oranment
play icon
Tentang Kepulanganmu Lewat Sedetik
Puisi
Kutipan Puisi Tentang Kepulanganmu Lewat Sedetik
Karya Wildanf
Baca selengkapnya di Penakota.id

Sebetulnya, ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan kepadamu. Namun, setiap kali kucoba menyusunnya menjadi kalimat, selalu ada sesuatu yang menahannya di ujung lidah.


Ada ketakutan, rasa iba, perasaan tidak aman, dan sekian banyak hal yang bahkan belum sempat kuberi nama. Semuanya mengendap begitu lama, menjadi sesuatu yang tak sanggup kutelan, tetapi juga tak pernah benar-benar berani kumuntahkan.


Kau tahu, aku pernah begitu tekun menyebut namamu dalam doa-doa ku, bahkan sampai dengan hari ini. Kumohon kepada Tuhan agar dilunakkan-Nya hatimu, sebagaimana besi dilunakkan bagi Daud, sebagaimana Musa memohon agar dilapangkan jalan di hadapan Firaun. Aku melangitkan namamu bukan karena begitu pandai berharap, melainkan karena tak lagi kutemukan tempat untuk meminta.


Sebulan kulewati sendiri, meneguk getir dari hari-hari yang kehilangan rasanya. Kau pergi membawa begitu banyak hal, hingga yang tertinggal padaku hanyalah ruang-ruang kosong yang bahkan tak tahu bagaimana caranya kembali berpenghuni.


Lalu, rupanya Tuhan mendengar.


Hanya saja, hingga kini aku masih bertanya-tanya, apakah kepulanganmu merupakan jawaban atas doaku atau sekadar belas kasih-Nya kepada seseorang yang sudah terlampau letih menengadahkan tangan dan tetesan air mata.


Sebab kau memang kembali, tetapi tidak bersama kehangatan yang dahulu kukenal. Kau pulang seperti tubuh yang lupa bagaimana caranya memiliki nyawa. Kupeluk dan kurengkuh kehadiranmu, tetapi bahkan seujung kuku pun tak kutemukan letak hangatnya.


Kau datang membawa cerita tentang sebulan yang kau habiskan tanpaku. Kau menyusunnya begitu rapi, seolah aku tak pernah mengetahui apa pun tentang hari-harimu. Kau meminta waktu untuk sembuh, tetapi dari mulutmu masih kudengar usaha penyamaran yang begitu keras. Ada begitu banyak hal yang kau sembunyikan di sela-sela kalimat, begitu banyak bagian yang sengaja kau biarkan gelap. Kau berusaha tampak tegar, hebat, dan bijaksana, tetapi bahkan luka yang kau tutup rapat pun telah lama mengeluarkan bau yang tak sanggup disembunyikan.


Yang lebih menyakitkan, kau pulang membawa penyesalan karena kehilanganku, tetapi segala yang kudengar justru menyerupai kisah seseorang yang sedang jatuh cinta. Bukan kepadaku, melainkan kepada dia yang baru saja mengisi hari-harimu. Kau ceritakan dirinya dengan begitu hidup, begitu bangga, seolah aku hanya seorang kawan lama yang kebetulan menyediakan telinga.


Namanya kau letakkan di tengah percakapan kita, bahkan sesekali kau jadikan bahan kelakar remeh. Barangkali kau lupa, rumah tua yang kau anggap kosong ini pernah menampung seluruh cintamu. Dindingnya mungkin tak lagi bersuara, tetapi bukan berarti ia telah kehilangan kemampuan untuk merasakan.


Betapa ganjilnya kepulanganmu kali ini. Aku pernah memohon agar kau kembali, dan ketika kau benar-benar berdiri di hadapanku, aku justru menyadari bahwa kau datang bukan karena merindukan rumah ini. Kau datang setelah pintu yang lain tertutup untukmu. Setelah seseorang yang kau inginkan tak lagi menyediakan tempat. Kau membawa hati yang koyak oleh tangan lain, lalu berharap tangan yang dahulu kau tinggalkan masih bersedia menjahitnya. Aku bukan tujuan dari perjalananmu. Aku hanya alamat lama yang kau ingat ketika tak ada lagi tempat untuk pulang. Dan barangkali, itulah yang paling sulit kuterima - menjadi seseorang yang baru kau inginkan setelah orang lain tak lagi menginginkanmu.


Tetap kubukakan pintu, kupersilahkan kau masuk.


Tak banyak yang kuminta. Hanya satu - sembuhkanlah dirimu. Bereskan apa yang masih berserakan di dalam hatimu. Kupikir, barangkali cinta masih bisa tumbuh kembali apabila kita memberinya tanah yang lebih baik. Barangkali aku masih mampu mencintaimu sebagaimana dahulu, dengan utuh, tanpa curiga, tanpa harus terus-menerus mengingat dari mana kau baru saja pulang.


Kau berjanji akan belajar. Kau meyakinkanku bahwa kali ini semuanya akan berbeda. Tetapi semakin lama aku memandangmu, semakin sulit kubedakan antara cinta dan belas kasihan. Kulihat tubuhmu yang tak lagi terurus, kesehatanmu yang merapuh, dan kisah cintamu yang meninggalkan begitu banyak luka. Aku ingin kau baik-baik saja. Sungguh. Namun, keinginan itu rupanya tidak lagi sama dengan keinginan untuk memilikimu.


Aku mulai menyadari betapa seringnya rasa iba mengenakan pakaian cinta. Dari kejauhan, keduanya tampak serupa. Sama-sama ingin menjaga, sama-sama tak tega melihat seseorang terluka. Tetapi cinta ingin tinggal, sementara belas kasihan sering kali hanya takut meninggalkan.


Dan mungkin, selama ini aku bertahan bukan karena masih ingin bersamamu, melainkan karena tak sanggup membayangkanmu harus kembali sendirian.

Aku telah mencoba, sungguh-sungguh mencoba. Kucari kembali bagian-bagian dirimu yang dahulu membuatku jatuh cinta.


Kuperhatikan hal-hal kecil tentangmu, kudengarkan ceritamu, kupaksakan kakiku melangkah ke dunia yang perlahan terasa asing. Tetapi setiap kali aku berusaha mendekat, ada sesuatu dalam diriku yang justru semakin menjauh. Aku seperti sedang mengunjungi rumah masa kecil, mengenali setiap sudutnya, mengingat segala yang pernah terjadi di dalamnya, tetapi tak lagi mempunyai keinginan untuk menetap.


Aku masih mengingat bagaimana rasanya mencintaimu. Hanya saja, aku tak lagi merasakannya.


Kau begitu mendambakan hubungan yang lebih dewasa. Aku mencoba memahami maksudmu. Mungkin lebih sedikit menuntut, lebih banyak memberi ruang, lebih tenang menghadapi ketidakpastian. Namun, semakin kujalani, semakin kusadari bahwa ketenanganku bukan lahir dari kepercayaan. Aku tidak lagi cemburu, bukan karena begitu yakin kepadamu. Aku tidak lagi bertanya kau sedang bersama siapa, bukan karena tak ingin mengusik kebebasanmu. Aku tidak lagi mencari keberadaanmu, bukan karena telah belajar melepaskan kekhawatiran.


Aku hanya tidak lagi ingin tahu, dan damai itu begitu hangat kurasakan.


Dan anehnya, kesadaran itulah yang mula-mula membuatku takut.

Sebab dahulu, sedikit saja jarak darimu mampu membuat pikiranku gaduh. Kini, bahkan kemungkinan kehilanganmu tak lagi membangunkan apa pun di dadaku. Tak ada amarah yang ingin kutuntaskan, tak ada kecemburuan yang ingin kupertanyakan. Hanya sebuah ruang lengang, tempat segala perasaan yang dahulu begitu riuh rupanya telah lama berhenti bersuara.


Barangkali beginilah cinta menemui ajalnya. Tidak selalu dengan pertengkaran, pengkhianatan, atau pintu yang dibanting. Kadang ia mati begitu perlahan, sampai kita masih sempat menyiapkan tempat tidur bagi seseorang yang tak lagi ingin kita peluk.


Aku pun mulai memahami bahwa selama ini ada begitu banyak bagian dari diriku yang kukecilkan agar kita tetap dapat berdiri berdampingan. Kuturunkan harapan, kutawar batas-batas yang dahulu kujaga, bahkan beberapa kali kubiarkan harga diriku menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Kukira itulah bentuk kedewasaan dalam mencintai. Ternyata, aku hanya semakin pandai meninggalkan diriku sendiri.


Kini aku tak lagi ingin mengulanginya.


Kau pernah berkata akan membuatku jatuh cinta lagi. Tetapi bagaimana jika yang telah berubah bukan caramu mencintaiku, melainkan hatiku yang tak lagi menyediakan tempat? Bagaimana jika segala upayamu datang pada musim ketika tak ada lagi benih yang ingin kutanam?


Aku tidak membencimu. Barangkali itu juga yang perlu kau ketahui. Aku masih ingin melihatmu sembuh, hidup dengan lebih lama, dan menemukan kebahagiaan yang tak perlu kau peroleh dengan melukai siapa pun. Namun, untuk pertama kalinya, aku ingin semua itu terjadi tanpa harus menjadikan diriku bagian darinya.


Aku tak ingin lagi menyebut rasa kasihan sebagai kesetiaan. Tak ingin menjadikan kenangan sebagai alasan untuk terus tinggal. Sebab sebaik apa pun masa lalu kita, ia tidak seharusnya menjadi hukuman yang harus kita jalani seumur hidup.


Maka, mari kita sama-sama berdoa. Semoga tak ada sesal yang tumbuh menahun, tak ada air mata yang terus-menerus meminta diusap, dan tak ada lagi seseorang yang bertahan hanya karena tak tega melihat yang lain terluka. Semoga kau lekas sembuh, bukan agar bisa kembali kepadaku, melainkan agar suatu hari kau mampu mencintai tanpa terlebih dahulu menghancurkan sesuatu.

Dan semoga aku dimaafkan atas satu hal yang barangkali tak pernah kau perkirakan - aku tidak lagi menunggumu.


Dahulu, aku meminta kepada Tuhan agar kau menemukan jalan pulang. Kini, aku hanya memohon agar kau mengerti mengapa pintu itu tak lagi kubuka.

Bukan karena aku ingin membalas kepergianmu. Bukan pula karena aku ingin kau merasakan kehilangan yang dahulu kutanggung sendirian.


Aku hanya telah selesai.


Dan dari segala perasaan yang pernah kau hadirkan, yang tersisa ketika kubayangkan hidup tanpamu ternyata bukan kesedihan.

Melainkan kelegaan. Betapa terlambatnya kepulanganmu. Ternyata aku pun sudah lama pergi, hanya aku tidak menyadarinya.

calendar
22 Oct 2026 23:15
view
9
idle liked
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig