

Aku mengerti sekarang, bahwa mencintai adalah menjadi akar yang tak perlu dikenang, selama bunga yang dijaganya masih mampu bermekaran. Ada bahagia yang tak meminta apa-apa, selain menjadi sedikit teduh bagi hatimu yang terlalu lama berteduh di bawah langit yang keliru.
Aku tidak menjadi kekurangan karena memberi. Justru dari sana, aku menemukan kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Barangkali benar, selama ini kita memang tidak setara. Ada yang terlalu banyak kau beri, ada yang terlalu sedikit kupahami. Maka, kucoba memperbaikinya, sejauh yang aku mampu, tanpa lagi meminta apa pun sebagai ganti.
Jika suatu hari dunia terlalu rumit untuk kau pahami, kemarilah. Pintu rumahku tidak memiliki lubang kunci. Kau boleh datang kapan pun langkahmu terasa berat, kapan pun kau membutuhkan tempat untuk merebahkan lelah, atau ketika sofamu tak lagi cukup nyaman untuk menampung segala yang tak sanggup kau ceritakan.
Aku mencintaimu kali ini bukan lagi untuk diriku, melainkan untukmu. Agar kau lekas sembuh, agar matamu kembali mampu menemukan keindahan pada dunia yang pernah begitu keras kepadamu. Dan jika kelak hari itu tiba, barangkali aku sudah tidak lagi berada di sana. Bukan karena aku tak ingin melihatmu bahagia, melainkan karena aku pun telah menemukan jalan pulangku sendiri.
Sebab pada akhirnya, aku telah utuh—dan selesai.

