Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Gerbong Nomor Tiga

Oleh Pikadita

REN


 


Aku kesiangan. Kereta jurusan Tanah Abang pukul lima pagi adalah tujuanku. Harus kereta itu, tidak boleh tidak. Harus di gerbong nomor tiga. Maka aku berlari cepat agar tak tertinggal. Peluit panjang terdengar saat aku memasuki peron. Keretaku ada di jalur tujuh. Bersama penumpang terburu-buru lainnya, aku setengah melompat memasuki gerbong khusus wanita, berusaha terlihat normal padahal jika telat sepersekian detik aku bisa terjepit pintu otomatis. Kereta berangkat dari Bogor. Masih belum terlalu padat. Biasanya gerbong akan mulai penuh di Bojong Gede dan sudah berjejalan di Depok.


 


Aku melintas di gerbong wanita. Padahal pesan ibuku, kalau naik kereta di gerbong wanita saja agar tidak mengalami pelecehan seksual oleh orang yang jelas tidak bertanggung jawab. Tapi aku malah tidak nyaman di sana. Aku nyaman di gerbong tiga. Dengan orang yang hampir sama setiap harinya, dan tempat duduk yang nyaris itu-itu saja posisinya. Jika aku telat dan tidak naik kereta ini, aku tidak bisa menyesuaikan diri.


 


Gerbong nomor tiga. Seorang wanita dengan syal bunga duduk sambil membaca buku. Hari ini masih sama dengan kemarin, wanita itu masih baca Murakami. Selang beberapa langkah dari wanita itu, ada seorang bapak tua yang selalu membawa tas besar. Ketika aku turun di Sudirman, bapak itu belum turun. Ia pernah bercerita kalau dirinya berjualan baju anak di Tanah Abang. Di depan bapak itu ada seorang wanita muda cantik dengan gawainya, lengkap dengan earphone di telinga, lagunya keras terdengar hingga ke sebelahnya. Yang ia dengar adalah tangga lagu Hits bulan ini. Di sudut gerbong ada sekumpulan wanita berseragam--seperti guru atau mungkin memang guru--sedang membolak-balik katalog kecantikan sambil mengocok arisan minggu ini.


 


Lalu aku duduk di tempat ternyamanku. Di hadapan seorang laki-laki yang mungkin saja seumuran denganku, dan juga sesuai dengan tipeku. Aku tersenyum padanya, dan dia pun membalas. Lelaki itu menggunakan kemeja biru tua, kemudian dilapisi lagi dengan jaket hitam, seperti biasa. Jika aku mau menghitung, ini sudah satu tahun dan hanya ada senyuman itu saja setiap pagi. Dan itu tak ingin kulewatkan walau hanya sehari. Aku anggap senyuman itu adalah semangatku untuk pergi bekerja.


 


Pulangnya? Jangan ditanya. Aku tidak pernah satu kereta dengannya. Sayang sekali. Tapi jangan beritahu siapa-siapa. Mungkin lelaki itu juga tidak pernah menganggapku ada.


 


Han


 


Hari ini aku pulang cepat. Kereta baru sampai di Duri. Masih agak lama, jadi aku menunggu di peron stasiun Tanah Abang. "Semoga jam segini masih sepi," pikirku sambil melirik arloji yang masih menunjukkan pukul empat sore.


 


Tiba-tiba aku teringat wanita itu, wanita yang sudah aku hapal bentuk tubuhnya dari jauh. Tadi pagi ia mengenakan kemeja merah tua. Rambutnya digulung sejadinya. Ia melemparkan senyum padaku dan aku mulai nyaman dengan senyuman itu. Aku selalu melihat isyarat tertentu dalam senyuman itu, maka aku artikan sebagai teka-teki saja.


 


Beberapa menit kemudian kereta menuju Bogor tiba. Ternyata sudah ramai. Pulang jam berapa orang-orang ini dari kantornya? Menyenangkan sekali bisa pulang 'pagi'. Pintu tertutup sesaat setelah aku masuk dan menyandar di sandaran sebelah pintu otomatis. Kereta melaju dan terus bertambah orang di setiap stasiun. Yang paling parah di Sudirman. Gerbong langsung penuh di situ.


 


Aku terdesak namun tak mau kalah. Hingga lamat-lamat aku lihat gadis itu. Ia berjalan masuk agak ke dalam, lalu berdiri dan berpegangan pada hand strap. Aku berusaha mendekatinya namun sulit. Semakin aku coba malah semakin sulit bergerak saking padatnya kereta. Ini kesempatan untuk menanyakan namanya dan mungkin makan bakso bersama. Ah, mungkin nanti saat kereta sudah mulai sepi.


 


***


 


Aku tertidur. Sambil berdiri. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku celingukan. Sudah ada beberapa bangku yang kosong. Kereta baru saja meninggalkan stasiun Depok. Dan satu lagi, aku kehilangan gadisku. Di mana dia? Pindah gerbong, kah?


 


***


 


Kereta tiba di Bogor. Aku masih berharap bertemu dengannya. Jadi aku cari saja wanita yang berkemeja merah tua.


 


Ketemu. Itu dia.


 


Seratus meter dariku. Aku lekas mengejarnya lagi. Kali ini tidak boleh hilang jejak. Ia mulai menyeberang jalan dan aku pun terus merapal mantra 'Hai, kita sudah sering ketemu. Mau makan malam denganku?' berkali-kali.


 


"Hei, baju merah!" Akhirnya aku berteriak. Beberapa orang menoleh ke arahku, termasuk dia. Aku mendekat ke arahnya sambil mempraktekkan mantra yang sudah kurapal sejak tadi.


 


"Hai, kita sudah sering bertemu. Mau makan malam denganku?"


 


REN


 


Darahku berdesir kencang. Ini pertama kalinya aku melihat lelaki itu setelah pulang kantor. Aku melihatnya dari kejauhan, sedang bicara dengan wanita berbaju merah tua. Wanita cantik yang suka membaca buku Murakami di gerbong nomor tiga itu sedang bersama lelaki yang kusuka.

Kamis 05 September 2019
86
5 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Fika Ardita

Pikadita

Penulis gadungan

Tuliskan tanggapanmu tentang Gerbong Nomor Tiga

Baca karya Fika lainnya

CERPEN

Cerita Pendek Tentang Toko Kue

Selasa 23 Oktober 2018
152
CERPEN

Mimpi Orang Buta

Rabu 21 November 2018
115
CERPEN

Ibu Lupa, Ya?

Jumat 23 November 2018
92

Gerbong Nomor Tiga

Cerpen oleh Fika Ardita

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah