangi  setiap sudut kota. namun tak juga mampu menerangi gelapnya hati Asher yang tengah menghela nafas berat. Ayahnya bekerja sebagai Atase kebudayaan di London, pekerjaan yang penuh janji diplomasi tapi menyisakan jarak di antara mereka. baginya, tugas sang ayah bukan sekedar pekerjaan, melainkan alasan untuknya mengapa ia harus meninggalkan indonesia dan melanjutkan pendidikannya di negeri Britania. Ahser adalah seorang siswa SMA yang yang baru saja pindah ke London mengikuti jejak ayahnya demi masa depan. Namun di usianya yang yang baru menginjak SMA, Asher harus belajar lebih cepat tentang arti berpindah. Kini bukan lagi kursi kayu, papan tulis hijau, kipas angin berderit, atau dinding yang kadang catnya terkelupas, juga cat dinding sekolah yang pudar, tapi setiap goresannya menyimpan tawa masa lalu. Namun angin membawanya ke negeri yang asing. Kini gedung yang seperti kastil tua berdiri megah di hadapannya. Tak ada lagi suara kipas berderit, tak ada debu di sudut meja, semuanya rapi, nyaris terlihat sempurna. tatapannya berhenti pada dinding kosong di depan kelas. Tidak ada Garuda disana. Hanya warna abu abu yang dingin, dan sepi yang menggantung seperti kabut pagi di London. Sekolah lamanya di Bandung terasa seperti rumah. Hangat, ramai, dan sedikit berantakan tak seperti sekolahnya saat ini di London. Bagaikan museum indah yang berbau sejarah. dulu sekolahnya berwarna mentari, namun semuanya berubah menjadi abu-abu seperti suasana hatinya yang perlahan kehilangan warna. Sejak kecil Ahser sudah diajarkan budaya. Ia selalu mencintai seni dan budaya juga bahasa. Mulai dari melukis, bernyanyi, membaca puisi, menulis, sampai menari pun sudah menjadi kebiasaannya. Bukan hanya hobi, tapi cara ia bernafas setelah menghadapi dunia yang tak mudah. Baginya setiap goresan cat memiliki suara. Ia bisa duduk berjam-jam di depan kanvas, bukan untuk menciptakan keindahan, tapi untuk mendengarkan kisah yang ingin disampaikan warna warna itu. Ahser kecil sudah terbiasa mendengar bahasa inggris di rumah. Ayahnya yang bekerja di bidang diplomasi sering mengajarkan juga mengajaknya berbicara dengan bahasa inggris, Sehingga memperdalam bahasa inggris serta interaksi dengan orang sekitar bukan tantangan yang sulit untuknya. Namun saat ini sendu mengisi hatinya. Dahulu ia sangat berprestasi di bidang seni, ia tidak pernah menghitung berapa banyak piagam yang di pajang di dinding rumahnya, mulai dari lomba melukis tingkat kota, menulis cerpen Bulan Bahasa UGM, merancang desain batik indonesia, dan ajang seni lainnya. Namun saat ini yang ia huni bukan lagi Nusantara tapi negeri Britania. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri,  masihkah ada tempat untuk seninya bisa tumbuh, masihkah ada panggung untuknya bersinar, masihkah ada tempat untuknya dihargai, masihkah ada tempat untuknya dibanggakan. Tempat yang setiap kali ada lomba seni, namanya selalu disebut lebih dulu. Ada yang kosong di dadanya, seolah separuh jiwanya tertinggal di antara riuh pasar dan tawa teman teman lamanya. Setiap kali angin london berhembus, rindunya tak bersuara, tapi terasa di setiap tarikan nafas. Namun tak ada yang tahu bahwa jarak dan waktu tak mampu memadamkan semangatnya, mau bagaimanapun  Ahser tetaplah Ahser. Bersinar dengan seni adalah dirinya sendiri, tak peduli seberapa jauh ia melangkah. Karena seni merupakan dunianya, satu-satunya yang membuat hatinya berdegup. Baginya seni adalah cara untuk hatinya berbicara mengingatkan siapa dirinya. 

