

Kusampaikan kepada kasur,
agar kau segera tidur.
Bila tidak, peneguk anggur
yang tertidur,
mendengkur, menghampar syukur.
Kusampaikan kepada langit,
agar kau segera bangkit.
Bila tidak, layangan singit
yang terbangkit,
membentang, menyambut terbit.
Kelak kau buku bersampul merah
yang tertidur dalam gundah,
lalu terbangkit, meloloskan diri penuh gairah
dari celah kata yang sepi—
menyembul di permukaan utopi
dan tak ada lagi kalimat yang ditutupi.
(Jakarta, 2026)

