

"Apakah ini jebakan atau cobaan? " tanyaku pada Tuhan.
Aku yang sebelum lahir tidak punya pikiran, perasaan dan logikaku hari ini. Lalu bagaimana itu bisa disebut sama. Kapan? Mengapa? Bagaimana? Seperti Apa?
Sejatinya semua berasal dari-Mu. Ketidakberdayaan pikirku bagai sebutir cela dari kehidupan yang maha besar ini.
"Dunia ini terlalu fana!" lanjutku.
Tidak ada tempat untuk berlari jauh karena semua akan berputar lagi. Kembali pada titik awal. Sejauh apapun aku melangkah. Sekencang apapun aku berlari. Sekeras apapun Aku berusaha. Ini seperti tiada ada akhirnya. Dimana akhir yang abadi itu? Di dalam benakku? Atau dalam rahasia-Mu?
Ingat saat Aku belajar untuk berjalan dan tersenyum. Semua bersorak, menyerukan kebahagiaan yang tiada tara. Saling bertukar cerita dan ramah-tamah. Memberikan harapan dan dukungan yang menurutnya adalah paling tinggi, paling besar, paling penuh harapan atau bisa dikatakan timbal-balik terbesar.
Lalu apa yang terjadi? Ternyata tetap tidak ada kehalusan dan kedalaman dalam setiap kata dan makna. Aku yakin bentuk bisa diubah menjadi yang dibutuhkan. Bukan mengubah bentuk menjadi yang diinginkan. Seperti melempar perahu kecil ke tengah lautan ganas, semua bisa berubah menjadi interpretasi yang begitu luas. Tidak ada nahkoda, tidak ada manual dan tidak ada bekal.
Kehidupan fana ini perlahan menelanku. Menghabiskan segala inginku, ambisiku, dan citaku. Kesadaran ini perlahan menghabiskan segala fakta realitas yang selama ini berjalan. Terbangun pada saat yang begitu muda, terlalu cepat dan tidak bisa diduga. Sinar mercusuar begitu gelap, sayup-sayup dapat terlihat setelah tenggelam berkali-kali.
Aku berjalan pada tanah yang ternyata begitu rapuh dan meredam. Langkahku tak terdengar dan jarak langkahku hanya sejengkal. Meninggalkan bekas kecil dan terlihat sangat lemah. Kemana Aku harus pergi? Dimana tempat tujuanku berada? Semua begitu baru dan terasa membingungkan.
'Masih tiada jawaban'
Lengang suara jalan hanya menyisakan detak jantung dan deru napasku yang semakin kritis. Satu dua motor bergerak melewatiku. Hingga sekian kalinya, ada motor yang memberhentikan di pinggir jalan, lalu Ia bertanya padaku, 'Hendak tujuan kemana, Teman?'. Satu kata asing bagiku. Yang belum pernah kutemui maknanya. 'Teman' bukan sesuatu yang buruk ternyata. Ia bisa mengantarkanku lebih cepat melaju di atas jalanan aspal yang panas. Walau Aku masih tidak tahu satu asing lainnya, 'Tujuan'.
Melihat peradaban sibuk yang memilik ambisi merah dan penuh. Itu sangatlah besar dan tidak pernah kutemui. Merah yang seperti itu mungkin Aku akan langsung dibuang dari sejak kecil. Seorang 'teman' mengerikan. Ia punya ambisi yang sangat besar yaitu menjadi seorang pemimpin. Melebarkan sayapnya kepada siapa saja. Menebarkan kebaikan pada kalangan manusia menjadi sifat alaminya. Mungkin itu sebabnya ada orang yang mau menolongku berjalan dari pinggir jalan. Silih berganti bahkan setiap harinya Ia bisa mendapatkan delapan koneksi baru. Pada akhirnya, Aku tahu Aku akan segera tersingkir.
Sungguh dunia fana. Realitas memakan diriku untuk yang kedua kalinya. Kini Aku terbaring sendiri tanpa teman. Kita sudah tidak sejalan lagi dan berjanji untuk menjalani perjalanan masing-masing. Perpisahan, sebuah fenomena baru yang benar-benar menghabisiku kedua kalinya.
"Lalu, sebenarnya apakah tujuanku?" tanyaku kini dengan lirih.
Sebuah kata asing yang kutakuti dan harus kutaklukan sekarang ini. Tanpa siapapun, kali ini Aku harus berjalan dan mendaki tingginya gunung itu. Itu adalah Gunung Cita-Cita. Di sana terisi harapan, kasih dan tulus. Yang kuketahui semua orang akan mendaki gunung itu, dan semua harapannya akan terpenuhi dan mendapat jawaban.
Berjalanlah aku kesana dengan segenggam bekal dari pertemanan dan tas dari pengalaman sejauh umurku juga satu sendok keberuntungan. Ternyata umur tidak bisa membohongi, orang yang terlihat lebih tua dariku bisa melompat dan memanjat dengan cepat. Begitu pulan dengan anakannya dibelakangnya yang dengan siap mengikuti orang tersebut. Setelah delapan kilo jauhnya mendaki, Aku baru menyadari ternyata tidak ada yang mendaki sendiri. Semua berjalan dengan kelompok-kelompok besar, dimana yang paling sedikit hanya berdua orang. Entah bagaimana mereka bisa terikat bersama padahal Aku merasa mereka serasa berbeda. 'Agaknya harus menyenangkan satu sama lain' batinku.
"Oh.. Tuhan. Ternyata keras kepala ini tidak bisa dihentikan" lanjutku lagi.
Aneh! Aku dengan perbekalanku bisa sendirian hingga mencapai tebing sebelum puncak. Bisa kulihat harapanku, mimpiku dan citaku semua terlihat di puncak sana. Terpampang sebuah 'Tujuan' yang selama ini aku pertanyakan. Aku bergegas dan berlari antusias. Menanggalkan sesendok keberuntunganku yang selama ini menemani.
Lalu gunung bergetar, menguji siapapun yang hendak mendaki hingga puncak. Berkali-kali! Ratusan getaran kecil, yang setiap getarannya menyayat dan memberatkan hati. Membuat halusinasi hingga ke dalam mimpi. Tanpa bisa dihentikan. Atau mungkin hanya Aku yang merasa seperti itu. Karena Aku melihat beberapa berhasil menggapai puncak lalu berjalan turun.
Namun!
Segala getaran dan guncanganku belum juga reda. Akhir yang seperti tiada akhir. Akhir yang hanya menandakan awal yang lainnya. Aku berjalan mendekat dan jatuh. Jalan. Jatuh. Jalan. Jatuh. Hingga menetes darah pada air mataku. Kali ini, tidak ada siapapun yang membantu. Bahkan Tuhan berkehendak ke arah yang berlawanan. Semesta mengamuk. Menarikku ke dalam jurang api gunung ini. Aku tergerus pelan dan semakin cepat. Hingga akhirnya Aku kehilangan diriku.
"Sekarang, apakah ini hanya cobaan yang tiada akhirnya?" tanyaku yang terakhir kalinya.
Aku bahkan tidak mengetahui jawaban apa yang pernah Aku ucapkan dan pencarian jawaban telah runtuh kembali dengan jawaban yang masih menjadi rahasia. Kini akan Aku tunaikan tugas ini, dengan melebur menjadi tunggal.