💂💂💂

Di kelas, tawa para siswa dari berbagai belahan dunia bersahut sahutan, papan tulis yang sudah tercoret kapur, meja-meja berbaris rapi, terlihat seperti dunia kecil yang sibuk. Asher melengkupkan tangannya di atas meja, separuh wajahnya terhalang oleh lengannya. Di sampingnya Darlina yang merupakan teman sebangkunya mencoba membuka pembicaraan bersama teman senegaranya yang terlihat lesu itu.

“Ser are you fine, ada masalah kah?” tanyanya dengan penuh perhatian.

“Ohh gapapa kok lin, santai aja.” 

“Ser, wajahmu gak meyakinkan, aku tau pasti ada yang kau sembunyikan”

“Hmmm…. aku kangen indo lin, kangen sekolah lama, kangen temen temen juga. Kalau di sini aku merasa dunia sangat hampa.” cerita ahser pada lina.

“Dikira aku gak kangen ser, aku juga sama kok kangen jakarta, walau sekarang aku hidup lebih baik di london, tapi hatiku tertinggal di jakarta” cetus lina yang membuat ahser sedikit tertawa.

“Hahaha, lin tau gak,”  Ahser melanjutkan ceritanya “di sekolahku dulu aku adalah siswa yang berprestasi di bidang seni, disana orang orang bisa melihat karyaku, mendengar nyanyianku, membaca karya-karya tulisku, tapi sejak aku pindah kesini seakan dunia berhenti memperhatikanku, berhenti memberikanku semangat, rasa banggaku terhadap bahasa kita perlahan memudar sejak aku pindah ke sini. Aku tahu, bahasa Indonesia bukan bahasa internasional seperti bahasa Inggris. Negeri yang kita pijak saat ini. Namun haruskah kita melupakan semuanya?, bahasa negeri yang telah membesarkan kita. Dari tangisan pertamaku pecah di dunia, bahasa itu yang menemaniku. Dari guguran kata ibu hingga kini aku berdiri di negeri orang, aku mencintai bahasa Indonesia. Bahasa yang selalu menjadi karya-karyaku yang disukai banyak orang. Tapi tanpa bahasa Indonesia, aku kehilangan arah, tak tahu bagaimana  menggerakan tangan dan imajinasiku lagi.” lina terdiam, ia menghela nafas dan berusaha mencerna perkataan Ahser.

“Ouhh ser, kata-katamu yang tersusun indah memperlihatkan ku bahwa kau seniman sejati yang mencintai bahasa ibunya. Ya… aku tak pernah tau isi duniamu seperti apa, tapi kata-katamu seakan mengingatkan ku bahwa bahasa kita indah”

Ahser hanya tersenyum tipis kepada Darlina. dari mata coklatnya yang berbinar, darlina bisa tahu bahwa cintanya pada bahasa Indonesia bukan main-main. Tak lama dari itu bell istirahat berbunyi. Saat Darlina berjalan menuju kantin, tak sengaja ia melihat dua temannya yang sibuk membincangkan sesuatu di depan mading. Ia menghampiri mereka seraya menyapanya.

“Hallo guys,”  sapa Darlina

“sawatdikha” ucap Anong, salah satu teman perempuannya yang berasal dari Thailand. Mereka berbincang menggunakan bahasa Inggris, bahasa yang kini menjadi keseharian mereka di sekolah. Namun bila kata-kata itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira beginilah percakapan mereka terdengar.

“Kalian sedang lihat apa,” ucap Darlina

“Ohh ini lin ada berita baru yang membuat hati kita berdebar” ucap Thiraphat, pria yang berdua dengan Anong yang sesama pelajar dari Thailand.

“Memangnya ada berita apa?”

“Lihat dong lin, sekolah kita mengadakan student got talent” seru Anong antusias.

“Hah!, ajang tahunan yang mencari bakat siswa itu?’’

“Iya lin, ajang bergengsi di mana setiap siswa bisa menampilkan sisi terbaiknya melalui panggung besar yang di tonton banyak orang dari berbagai belahan dunia”

“Gila sihh, kita wajib ikut nih pat, nong” ucap darlina pada dua temannya yang hanya dibalas dengan tepukan jari.

💂💂💂

Mereka bertiga ke kelasnya masing-masing, darlina mendapatkan Ahser tengah tertidur, wajahnya terhalang lengannya yang melingkup di atas meja. Ia hampiri sahabatnya itu dan segera membangukannya.

“Ser, bangun serrr” ucap Darlina sembari menggoyngkan tubuhnya.

“Ada apa sih lin, ganggu orang lagi tidur aja.” cetus Ahser dengan matanya yang masih ngantuk itu. Darlina tertawa tipis melihatnya.

“Ser, aku baru dapat berita bagus nih dari Anong dan Thiraphat. Sekolah kita ngadain student got talent,”seru Darlina antusias. Mendengar itu bukannya bangun, Asher malah menyodorkan ponselnya menampilkan poster acara yang Darlina lihat bersama teman temannya di mading tadi. Menunjukan bahwa dirinya lebih dulu tahu sebelum Darlina membawakan informasi itu kepadanya. Darlina hanya meniup rambutnya ke atas menunjukan rasa kesal.

“Terus gimana ser, mau ikut?” tanya darlina yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.

“Lahh kenapa?, kamu kan pandai bernyanyi, bercerita, berpuisi, dan masih banyak lagi bakat yang kamu pendam. Masa sih seorang Ahser di ajang bergengsi seperti ini malah menyia-nyiakan bakatnya” ujar Darlina yang membuat Ahser bangun mengangkat kepalanya. Seketika ia membuang nafas.

“Lin, tau sendiri kan kalau aku tuh kehilangan arah, aku bisa berpuisi, atau bernyanyi, saat aku menjunjung tinggi bahasa ibuku, mungkin bisa aku mengubahnya menjadi bahasa Inggris, tapi aku tidak yakin dengan imajinasiku yang sudah terbiasa dan bangga dengan bahasa ibunya” mendengar kata-kata Ahser, Darlina berpikir sejenak. Seketika matanya berbinar.

“Ser, coba kamu pikirin, kamu sekolah di negeri Britania, bukan berarti kamu tidak bisa tampil dengan bahasa Indonesia. Tunjukan sama dunia ser, tunjukkan bahwa bahasa Indonesia itu bukan sekedar kata. Tapi IDENTITAS BANGSA DI PANGGUNG DUNIA.” Mendengar itu Ahser hanya terpaku. Ada benarnya dengan apa yang dikatakan temannya itu, namun ia masih bingung dengan langkah apa yang harus ia ambil. 

“Tapi lin, kalau aku tampil dengan bahasaku, bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak mengerti bahasa indonesia”Ahser berkata dengan meninggikan suaranya.

“Terserah ser, aku tidak memaksamu, hanya ingin mengembalikan semangatmu yang lalu” Darlina yang menggebrak meja lalu meninggalkannya. Pria itu hanya mendekap kepalanya yang frustasi. Ia berpikir, haruskah ia mengambil kesempatan itu, namun rasa overthinkingnya terus menyerang, jika ia sajikan penampilannya dengan bahasa Indonesia, ia khawatir akan kejenuhan yang akan membuat penontonnya merasa bosan karena tidak memahami arti dari setiap kata yang ia sampaikan. Walaupun seperti itu, kata-kata Darlina masih saja terngiang-ngiang di kepalanya. Namun Asher hanya bisa terdiam, matanya kosong menatap lantai. Ia mendekap kepalanya, tenggelam dalam kebimbangan. Di satu sisi, ia ingin ikut student got talent untuk menjunjung bahasa Indonesia yang ia cintai. Namun disisi lain, rasa takut menahannya. Takut jika penonton tak memahami, lalu menganggap penampilannya membosankan. Antara semangat dan keraguan, pikiranya terus berperang dalam perasaanya.

💂💂💂

Hari  pun berganti. Udara pagi di london yang sejuk, menggigit kulit lembut milik Ahser. Kabut tipis menari di antara jalanan batu, sementara mentari berusaha melepas langit kelabu. Langit London yang tak sepenuhnya biru, warnanya abu pucat, tapi disana ada ketenangan yang tersembunyi. Seperti Ahser yang saat itu tengah memikirkan konsep penampilannya. Perlahan, ia mulai memunguti kembali serpihan darinya yang sempat hilang. malam-malamnya kini diisi dengan sketsa, latihan di depan laptop, dan coretan ide di sticky note yang menempel di dinding- dinding kamarnya. Ya, pikirannya sudah tenang seperti langit London. Baginya student got talent bukan hanya sekedar ajang, melainkan jembatan kecil untuk kembali menemukan dirinya yang dulu. Seminggu lagi acara tiba. Setiap pulang sekolah di sore hari, ia tak pernah lupa berlatih demi menampilkan yang terbaik. Begitupun teman-temannya, mereka semua terlihat sibuk dengan persiapannya masing-masing. bagaimana tidak?. Ajang yang bukan main main yang selalu mereka nantikan, ajang yang akan membuat mereka bersinar layaknya bintang. Ada yang sedang latihan bernyanyi, dance, ballet, sulap, musik band, stand up comedy. Berbeda dengan Ahser yang mulai merasa tak percaya diri. Ia memiliki rencana penampilan yang menurutnya akan membosankan. Monolog. Penampilan tunggal yang dilakukan oleh satu karakter, seperti drama yang hanya dimainkan oleh satu orang dengan emosi yang sangat terasa di setiap kata dan gerakannya. Menurutnya, jika ia menampilkan ini, penonton hanya akan menganga tidak paham dengan apa yang ia tampilkan. Dan benar saja. Seorang teman yang berdarah Tionghoa, tertawa tak paham melihat Ahser yang sedang berlatih.  Ia menghampiri Ahser. “Kau sedang apa” tanyanya kebingungan. Ahser hanya tertawa tipis. Ucapan tak seberapa yang terasa menghentikan nafasnya. Kini semangatnya naik turun tak menentu. Ia harus menentukan dalam waktu singkat. Haruskah ia mundur sekarang, setelah semua keringat dan malam panjangnya berakhir sia-sia?. Atau tetap maju, walau tak seorangpun yang memahaminya?. Antara maju dan mundur terus berperang dalam pikirannya. Ia melamunkan dirinya di atas kursi yang terletak di taman sekolah, “Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa di panggung dunia”. Kata-kata Darlina tak mampu pergi dari pikirannya yang tengah kacau itu. Namun ada rasa takut di hatinya.

💂💂💂

Bulan menyalakan cahayanya di langit london. Panggung besar berdiri megah di tengah lapangan sekolah. Ratusan lampu menari-nari seolah merayakan sesuatu yang belum terjadi. “Good evening everyone! Welcome to London International high school’s Student Got Talent!” Sapa MC yang membuat sorak penonton langsung pecah menyebar memenuhi lapangan yang disulap menjadi panggung yang megah. Udara malam terasa hangat oleh semangat ribuan siswa dan penonton lainnya yang memadati lapangan. Ahser duduk di kursi paling depan bersama Darlina juga kawan-kawan yang lainnya. Tangannya bergetar pelan. Jantungnya berdebar lebih cepat dari alunan musik di panggung. Satu per satu peserta naik ke panggung. Ada yang menyanyi dengan suara merdu hingga penonton terdiam, ada yang menari balet dengan gerakan seanggun angin, ada pula yang menampilkan tarian modern penuh energi hingga membuat seluruh lapangan mengguncang oleh sorakan. Bahkan seorang peserta menutup matanya sambil menunjukan sulapnya yang membuat semua berdecak kagum. Malam itu, panggung terasa hidup oleh berbagai warna dari bakat siswa dari berbagai belahan dunia. Nafas Ahser tertahan, lampu mulai meredup, menggantikan riuh dengan hening. Saat itulah ia tahu, waktunya sudah tiba. Darlina dan Ahser saling menatap dan menganggukan kepala lalu menuju ke belakang panggung tanda pertunjukan mereka akan segera dimulai. Ahser dengan baju batiknya yang megah dengan percaya diri melangkah, berjalan dengan gagah. Menyapa ribuan manusia yang ada di hadapannya. “Good evening everyone” katanya lantang. Ia mulai berbicara. “Sometimes, we have to go far away” “Kalian tahu?. Kadang kita harus pergi jauh untuk tahu betapa berharganya rumah” ucapnya pelan yang membuat keheningan diantara para penonton. Ia pun melanjutkan kata katanya yang jika diterjemahkan, seperti inilah kira kira suaranya terdengar. “Namun rumah yang telah mengukir kenangan yang indah, selalu menjadi tempat yang sulit untuk kita tinggalkan. Dan disini malam ini izinkan aku untuk menampilkan persembahanku sebagai wujud rinduku pada tanah airku, Nusantara.” Asher membuka penampilannya dengan kata-kata yang menembus hati setiap penonton. Kalimatnya sederhana, namun penuh makna. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi seolah menjadi suara bagi teman-temannya yang juga menyimpan rindu pada tanah air mereka. Lampu panggung perlahan meredup, menyisakan satu cahaya yang jatuh tepat di tubuh Ahser. Ia berdiri tegak di tengah panggung, menatap penonton yang mulai hening. Kata-kata berbahasa Indonesia mengalir dari bibirnya, pelan namun penuh makna. Layar besar diatas panggung menyalin setiap kata-katanya ke dalam bahasa dunia, seolah menjadi jembatan untuk penonton memahami arti dan maknanya. Bukan hanya kata yang ia mainkan. Tetapi emosi, gerakan, ekspresi, semuanya menyatu dalam tubuhnya dan membuat penampilan yang sangat mengagumkan. Dengan baju batiknya yang khas indonesia, ia berkata. “Di Kota london, masih berdiri The Tower Of London, tempat dua pangeran kecil dikurung, Edward dan Richard.” penonton menatap mereka penuh tanya. Ahser kembali berbicara, “di antara kabut dan bayangan” suara Ahser lirih. “Berdiri sebuah menara batu. Dulu di sana, dua pangeran kecil pernah menunggu pagi. Tapi pagi tak pernah datang untuk mereka….” penonton terdiam. “Kau dengar itu Richard” ucapnya menatap kearah darlina. Lonceng kota masih berdentang, tapi tak ada yang mencari keberadaan kita. Dunia lupa bahwa kita pernah ada.” darlina menoleh kecil, suaranya bergetar, “ apa ayah masih hidup?” Asher hanya tersenyum getir. “Ayah sudah lama menjadi bagian dari kabut adikku” layar besar di belakang mereka tak berhenti menerjemahkan setiap kata. Musik berubah menjadi lembut dan murung. Asher kembali berbicara “Mereka menunggu hingga waktu berhenti. Hanya angin yang tahu kisah dua anak tak kembali.” lalu ia menunduk sedikit, dan dengan suara yang lantang menutup penampilannya, “ dan mungkin kita semua adalah pangeran kecil di menara kita sendiri. Terperangkap oleh masa lalu, tapi masih bermimpi tentang cahaya.” keheningan menyelimuti lapangan. Tak ada sorak ataupun tepuk tangan. Hanya nafas tertahan dan mata yang basah. Tapi tiba-tiba mereka semua berdiri dari kursinya memberikan tepuk tangan yang meriah. Bunga-bunga di lemparkan ke panggung, menebar warna di bawah cahaya lampu yang redup.  Bagaimana tidak?. Ahser dan Darlina baru saja menghidupkan kembali kisah dua pangeran dari The Tower Of London. Sepotong sejarah yang lama terkubur di antara batu tua dan kabut kota. Kisah tentang darah kerajaan yang hilang tanpa makam. Dua pangeran yang tak sempat menjadi raja karena perebutan tahta. Bukan hanya kisah sedih yang mereka bawakan, tapi juga pengingat bahwa sejarah bukan sekedar catatan lama, melainkan suara yang menunggu untuk didengarkan kembali. Ahser menatap Darlina. Senyum kecil terbit di wajah mereka, diantara hujan bunga cahaya yang jatuh dari atas panggung. Malam itu mereka tahu.. Segala lelah , gugup, dan latihan panjang terbayar sudah. Tidak ada yang tahu apakah Ahser menang malam itu atau tidak. Namun bagi semua yang menyaksikan, kemenangannya sudah nyata. Bukan karena piala, tapi karena mereka berhasil membuat dunia menatap indonesia. Lewat seni dan bahasanya, Ahser menunjukan bahwa identitas bangsa tak akan pernah pudar, selama masih ada yang mau membawanya diatas panggung dunia……. SELESAI  Rabu, 29 oktober 2025


calendar
31 Mar 2026 12:58
view
7
idle liked
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig