

serupa dunia yang terjual
kulihat dari jauh, diriku makin asing dari diri sendiri
menyerahkan kekalahannya pada puisi yang entah
maksud dan tujuannya apa.
bagaimana kita kenal
pada kita, yang sehari-hari duduk
dalam kemerenungan sebuah kopi
yang mengaduk dirinya sendiri
dalam ting, ting, ting bunyi menyerupa topan
mendaratkan kepuncah hidung kita yang bolong
tak ada nama lagi
dalam perang, hanya kekalahan
yang menusuk-nusuk kita dalam jantung
memompa hidup menuju kematian
tak ada lagi

