Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
RESENSI

Binatangisme : Ketika Peternakan dikelola Binatang Ternak

Oleh RenaldoAchmad

Novel tua yang ditulis oleh George Orwell dan diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi ini cukup berhasil membuat selera membaca saya berubah. Saya sebagai awam yang baru memasuki dunia baca dan tulis ini cukup beruntung karena berhasil memiliki novel sebagus ini. Walaupun saya telat mendapatkannya, buktinya buku yang saya pegang adalah buku cetakan ketiga dari Gading, salah satu penerbit di tempat kelahiran saya Jogja. Pemilihan gaya bahasa yang tidak berat dan terkesan seperti komedi memaksa saya mencerna kisah dalam novel ini dengan baik.


Keberuntungan saya memiliki novel ini bermula saat saya sedang ingin mencoba membaca sebuah buku yang berbeda dari sebelumnya saya baca. Saya yang awam tentu mengenal dunia ini dari buku kumpulan kisah cinta remaja atau kumpulan kata manis untuk mengingatkan diri sendiri. Karena merasa jenuh membaca buku tentang "itu melulu", saya mencoba melihat akun media sosial toko buku yang isinya kebanyakan berlawanan arah seperti yang saya inginkan. Pertama kalinya saya menemukan sebuah buku yang berjudul "Animal Farm" yang langsung membuat saya tertarik mengantonginya, namun sayang buku itu sudah habis. Pencarian pun berlanjut dan tak lama saya menemukan buku ini "Binatangisme" yang membuat saya merasakan hal yang sama ketika pertama kali melihat "Animal Farm", namun bedanya pada kali ini buku ini berhasil mendarat di kamar saya.


Buku ini menggunakan latar peternakan sebagai tempat ceritanya bermain dan tokoh utama yang pastinya adalah binatang dengan berbagai permasalahannya dengan manusia atau sesama. Latar utama yang dijadikan tempat bercerita yaitu peternakan "MANOR" yang dikelola oleh Tuan Jones. Disamping peternakan lainnya yang menjadi pelengkap yaitu peternakan "Foxwood" yang dikelola oleh Tuan Pilkington dan peternakan "Pinchfield" yang dikelola oleh Tuan Frederick.


Awalnya saya prediksikan buku ini akan berkisah tentang binatang ternak yang berkelahi dengan peternaknya karena tidak merasa puas atas apa yang mereka dapatkan, seperti pemberian ransum yang kurang sementara yang mereka hasilkan melimpah ruah. Saya memprediksikan kisah ini karena saya mempunyai latar belakang yang dekat, saya adalah mahasiswa peternakan di salah satu kampus pertanian tentunya saya mengetahui prinsip efisien itu. Setidaknya prediksi saya benar sampai Snowball, tokoh babi yang diceritakan dalam novel bersama kawanan ternak lainnya mengusir Tuan Jones. Setelah berhasil mengusir Tuan Jones para binatang membuat kesepakatan seperti membuat bendera baru, nama peternakan baru, dan pedoman baru yang melambangkan kemerdekaan mereka dari jajahan manusia (Tuan Jones).


Kemudian prediksi saya salah sampai di sepertiga halaman. Alur cerita berubah ketika Napoleon, tokoh babi lain yang diceritakan dalam novel mengusir Snowball secara licik karena berbeda pandangan. Sampai disini saya mulai dapat merasakan aroma satire dari novel ini. Napoleon pun berhasil menjadi pemimpin karena merupakan satu-satunya kandidat terkuat, dan karena babi dikisahkan sebagai binatang paling pintar dalam novel ini. Napoleon berhasil memimpin dan mengelola peternakan "Binatang", nama peternakan yang sudah dirubah, dengan baik. Buktinya sampai terjalin kerjasama dengan peternakan lain disekitarnya "Foxwood" dan "Pinchfield". Namun para binatang selain babi di peternakan "Binatang" merasa tidak ada yang berubah dengan masa Tuan Jones mengelola. Tidak ada ransum tambahan, tidak ada kesejahteraan yang dirasakan selain hanya rasa kebanggaan mereka karena berdiri diatas kaki sendiri. Kesejahteraan itu hanya dirasakan Napoleon bersama kawanan babi, anjing, dan ayam jagonya yang ikut memuluskan langkah Napoleon.


Para binatang tampak seperti dungu yang dibodohi Napoleon. Mereka baru tersadar ketika mendengar pedoman utama mereka yang semula berbunyi "EMPAT KAKI BAGUS, DUA KAKI BURUK" berubah menjadi "EMPAT KAKI BAGUS, DUA KAKI LEBIH BAGUS LAGI" dan mendengar rencana busuk para babi yang ingin menghilangkan lambang kuku dan tanduk berwarna putih pada bendera mereka dengan dasar warna hijau yang tetap dipertahankan. Para binatang mengerti dan tersadar bahwa babi sudah seperti manusia, dan mereka tak dapat membedakan keduanya.


Begitulah alur cerita yang membuat prediksi saya salah seutuhnya. Meskipun begitu saya terkesan dan menikmati alur cerita ini sampai akhir, karena untuk cerita yang sebenarnya berat, jari dan mata saya tidak harus jauh-jauh bepergian membuka KBBI. Bahasa yang digunakan pun seperti komedi yang berhasil membuat saya tersenyum dan tertawa sesekali, karena saya cukup bodoh untuk melakukan hal itu sepanjang cerita.


Setelah membaca seluruh isi buku ini, saya merasa sebuah peternakan didalam novel ini cenderung seperti sebuah negara dan perkelahian antara binatang dengan manusia seperti pertempuran-penjajahan yang kemudian para binatang memenangkan pertempuran. Namun setelah memenangkan pertempuran, para binatang seperti hidup diatas penjajahan sesama binatang dibawah kuasa Napoleon. Tentunya saya sebagai mahasiswa peternakan tidak ingin hal seperti itu terjadi, oleh karenanya saya tetap menerapkan prinsip efisien dalam memelihara binatang ternak.


Saya tak ingin lebih jauh bercerita tentang penulis dan penerjemah buku ini, karena saya tidak mengenal keduanya secara dekat. Saya baru anak kemarin sore yang sedang belajar dunia baca dan tulis ini. Pokoknya saya menyukai cara penerjemah mengisahkan cerita aslinya dan saya harap saya dapat membaca kisah asli dari penulisnya, karena buku pertama kali yang saya inginkan "Animal Farm" adalah buku asli dari semua kisah dalam buku ini.

Jumat 01 Mei 2020
34
1 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Renaldo Achmad

RenaldoAchmad

Tuliskan tanggapanmu tentang Binatangisme : Ketika Peternakan dikelola Binatang Ternak

Baca karya Renaldo lainnya

Binatangisme : Ketika Peternakan dikelola Binatang Ternak

Resensi oleh Renaldo Achmad

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah