

Aku mengira kesendirian adalah tempat tinggal. Ternyata ia hanya persinggahan.
Hari ini aku keluar. Bukan karena ada yang menarikku keluar, tapi karena aku akhirnya berani membuka pintu dari dalam.
Selesai kelas, aku melangkah ke kelas Kewarganegaraan. Kelas yang bukan kelasku. Aku izin kepada Bapak Dosen. Beliau berkata, "Silakan, tapi tanpa absen."
Tanpa absen. Kalimat itu menamparku dengan lembut.
Berapa banyak hal yang kita lakukan hanya karena ingin diabsen? Ingin dilihat, ingin diakui hadir. Padahal kehadiran yang paling jujur adalah kehadiran yang tidak mengharapkan catatan.
Aku datang untuk bertanya. Tentang materi minggu lalu yang tertinggal: apa itu warga negara dan bagaimana menjadi yang baik?
Lalu aku mengerti. Manusia tidak pernah menjadi manusia sendirian. Kita adalah zoon politikon, kata Aristoteles. Makhluk yang hanya bisa utuh jika berada bersama yang lain.
Negara bukan sekadar batas di peta. Negara adalah kesepakatan kita untuk tidak saling mengganggu, tapi saling menjaga.
Menjadi warga negara yang baik bukan soal hafal Pancasila. Tapi soal kesadaran: bahwa kebebasanku berakhir tepat di mana perasaan orang lain dimulai.
Bahwa jika sejak hari pertama kehadiranku terasa mengganggu, maka meminta maaf adalah bentuk tertinggi dari kewarganegaraan.
Karena pada akhirnya, semua tentang pertemanan, tentang kelompok, tentang negara, adalah tentang satu hal yang sama: bagaimana kita hadir tanpa menyakiti.
Hari ini, aku hadir. Tanpa absen. Tapi dengan hati yang penuh.

