oranment
play icon
H. O. S Tjokroaminoto Sang Raja Tanpa Mahkota
Kutipan Cerpen H. O. S Tjokroaminoto Sang Raja Tanpa Mahkota
Karya akbardzulfikar1899
Baca selengkapnya di Penakota.id

Pasti kalian tidak asing kan dengan istilah raja tanpa mahkota, yahh memang istilah tersebut sering kita dengar, entah itu dari media sosial, buku, koran dan lain sebagainya. Kalau dalam istilah sepak bola sih yang mendapat julukan tersebut adalah Tim Nasional Belanda, dalam sepak bola sendiri istilah tersebut diberikan sebagai sang runner-up, atau yang mendapat posisi kedua atau yang kalah dalam partai final kompetisi sepak bola. Begitupun istilah inilah yang melekat pada diri Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

           Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto adalah nama lengkap beliau, yang biasa disapa dengan H. O. S. Tjokroaminoto itu. Beliau lahir di Ponorogo 16 Agustus 1882 dari ayah R.M. Tjokroamiseno. Ayahanda beliau adalah pejabat wedana kloco, Magetan, kakek beliau R.M. Tjokronegoro merupakan adipati Ponorogo, jika diruntun ke atas Tjokroaminoto adalah keturunan langsung dari Ki Ageng Hasan Besari salah satu pendiri pondok pesantren Tegal Sari Ponorogo. Beliau adalah anak ke-2 dari 12 bersaudara. Tjokroaminoto bisa dibilang merupakan keturunan dari keluarga terpandang pada zamannya, atau bisa disebut salah satu keturunan priyayi.

           Yahh masa kecil beliau sama saja dengan anak-anak lain yang berada di sekitarnya, beliau menghabiskan masa kecil beliau dengan bermain Bersama dengan teman-teman sebaya beliau di desa tempat beliau berada. Pada saat sudah menginjak usia sekolah dasar beliau dikirim ke sekolah pamong praja OSVIA di  Magelang untuk mengenyam Pendidikan dasar disana, berbeda dengan teman-teman bermain beliau, beliau yang notabene seorang keturunan priyayi diberikan kesempatan untuk menempuh jenjang Pendidikan yang mungkin tidak bisa diakses oleh teman-teman bermainnya sewaktu kecil dulu. Beliau belajar berbagai pelajaran umum disekolah, dan tidak luput juga pembelajaran agama disana, di Magelang beliau ditempa pengetahuan-pengetahuan umum dan agama yang sangat disiplin.

           Selama mengenyam Pendidikan di Magelang tersebut beliau bertemu dengan beberapa guru dan kyai yang sangat menginspirasi beliau, salah satu yang sangat menginspirasi beliau Ketika beliau belajar ngaji di Magelang, kyai yang mengajarkan bagaimana ajaran islam yang baik dan benar. Dari salah satu pondok pesantren di Magelang ini, Tjokroaminoto memperluas khasanah ilmu pengetahuan umum dengan agamanya, beliau berpikrian bahwa ilmu pengetahuan umum yang didapat dari sekolah dapat bersanding dan berkolaborasi dengan baik dengan ajara-ajaran agama islam, salah satu prinsip yang beliau dapat Ketika mengenyam Pendidikan di pesantren adalah istilah Hijrah, yang sangat mempengaruhi jalan pikrian beliau kedepannya.

           Setelah menyelesaikan Pendidikan di sekolah pamong praja OSVIA, beliau lanjut bekerja sebagai juru tulis patih di Ngawi, tiga tahun kemudian beliau keluar dan memutuskan untuk pindah ke Surabaya, nahh sebelum pindah ke Surabaya ini nihh, beliau bertemu dengan sang pujaan hati, yaitu ibu Soeharsikin. Beliau menikah dengan ibu Soeharsikin dan dikaruniai lima orang anak, yaitu, Siti Oetari yang kelak besok akan menjadi istri pertama dari sang Proklamator Ir. Soekarno, Oetarjo Anwar Tjokroaminoto, Harsosno Tjokroaminoto, Siti Islamiyah dan yang terakhir adalah Ahmad Suyud. Selapas itu beliau langsung bertolak ke Surabaya untuk melanjutkan Hijrah beliau.

           Di Surabaya beliau bekerja pada surat kabar firma inggris koy&co, dan beliau melanjutkan Pendidikan beliau di sekolah kejuruan Burgerlijk Avondschool mengambil jurusan Teknik. Di Surabaya ini beliau bertemu dengan banyak tokoh-tokoh nasionalis yang lain baik dari kalangan muda maupun kalangan tua, seperti H. Agus Salim, Kertosiwiryo, Soekarno, Semaun, Muso, Alimin, Darsono dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang ditemui beliau di sana. Di rumah Surabaya ini, ndalem beliau dijadikan sebagai tempat padepokan mini untuk saling bertukar pikiran dari kalangan tokoh-tokoh muda maupun tua, dari rumah beliau lah akan terlahir para intelektual-intelektual yang sangat berjasa bagi bangsa, semboyan yang ditanamkan singgsana kecil beliau di Surabaya adalah “ rumah ini adalah tempat untuk bertanya, jadi saling bertanyalah satu sama lain”.

           Ketika beliau sudah tinggal beberapa tahun di Surabaya ini, selain bertemu beberapa tokoh tadi, beliau juga melihat berbagai probelamtika sosial yang terjadi di tanah Surabaya, terutama probelamtika yang terjadi pada kaum buruh dan pedagang pribumi sekitar. Probematika ini yang menggerakan hati beliau untuk bergerak membantu para pedagang dan buruh tadi untuk keluar dan membimbing mereka keluar dari probelamtika yang mereka hadapi. Dari probelamatika yang sedang terjadi ini hati beliau bergerak untuk mendirikan sesuatu yang bisa menaungi mereka dan membimbing mereka untuk keluar dari masalah yang ada, maka terbentuklah Sarekat Islam yang awal mulanya adalah Sarekat Dagang Islam. Beliau Tjokroaminoto mendirikan SI Bersama H. Samanhudi untuk tujuan mengayomi, membimbing dan memberdayakan para pedagang dan buruh dari jeratan persaingan pasar yang mayoritas dikuasai oleh para saudagar cina.

           Bersama H. Samanhudi Tjokroaminoto menata masyarakat sosial kelas buruh dan pedagang ke masyakat yang lebih bermartabat dan merdeka secara materiil dan pikiran. Dengan dibantu oleh golongan muda yang berada dipadepokan kecil beliau yaitu Soekarno, Semaun dan lain sebagainya, mereka membuat ide bagaimana cara untuk membuat tatanan masyarakat kelas buruh dan pedagang ini lebih berdikari dan merdeka dari cengkraman para saudagar-saudagar yang menguasai pasar. Dari sini H. Samanhudi dan Tjokroaminoto memadukan pemikiran-pemikiran islam dengan pemikiran-pemikiran umum untuk tujuan yang ingin dicapai, Bersama golongan muda tadi, pengaruh Serekat Islam tadi memberikan pengaruh yang besar terhadap warga Surabaya dan sekitarnya, bukan hanya di sekitaran Surabaya pengaruh dari adanya Serekat Islam tadi, namun hampir menyeluruh di Indonesia, dengan cepat pula para pengikut Sarekat Islam berkembang sangat cepat yang mencapai hampir 2,5 juta anggota pada saat itu.

           Para anak padepokan kecil Tjokroaminoto juga ikut andil dalam berkembang pesatnya pengaruh Sarekat Islam yang hampir menyeluruh kepenjuru negeri, antara lain yaitu Soekarno, Semaun, Muso dan Alimin memberikan ide-idenya untuk kemaslahatan masyarakat buruh dan pedagang. Walaupun banyak dari mereka berbeda pandangan dan pendapat mengenai kemaslahatan masyarakat, namun mereka di satukan dengan satu tujuan yang sama. Hal ini menjadi salah satu daya Tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar, dari situ rekruitmen anggota Sarekat Islam meningkat, seiring dengan meningktanya jumlah anggota Sarekat Islam ini juga semakin luas kepakan sayap pengaruh Sarekat Islam di halayak masyarakt luas.

           Seiring berkembangnya pengaruh sarekat Islam di seluruh penjuru, beliau harus kehilangan sang ratu tanpa mahkota beliau, yaitu romo nyai Soeharsikin yang meninggal dunia sang kekasih meninggalkan beliau Ketika sedang pesatnya perkembangan pengaruh Sarekat Islam di Indonesia, namun hal itu tidak menyurutkan tekad Tjokroaminoto untuk tetap berjuang memperjuangkan para kaum buruh dan pedagang. Beliau dengan nyonya Soeharsikin mempunyai cita-cita Bersama yang luhur, yaitu ingin memberikan manfaat kepada halayak masyarakat untuk menjadi manusia yang bermartabat dan berdaulat, hal ini yang membuat Tjokroaminoto masih semangat memperjuangkan hak-hak dari para kaum buruh dan pedagang serta menyebarkan ajaran agama islam yang humanis kepada kalangan masyarakat sekitar. Cita-cita atau semboyan dari pasangan Tjokroaminoto dan nyai Soeharsikin adalah “sepanjang hidupku aku ingin seperti kapas, yang dimanapun tempatnya mereka akan tetap putih”. Kisah asmara beliau harus dipisahkan oleh maut yang datang, namun cita-cita mereka berdua masih diteruskan oleh Tjokroaminoto dan para murid-muridnya.

           Besarnya Pengaruh dari Tjokroaminoto terhadap perkembangan Sarekat Islam membuat beliau mendapat julukan dari pemerintah kolonial sebagai De Ongekroonde van Java atau dalam sebutan Indonesia nya adalah “Raja Jawa Tanpa Mahkota”. Beliau mendapat julukan tersebut bukan hanya karena pengaruhnya terhadap perkembangan organisasi Sarekat Islam, melainkan beliau juga pelopor pergerakan nasional dan guru dari berbagai tokoh-tokoh nasional bangsa. Dari beliau lahir beberapa tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, Samaun, Muso dan lain sebagainya dengan membawa ideologi yang beragam. Dan dari sinilah pergerakan nasional dari tokoh-tokoh yang pernah belajar Bersama beliau menjadi penggerak sekaligus pendiri bangsa Indonesia. Maka tidak heran jika beliau mendapatkan julukan seperti tadi, karena dari beliau lah para tokoh-tokoh perjuangan pasca kolonialisme membangun negeri dengan berbagai ideologi yang beragam didalamanya.

           Namun sangat disayangkan, apa yang beliau cita-citakan tidak dapat dilihat hasilnya secara langsung oleh beliau, Ketika beliau sudah hampir mencapai apa yang di cita-citakan untuk Indonesia, beliau di panggil oleh sang maha kuasa. Beliau meninggal Ketika berada di Yogyakarta, beliau meninggal pada 17 Desember 1934 dan dimakamkan di TMP Pakuncen Yogyakarta setelah menghadiri kongres Sarekat Islam di Banjarmasin. Apa yang di cita-citakan beliau selama ini sudah diteruskan dengan oleh para murid-muridnya, sampai pada kemerdekaan Indonesia saat ini, namun beliau tidak dapat melihat langsung cita-cita itu sudah dicapai oleh para muridnya.

           Selamat jalan sang gruu bangsa, selamat jalan “Raja” kami, selamat jalan guru kami, semoga apa yang engkau berikan kepada kami sebagai penerus bangsa bisa mejadi muhasabah diri untuk menjadi penerus bangsa yang baik, kontribusimu kepada kami akan selalu kami kenang.


calendar
14 Sep 2026 09:08
view
7
wisataliterasi
Malang, Kota Malang, Jawa Timur
idle liked
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig