Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
RESENSI

Kematian Adalah Nasib yang Tidak Perlu Kita Cemaskan

Oleh arifhukmi

 


Kematian seringkali menjadi sosok menakutkan untuk kita hadapi di dunia yang fana ini, jauh berbeda dengan kelahiran yang kita rayakan dengan sungguh bahagia. Padahal, dua hal itu mestinya kita rayakan dengan kebahagian dan sedikit kepedihan. Di mana pun kita bersembunyi, kematian akan bertamu; ia menguntitmu ke mana pun engkau pergi / ke puncak gunung tertinggi atau ke palung laut terdalam / sepanjang hidupmu ia bertengger di tengkukmu.


 


Begitulah kata Aslan dalam sajaknya Tidak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian hal. 83. Ia membawa kita untuk merenungkan nasib kita di akhir perjalanan hidup nanti, ia menegaskan bahwa kematian adalah nasib yang tidak perlu kita cemaskan; tinggal kematian petualangan yang tersisa. Kematian mesti kita hadapi dengan penuh kebahagian, sedikit kesedihan, tentunya.


 


Saya mencoba berziarah ke “makam” yang dibangun Aslan dalam dalam beberapa sajak-sajaknya dalam buku 'Orkestra Pemakaman'. Saya menemukan bahwa dalam sajak Ritual Kepiluan hal 79, ia mengkritik hegemoni kekuasaan pada waktu itu, ia tidak begitu percaya atas janji-janji yang dilemparkan ke segala penjuru.


Aslan menuliskan kritiknya dengan manis. Sajak ini ditulis 5 tahun pascareformasi, tepatnya tahun 2003, dimana setahun kemudian pemilu berlangsung di negeri ini. Pada saat itu ia berkata orang-orang berpakaian warna-warni jorok datang kepada kami berbicara tentang keadilan dan kesejahtraan yang selalu melemparkan janji manis kepada masyarakat luas. Aslan membayangkannya seperti ini; sekali lima tahun kami korbankan jiwa kami ke dalam kotak-kotak suara / sebuah ritual memilih orang-orang yang menipu kami.  


 


Sajak-sajak yang lain yaitu Rajah di Antara Kedua Buah Dada hal. 55 yang dituliskannya adalah sebuah narasi satire terhadap pemerintahan otoriter ‘Bapak Haji Muhammad Soeharto’ ketika kau memprotes pemerintahan waktu itu kau akan dibredel, dihilangkan, dilenyapkan—kau mesti patuh dan mengaminkan apapun yang menjadi keputusan mereka. Aslan kemudian kembali menciptkan ironi dramatik, ia kembali menegaskan kematian. Coba kita cermati; konon ketika panen gagal dan minyak tanah mahal / ada orang yang memberi ayahnya tiga liter beras dan sebuah cangkul / ayahnya hanya perlu membubuhkan cap jempol / namun ketika ada huru-hara, banyak orang hilang, ditangkap serta dibunuh / ayahnya dituduh terlibat / buktinya secarik kertas bertulis nama ayahnya dengan sebuah cap jempol.  


 


Orang-orang pada waktu itu tidak pernah merasa benar-benar aman, bahkan untuk beraktivas sehari-hari sekalipun, kita dihadapankan pada kenyataan yang tidak pernah kita bayangkan dan tentu saja menginginkannya. Aslan sebagai penyair tentu saja melihat hal itu dari sudut pandangnya sebagai penyair. Ia melihat ada cacahan, tanda atau garis pada telepak tangan Soeharto. Yang menggambarkan kediktatorannya.


Penyair juga tentu saja menulis atas apa yang dilihat, rasa, baca. Ia menangkapnya lalu menyimpanya rapat-rapat, merenungkannya dalam-dalam sebelum ia keluar pelan-pelan sebagai sebuah sajak yang utuh, kuat dan menyentuh segala isi kepala dan hati kita.


 


Sajak-sajak dalam Orkestra Pemakaman juga menawarkan gagasan sepasang kekasih yang tidak direstui penghulu karena persoalan domestik; perjodohan, kelas sosial dan seterusnya. Aslan menggarapnya dengan pedalaman dan perenungan yang begitu panjang selama bertahun-tahun lamanya. Di halaman awal kita akan menjumpai tiga sajak pendek ke pada perempuan yang barangkali berinisial M.  


 


Mari kita nikmati satu persatu sajak itu. Sajak Kecil Buat M (1)hal.4; pada suratku yang tak pernah aku kirim / tergeletak hatiku yang mengering /. Sajak Kecil Buat M (2);meja makan memang belum aku siapkan, dan menurutmu, percintaan tak akan tuntas karenanya / di luar, rembulan merayap di kaca jendela / di sini, ranjangku yang seperti kau—selalu siap menerimaku / aku tidur memeluk cermin yang telah melukai wajahku. 


 


Kedua sajak di atas ditulis dengan rentang waktu yang sama, tepatnya tahun 1993, setahun lebih cepat daripada kelahiran saya. Barangkali juga pada saat itu Aslan sedang sayang-sayangnya kepada sosok M yang dimaksud itu, lalu dipatahkan oleh persoalan domestik yang kusebut di atas, misalnya perjodohan. Di tahun-tahun itu memang bukan hal yang asing untuk mengamini keinginan orang tua. Kita mengorbankan kebahagian lain demi kebahagian lainya. 


Lalu kemudian Aslan menuliskan Sajak Kecil Buat M (3) hal. 6 dalam rentang waktu 10 tahun lamanya—sebuah pendalaman, perenungan yang begitu panjang. Saya kemudian selalu merasa dan membayakan bahwa kepenyairan itu adalah sebuah jalan yang penuh kesabaran, kita meletakan hasrat dalam diri dalam lemari kaca untuk dipendam selama kita mampu. Sajak itu dibuka seperti ini;/ aku tak mengerti benar mengapa begitu banyak yang ingin aku terjemahkan pada kedalaman matamu/.


 


Sosok M dalam pembuka sajak ini sungguh menyegarkan, ia masuk lewat mata, bagian tubuh paling jujur dalam diri manusia. Penyair memilih mata sebagai metafora yang menentukan kondisi di awal sajak ini. Lalu di bait terakhir sajak M 3, Aslan menuliskan seperti ini; tentangmu mungkin tak ada yang memihakku / hanya catatan panjang percakapan kita / melahirkan sajakku yang perih dan dungu.


Baris ke tiga dan ke empat dalam bait ini adalah point penting dari keseluruhan isi sajak M 3 ini. Catatan panjang percakapan kita, melahirkan sajakku. Ini adalah jawaban atas 3 sajak yang dituliskan Aslan kepada seorang bernama M itu sebagai hadiah, kenangan atau barangkali kado pernikahaknnya. 


3 Sajak di atas sepertinya berkaitan dengan sajak Dance With The Angel Trance hal. 22, mari kita nikmati bait terakhir sajak ini; menarilah kita dengan tarian yang sama di padang berbeda / sebab cinta yang kau sembunyikan di buku harianmu, dan mema dalam sajakku.


 


Menarilah kita, tarian yang sama di padang berbeda, kupahami sebagai ajakan untuk berdamai dengan diri kita masing-masing, sama-sama berjalan menyusuri jalan hidup kita sebelum kematian mengetuk pintu rumah kita, kita berjalan, dan perempuan yang jadi magma dalam sajak ini telah lebih dulu tiba di pelabuhan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.  


Sajak-sajak Aslan Abidin dalam Orkestra Pemakaman mengajari saya menemukan sisi lain manusia dari kematian yang tidak begitu menyeramkan, hegemoni kekuasaan yang kompleks hingga seksualitas yang seringkali malu-malu kita ucapkan dan begitu bangga kita lakukan dan memamerkannya. 


 


Sungguh hal yang sederhana dan luput kita renungkan. Aslan menemukan hal itu dengan tepat waktu. Maka dari hal itu tulisan ini saya tutup dan mengutip sajak dari Aslan Abidin ; tinggal kematian petualangan yang tersisa.


 

Minggu 12 Mei 2019
198
4 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Arif Hukmi

arifhukmi

Mencintai sastra dan sepakbola Indonesia

Tuliskan tanggapanmu tentang Kematian Adalah Nasib yang Tidak Perlu Kita Cemaskan

Kematian Adalah Nasib yang Tidak Perlu Kita Cemaskan

Resensi oleh Arif Hukmi

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah