

Aku mengenal Aal di hari pertama PKKMB.
Saat itu kami sedang diarak menuju gedung, di antara lautan mahasiswa baru yang sama-sama kebingungan. Seperti biasa, barangku banyak sekali. Ransel di punggung, map di tangan kiri, tumbler yang hampir jatuh. Dan di tengah kerumunan yang berdesak itu, tali sepatuku lepas.
Aku menoleh ke orang asing di belakangku. Tanpa berpikir panjang, aku menitipkan semua barangku padanya.
"Aku tali sepatunya lepas, pegangin bentar ya?"
Orang asing itu mengangguk. Diam, tapi pegangannya erat. Setelah selesai, baru aku tahu namanya Aal.
Hari-hari ospek setelah itu melelahkan. Panas, lapar, dimarahi kakak tingkat, berjalan tanpa henti. Tapi di setiap barisan yang panjang itu, aku selalu menemukan Aal. Kita mengantuk bersama, mengeluh bersama, dan akhirnya berteman.
Tidak kusangka, pertemanan yang dimulai dari tali sepatu yang lepas itu harus sampai pada luka.
Kemarin sore, di sekitar Pondok Indah, kita jatuh bersama. Motor oleng, aspal menyambut kami dengan keras. Aku hanya perlu membersihkan luka dan memeriksa kepalaku yang masih pening. Tapi Aal...
Aal harus menahan sakit yang lebih dalam. Sampai harus diurut karena rahimnya geser karena jatuh denganku.
Aal,
Terima kasih karena di hari pertama itu kau mau berhenti untukku, seorang asing yang merepotkan.
Dan maaf, karena di hari kemarin, aku membuatmu terluka.
Maaf ya, Aal-ku.

