

[Cikal] 17 November 2017
Kucing di dekat tangga stasiun mendekati kakiku, membuat ku sontak menggeliat geli dan menghindari, tidak seperti alergi, ~
ah aku baru ingat, aku memang mudah terganggu terhadap apapun, untuk saat ini, disaat aku banyak pikiran, kemudian kucing itu mendekati seorang wanita paruh baya yang membawa makanan kucing yang ia tuangkan di pinggir lorong. ~
Tidak dapat diprediksi, aku sudah berusaha pulang lebih cepat, stasiun ini tetap ramai, tetap bising, ~
anak kecil merengek meminta jajan pada ibu nya, "ah kurang ajar memang toko roti ini, baunya semerbak ke seluruh penjuru lorong dan peron," keluh ku dalam hati. ~
Suara penyiaran jadwal kereta dengan volume normal kurasakan sebaliknya, memekakkan telinga, ditambah kereta jarak jauh yang lewat sudah seperti suara ultrasonik. ~
Aku memilih menjauh dari orang orang menunggu kereta api datang, sedang mereka ramai berdiri di belakang garis kuning, berhimpitan bersiap masuk kereta padahal kereta masih berjarak 2,198 km dari stasiun ini, mereka seperti laron yang mendekati cahaya, kereta sebagai lampunya. ~
Sampai ada wanita paruh baya, "oiya.. si wanita kucing itu...", menepuk bahuku, aku menghela napas, mengatur air muka ramah, agar terlihat tak terganggu.~
(menggunakan bahasa isyarat)
aku bingung, terkejut, pertama, tiba tiba sekali, diam sekitar dua detik, oh dia tuli dan tidak dapat bicara, kedua, mengapa dia mengira aku akan mengerti?
"mmmh maaf… sebentar" buru buru aku mengambil gawai di tas ku, melepas earphone yang sengaja ku pasang, padahal tidak ada musik yang aku nyalakan, hanya sekedar cara menghindari pembicaraan orang. Kemudian, aku mengetik di layar.
maaf saya tdk faham bahasa isyarat, ada yg bisa saya bantu? kamu bisa mengetik disini.
terima kasih mbak, hp saya mati, boleh saya pinjam untuk sms ibu saya?
oh iya silakan
selesai menggunakan telepon genggam ku, aku kembali mengetik .
mau kemana mbak? mau bareng? saya ke bogor.
ke bekasi
"mbak itu bekasi sudah sampai juanda, mau saya panggilkan PKD?" Aku berbicara sambil menggerakan tangan ke layar pengumuman dan menunjuk satpam stasiun.
tidak usah mbak saya sudah biasa, mbak terimakasih
"oke hati hati mbak" aku tidak tahu mengapa harus berteriak, apakah itu sia sia, yang jelas kami sedang sama-sama tergesa.
Aku kembali memasang earphone, menggerak-gerakkan layar ku secara acak, "ah.. aku mau lihat kotak keluar pesan"
Ah Tuhan Maha asik bercanda saja, memberikan pengingat dibayar kontan.

