

“Jangan belajar filsafat, nanti kamu murtad loh”. Kata yang sering kita dengar Ketika ada orang yang ingin belajar apa sih itu filsafat, bukan hanya pada kalangan muslim tetapi hampir seluruh orang yang belum mengetahui atau yang belum ada niatan belajar filsafat akan bilang seperti itu.
Apakah filsafat sebuah pembahasan yang melangit? kok sampai banyak orang yang enggan mempelajarinya, bahkan orang muslim itu sendiri. Apa memang teks filsafat itu oleh kebanyakan orang adalah teks yang membosankan dan membingungkan? Atau bahkan teks filsafat itu adalah teks dongeng yang dapat membuat orang-orang menjadi ribet karena pembahasannya yang ribet dan sulit untuk di mengerti?
Sebelum di bahas lebih jauh, mari kita berkenalan dulu dengan apa sih filsafat itu? Jika dilihat dari kata filsafat itu sendiri terdiri dari dua kata, yaitu Philos dan Shopia. Philos yang berarti kebijaksanaan/bijaksana, dan shopia yang berarti cinta. Berarti filsafat itu adalah cinta akan kebijaksanaan. Terus akan timbul pertanyaan baru nih, apakah kebijaksanaan itu? Nahh kebijaksaan itu adalah dimana kita sebagai seorang insan manusia bisa mengetahui batas diri kita sendiri, yang di mana mengutip dari pak Fahrudin Faiz, seseorang itu harus tau diri dan tau batas agar terhindar dari sifat tamak, serakah dan pelit.
Kenapa harus filsafat, kan sudah banyak cabang ilmu dan pengetahuan yang telah kita ketahui dan pelajari dari jenjang Pendidikan? Nahh sesuai dengan pengertiannya tadi, filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan, tujuan adanya adanya ilmu pengetahuan adalah untuk kemaslahatan umat, terutama umat islam. Hal ini termaktub dalam Q.S. An-Nisa’:26, dimana kita sebagai manusia yang dibekali akal dan pikiran harus bisa menjadi kemaslahatan untuk umat manusia semua. Dimana timbulnya kemaslahatan yang menjadi tujuan ilmu dan pengetahuan itu tadi? Itu semua timbul dari cinta akan kebijaksanaan seseorang terhadap ilmu dan akal pikiran yang di berkahkan oleh sang maha pencipta.
Bisa dikatakan bahwa, semua ilmu dan pengetahuan yang sekian banyak pada masa kini adalah hasil dari filsafat, karena dari filsafat muncul-lah beberapa ilmu yang hari ini kita ketahui bahkan kita pelajari dari jenjang Pendidikan. Munculnya ilmu dari filsafat karena kecintaannya terhadap kebijaksanaan bahwa manusia adalah mahkluk ciptaan yang sempurna karena dibekali akal dan pikiran sebagai bekal untuk menjadi manusia yang berdaya dan memberi manfaat yang baik untuk semua umat tanpa terkecuali umat islam itu sendiri.
Kita sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW yang percaya bahwa beliau adalah nabi dan rosul terakhir dan penutup para nabi, dan salah satu mu’jizat dari beliau adalah Al-Qur’an. Pernah tidak kalian berpikir kenapa Nabi dan Rosul yang agung di berikan mu’jizat Al-Qur’an yang notabene adalah sebuah tulisan yang di tulis di kertas? Itu karena Allah SWT ingin mengajarkan kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW untuk bisa memberdayakan akal dan pikiran kita selaku sebagai makhluk ciptaan yang sempurna dan sebagai bekal kedepan untuk lebih maju dan mencapai sebuah kemaslahatan yang telah tertulis dalam kitab suci Al-Quran kita.
Sudah 14 abad lamanya umat islam telah merasakan dan belajar tentang Al-Qur’an ini, dan sudah banyak pula ilmu dan pengetahuan yang lahir dari sumber Al-Qur’an, serta banyak kisah yang di ceritakan didalamnya agar kita bisa muhasabah diri untuk berpikir menjadi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Pedoman Al-Qur’an sebagai wahyu dan perpaduan memberdayakan pikiran melalui metode berfilsafat adalah sebuah perpaduan yang sangat elegan, dimana kita sebagai makhluk yang dibekali akal dan pikiran oleh sang maha pencipta dan mempunyai landasan wahyu dari sang maha pencipta.
Pedoman yang tidak akan tergerus oleh zaman, bahkan bisa dibilang pedoman yang lebih revolusioner yang pernah diwahyukan kepada seorang nabi. Dari pedoman itu lahirlah beberapa tokoh-tokoh ilmuan muslim yang sangat berpengaruh pada zaman abad keemasan islam, yang melahirkan beberapa terbosan yang penting dan sampai saat ini masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Pada rentan waktu abad ke-9 hingga abad ke-14 masehi merupakan puncak kegemilangan islam, kegemilangan dan pengaruh islam terhadap ilmu dan pengetahuan abad pertengahan adalah hasil dari muhasabah menggunakan metode berfilsafat diri dari tokoh-tokoh islam.
Sebut saja seperti Ibnu Sina, kalau di barat lebih sering di sebut Avicena, Al-khawarizmi, Abu Qasim Az-Zahrawi, Ibn Al-Haytam, Al-Ghozali, Ibn Rusyd dan masih banyak lagi tokoh-tokoh dari golongan islam yang berpengaruh dan penemuannya masih bis akita rasakan hingga hari ini. para tokoh tersebut selain di labeli seorang ilmuan, mereka juga di labeli seorang filsuf, kenapa harus di labeli seorang filsuf juga, kan penemuanya tentang science? Karena mereka menggunakan metode berfilsafat untuk menemukan keajaiban dari wahyu Al-Qur’an untuk bekal mengahadapi zaman yang akan datang.
Tokoh-tokoh islam yang disebutkan tadi menggunakan filsafat sebagai metode dalam memahami wahyu Al-Qur’an, Sunnah dan hadist. Sekarang yang menjadi pertanyaan kenapa sih metode untuk memahami wahyu dari Allah yang diberikan kepada nabi menggunakan metode filsafat?. Sebelumnya telah disinggung di paragraph awal tadi, bahwa filsafat dalam epistimologinya adalah cinta akan kebijaksaan, kebijaksaan adalah suatu bentuk dimana seseorang bisa memberikan batas atas keinginan dan kebutuhan terhadap diri sendiri, dalam KBBI sendiri adalah kepandaian dalam menggunakan akal budi, pengalaman serta pengetahuan dalam bersikap arif, cermat dan bertindak tepat saat menghadapi masalah atau kesulitan.
Metode filsafat adalah metode menggunakan akal, hati dan iman kita untuk menemukan suatu kebenaran dan kebijaksaan dalam suatu kejadian atau peristiwa. Metode tersebut melalui penalaran secara objektif dan subjektif, penalaran yang dimaksud melalui tahap ontologis, epistimologis dan aksiologis. Tahapan tersebut membantu kita untuk berfikir sistematis dan rasional untuk mencari suatu kebenaran dari suatu peristiwa dan kejadian.
Berfilsafat adalah bentuk cara kita memahami suatu kejadian atau memaknainya, tokoh atau ilmuan islam pada masa GOLDEN AGE of ISLAM menggunakan filsafat untuk memahami dan memaknai isi dari wahyu Al-Qur’an, hadist maupun sunnah yang telah di berikan. Metode filsafat digunakan karena metode tersebut bukan hanya mencari kebenaran melalui akal, tetapi juga melalui beberapa tahap yang menggabungkan antara iman dan taqwa seorang muslim. Dari keimanan dan ketaqwaan muslim dipadukan dengan metode filsafat dalam mencari kebenara-kebenaran yang masih belum terungkap terkandung dalam Al-Qur’an.
Masih banyak misteri dari kebeneran Al-Qur’an yang masih belum kita pahami, dari kisah tokoh dan ilmuan muslim tadi, bisa kita ketahui, akal dan pikiran adalah bekal dan anugrah yang istimewa yang Allah SWT berikan kepada kita. Kita sebagai umat dan hamba harus bisa semaksimal mungkin memanfaatkan anugrah yang diberikan, dengan cara kira berpikir yang jernih dibantu dengan metode filsafat untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar, perpaduan iman, taqwa dan metode filsafat akan menjadikan kita sebagai umat yang lebih baik dan bermanfaat untuk umat manusia yang lainnya.
Bekal sebuah wahyu yang sangat revolusioner dan akal pikiran yang jernih selaku makhluk yang sempurna adalah sebuah kelebihan yang patut kita syukuri sebagai umat muslim. Kemampuan akal dan pikiran kita yang menjadikan kita mahkluk yang sempurna daripada makhluk-makhluk ciptaan lainnya. Dengan menggunakan metode berfilsafat dan dibekali oleh pedoman wahyu Al-Qur’an kita bisa memberdayakan akal pikiran kita untuk bisa menjadi manusia atau umat yang berdaya dan bermanfaat bagi sesama umat manusia.
Mengutip dari ayat Q.S. Ar-Rad:11 bahwa Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak berubah dengan sendirinya. Dari pedoman ini bisa kita menarik kesimpulan bahwa Allah SWT memperintahkan kita untuk bisa merubah nasib kita bahkan nasib kaum muslim yang lain untuk menjadi lebih baik kedepannya. Maka dengan menggunakan metode berfilsafat, dan menggunakan akal pikiran yang jernih serta pedoman yang kuat, kita merubah nasib kita selaku umat muslim agar bisa berdaya dan dapat memberikan manfaat yang banyak bagi seluruh umat manusia di dunia ini.
Jadi berfilsat bukan untuk menjauhkan kita dari agama dan Allah SWT, tetapi berfilsafat adalah cara kita untuk mendekatkan diri, bersyukur dan bermuhasabah diri bahwa kita hanya hamba dan makhluk dihadapannya. Karena kita dibekali akal dan pikiran untuk berpikir untuk bisa membedakan mana yang baik dan benar serta bekal kita beribadah untuk mendekatkan diri kepadanya.
Sekian tulisan yang dapat saya tulis, jika ada kesalahan dalam hal pemahaman dan pikirsan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Untuk menanggulangi kesalahan berpikir dan sesat pemahaman perlu diberikan kritik dan saran dari para pembaca.
Sekian Wassalamualaikum Wr.Wb

