Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Peluh Malam

Oleh RenaldoAchmad

Tiupan angin malam menggerayangi kau dan aku malam ini. Kita susuri kembali trotoar yang basah setelah dihujani peluh-peluh tubuh manusia. Peluh mereka yang berjuang agar tetap hidup dan menghidupi, mereka yang menyebar lembar-lembar lamaran pagi hari, lalu menjajakan es teh di siang hari atau menyupir truk di jalanan besar, dan mengakhiri hari dengan pulang ke rumah sambil memasang garis lengkung yang ditarik antar pipi atau bahkan tidak pulang sama sekali untuk beberapa waktu. 


Sepasang tubuh ini berdiri diatas semua peluh-peluh itu, ikut merasakan jatuh bangun tetesan-tetesan juang itu. Kau berbisik di telingaku bertanya “diriku ini seperti apa ?”, “dirimu serupa samudra di tengah ombak kehidupan”, “lantas apakah kau siap mengarungiku dengan segala terjangan ombak ?”. Bibirku bergeming tak dapat menjawab dan berucap, tak dapat merangkai bahasa. Hanya satu gerak tubuh yang spontan bergerak ketika telingaku mendengar pertanyaanmu. Aku lingkarkan lenganku di pinggangmu lalu aku kecup keningmu. 

“Kau tak perlu khawatir jika aku nanti seperti mereka, peluh-peluh itu seperti penyakit. Jika peluh-peluh itu keluar maka aku sangat bahagia” jawabku setelah kita membuat detik tak bergerak. "Tetapi setelah peluhmu itu keluar, sakit akan muncul" bantahmu. "Pun kalau peluh itu tak keluar, aku juga akan tumbang. Kau dan aku harus siap merasakan gonjang-ganjingnya ombak kehidupan agar kita dapat merasakan tenggelam dan melayang. Yang terpenting adalah kau harus kuat karena kau adalah dipan dimana tubuhku bersandar" ucapku meyakinkanmu. Dan langsung kau balas "Kau pun harus kuat karena kau adalah tempurung dimana tubuhku berlindung". Lalu kita hentikan lagi detik per detik waktu. Kali ini lebih lama, sebab leherku berkalung lenganmu, bibirku berpagut bibirmu dan lidah kita saling melilit.


Entah sudah berapa jauh kedua tubuh ini mengayuh hingga akhirnya pun ikut berkucur peluh. Rembulan dan awan tampak tengah menatap sepasang tubuh ini dengan cemburu. Bola mata mereka tampak dingin. Satu-satunya yang hangat malam itu hanya tubuhku dan tubuhmu.


Tak terasa dan tak terhitung waktu berjalan. Subuh sudah berkumandang, kokok ayam sudah bersahut-sahutan. Tubuhmu dan tubuhku merenggang. Kau menjelma kembali perempuan rumahan, sementara aku buruh kantoran lengkap dengan dasi dan celana bahan. Aku tak peduli dengan terjangan ombak yang akan aku hadapi hari ini. Entah tenggelam atau melayang aku pastikan raut wajah kita akan tetap menarik garis lengkung antar pipi.

Senin 02 Maret 2020
61
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Renaldo Achmad

RenaldoAchmad

Tuliskan tanggapanmu tentang Peluh Malam

Baca karya Renaldo lainnya

Peluh Malam

Cerpen oleh Renaldo Achmad

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah