Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
RESENSI

NU di Hadapan Neo-liberalisme

Oleh Pojokmichaelmusthafa

Judul Buku : Masa Depan NU

Penulis : Nur Khalik Ridwan

Penerbit : IRCiSoD

Tahun Terbit : Januari 2019

Tebal : 220 halaman

ISBN : 978-602-7679-72-3



Sejak kelahirannya, NU telah memberikan banyak kontribusi terhadap negara Indonesia. Sejarah telah mencatat banyak prestasi yang ditorehkan dan banyak tokoh ulama yang dilahirkan. Dalam lika-likunya, masyarakat NU tidak pernah gentar menghadapi tantangan yang ada. Oleh karenanya, sampai sekarang NU masih tetap berdiri kokoh. Entah kedepannya.


Menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakatnya ketika menyadari bahwa organisasi ini belum juga dapat ditaklukkan. Padahal, gerakan-gerakan radikalisme dan intoleran hampir tak pernah putus asa menghalangi jalannya. Misi NU yang selaras dengan cita-cita bangsa Indonesia ini tentu akan terus diperjuangkan layak mendapat banyak dukungan. Dalam kurun waktu yang cukup lama, organisasi ini telah melumpuhkan musuh-musuhnya.


Kini, menjelang usianya yang ke-100, NU menghadapi musuh yang tak kalah berat, yaitu globalisasi neoliberal. Sebagaimana ideologi yang dijalankan di Negara Barat, neoliberal adalah kelanjutan dari kapitalisme yang biasa dipraktikkan di negara-negara maju dan saat ini mulai diadopsi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. 


Ideologi ini mulai diadopsi oleh negara Indonesia sejak masa orde baru. Pada tahun 1968, Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan dengan mengangkat sejumlah ekonom lulusan universitas-universitas di Amerika Serikat sebagai sebagai anggotanya. Karena orientasinya yang liberal, ekonom-ekonom itu dipercaya oleh Soeharto untuk memulai hubungan dengan Amerika serikat.


Pergerakan Ideologi ini sangatlah halus. Sebagai pondasi awal, ia bergerak dengan penanaman modal asing sebagai dasar dari program Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Kemudian, menggantungkan Indonesia dari Hutang Luar Negeri (HLN), yang sampai sekarang belum juga bisa dilunasi. Sementara, sebagian kekayaan Indonesia telah banyak dikuasai oleh pihak asing.


Walau bergeraknya Ideologi ini halus, tapi tak pernah berhenti mengikis kekuatan negara. Secara perlahan dan pasti akan menjinakkan masyarakat, baik tingkat atas maupun bawah. Jika ini tetap dibiarkan, maka Indonesia akan benar-benar jatuh ke tangan orang asing. Dalam hitungan tahun, boleh jadi, menyusul negara-negara lain yang telah runtuh seperti Yunani. Di sini sebenarnya arah perjuangan masyarakat NU dalam mempertahankan negara.


Dalam buku ini, Nur Khalik Ridwan telah memperkirakan hal-hal yang akan menimpa organisasi NU, yaitu berupa: keberadaan elite ulama terancam munculnya penguasa-penguasa neoliberal di tingkat lokal yang akan menyusutkan perekonomian dan karisma-nya. Dengan demikian, elite mudapun akan ikut terhuyung.


Akan tetapi, masih ada modal sosial yang dimiliki oleh Masyarakat NU untuk mengatasi ini semua. Pertama, paham kerakyatan, yang memusatkan keberpihakannya kepada rakyat dan membela kaum lemah. Kedua, munculnya elite-elite muda NU yang bisa diandalkan melalui pemikiran dan pergerakannya. 

Ketiga, jaringan masyarakat NU yang luas menyentuh seantero desa-desa sehingga angat mudah untuk menghimpun massa dan kekuatan. Keempat, sikap mandiri yang didukung oleh sejarah lahirnya pesantren-pesantren yang dengan itu akan memberikan peluang pada masyarakatnya untuk membuat imajinasi sendiri dan berusaha tidak ikut-ikutan arus asing.


Meski masih mempunyai modal yang cukup besar untuk melawan arus neoliberal, masyarakat NU tidak boleh meremehkan hal ini. Sebagaimana dikupas lepas untuk terus bersaing secara kreatif-aktif untuk menghindari dominasi kekuasaan dari pihak luar. Kini, hasil kompetisi semacam ini akan menentukan bagaimana nasib bangsa Indonesia kedepannya.


Mulai sekarang, masyarakat sangat perlu untuk mendesain sendiri bagaimana nasibnya ke depan. Menghadapinya tentulah harus dengan lebih cerdas, karena neoliberal tidak cukup hanya dilawan dengan ayat-ayat suci. Ini tentu akan sangat menguras tenaga dan pikiran.


Namun, dalam buku ini pula, telah dipersiapkan opsi-opsi yang perlu dipertimbangkan oleh masyarakat NU dalam melawan neoliberal. Sayang sekali kalau tidak membacanya sampai tuntas karena muatan buku ini sangat penting sebagai bahan kajian. Bahasanya sangat mudah untuk dimengerti sehingga pembacanya tidak akan kesulitan untuk mencerna gagasan yang disampaikan. Kita akan dapat membuka mata lebih lebar terhadap persoalan yang sedang terjadi pada tubuh NU setelah membaca buku.

Minggu 03 Maret 2019
62
2 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Michael Musthafa

Pojokmichaelmusthafa

Penulis fiksi dan non-fiksi. Berasal dari Karduluk Pragaan Sumenep Jawa Timur. Kini menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam

Tuliskan tanggapanmu tentang NU di Hadapan Neo-liberalisme

Baca karya Michael lainnya

NU di Hadapan Neo-liberalisme

Resensi oleh Michael Musthafa

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah