Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Pisau dan Bir

Oleh cakkim91

Pisau itu bergerak-gerak di pinggangku seperti hendak melompat ke suatu tempat yang gelap, lalu memamerkan cahayanya ke seluruh ruang, menjadi bintang kecil yang menerangi angkasa malam. Tapi aku mencoba menahannya. Semakin bergerak ia semakin kueratkan selipannya di sabuk dan kututup dengan bagian bawah bajuku, sehingga tonjolan gagangnya tidak tampak sama sekali dari luar. Dan setiap orang yang menjumpaiku di kafe itu tak ada yang menaruh curiga bahwa di balik bajuku ada benda yang gigirnya mengkilau dan ujungnya seperti taring srigala yang bisa menusuk kepala mereka.


           “Diam!” perintahku kepada pisau itu ketika ia semakin menjadi-jadi.


           Kemudian aku berusaha memilih tempat paling pojok di kafe, yang jauh dari jangkauan cahaya lampu agar orang-orang tidak ada yang memperhatikan kegelisahanku, agar mereka tidak membaca pikiran-pikiran yang sedang kupertimbangkan.


           Seorang perempuan muda, hitam manis, rambutnya sebahu, dadanya begitu berisi dan bibirnya menggairahkan, datang ke mejaku, membawakan dua botol bir yang kupesan dan penutupnya sudah dibuka. Kemudian ia duduk di sampingku, sambil menuang bir ke dalam gelas besar ia memulai percakapan.


           “Kau tampak begitu kusut malam ini,” katanya. Aku tatap matanya dan ia membalas menatapku, begitu tajam, seperti seekor harimau betina, dan ia memang harimau betina. Sedangkan busa bir di gelas terus bergerak ke atas, terus bergerak seperti hendak meledakkan gelas.


           Aku terus menatapnya. Tanganku di atas meja bergerak mencapai gelas, menggenggam dan perlahan mengangkatnya mendekatkan ke mulutku. Aku mereguknya sampai gelas itu kosong.


           “Kau tidak minum?” tanyaku. Perempuan itu menuangkan bir lagi ke dalam gelasku.


           “Aku sedang kurang sehat,” jawabnya sambil tersenyum seolah memintapengertianku.


           “Kau tidak mau menghargai keberadaanku di sini?”


           Ia tak menjawab dan tangannya menyodorkan gelas yang sudah terisi bir lagi kepadaku. Aku menerimanya namun kembali kuletakkan di atas meja. Aku tak langsung meminumnya.


           “Kau tampak begitu kusut malam ini,” ia mengulangi perkataannya.


           “Kau tampak begitu menggoda malam ini,” balasku.


           “Kalau tidak menggoda, mana ada lelaki mau singgah ke kafe kami.” Ia menggerak-gerakkan jemarinya di atas meja, di dekat rokokku yang tergeletak dan belum kusentuh sejak duduk.


           “Aku sering ke sini, tapi baru dua kali bertemu denganmu.”


           Ia tak menjawab. Dan pikiranku mulai dipengaruhi alkohol ketika satu setengah botol bir sudah masuk ke dalam tubuhku.


           Di kafe, orang-orang keluar masuk dan musik dangdut menggema, membawa malam pada kebinalan dan keliaran yang intim. Sedangkan di balik bajuku sebuah benda kecil mulai meronta-ronta kembali, seakan hendak berdaulat, atau menginginkan sesuatu?


           Aku mulai tidak tenang lagi. Kecemasan kembali bangkit dan api kecil mulai menyala dalam diriku, lalu membesar, berkobar, membakar daging dan tulang-tulang dalam tubuhku, berpadu dengan satu setengah botol bir yang berkubang di perutku.


           “Kenapa tampak begitu gelisah?” Perempuan itu menangkap perilakuku.


           “Tidak. Hanya sedikit pengaruh bir.”


           “Belum juga dua botol,” ucapnya lembut tapi sebenarnya mengejek.


           “Hanya sedikit kelelahan,” balasku. Dan pisau itu kini menari-nari di pinggangku, ujungnya yang runcing dan tajam sedikit menusuk-nusuk kulitku. Sialan!


           Jam dinding baru menunjukkan waktu pukul sebelas malam.     


           “Kau tampak lain daripada dua hari yang lalu,” ujarnya dengan nada penuh perhatian. Ia menuang sisa bir di botol kedua. “Dua botol lagi?”


           “Satu saja cukup.”


            “Masih sore. Pagi masih sangat jauh, bahkan mungkin tak akan pernah datang.” Ia tertawa dan aku melihatnya dengan sedikit berkunang-kunang. Kepalaku berayun-ayun. Betapa memalukannya mabuk di depan perempuan hanya karena dua botol bir. Ya, benar-benar memalukan. Dan ini memang tidak seperti biasanya. Aku yang biasa menenggak lima sampai tujuh botol, tapi kini sepertinya tidak akan bisa.


           Tapi, ketika aku mengingat di pinggangku ada benda hidup yang menari-nari, sebenarnya tak menjadi soal bagiku meski cuma dua botol bir telah memengaruhi tubuhku. Mungkin dengan sedikit pengaruh alkohol itu nantinya akan lebih baik, ketika aku mengeksekusi rencana yang telah kususun dengan matang. Dengan sedikit pengaruh bir  tentu aku akan lebih hikmat melakukan sesuatu, setelah jam satu dini hari nanti.


           Waktu mendekati jam dua belas malam. Musik dangdut masih terus mengalun, menyapa mereka yang duduk dengan botol-botol kosong, dengan gelas-gelas berbusa dan perempuan-perempuan bertangan liar. Orang-orang datang dan pergi, keriuhan seperti pasarmalam dan bau parfum yang menyengat memenuhi ruangan berpadu dengan aroma alkohol, asap rokok, dan erotisme yang muram. 


           Botol keempat sudah tandas. Perempuan itu membawakannya lagi dan kini ia juga minum separuh gelas setelah aku paksa. Separuh gelas lagi ketika aku paksa lagi. Lalu botol-botol selanjutnya terus berdatangan, dan kami minum berdua.


           Aku masih bertahan. Sudah hampir tujuh botol tapi tak juga membuatku tersungkur, tidak muntah dan hanya tiga kali buang air kecil. Perempuan itu lebih cepat terpengaruh alkohol. Ia mulai mabuk, meracau, dan menggoyang-goyangkan kepalanya. Aku suka melihatnya. Aku suka melihat perempuan mabuk, matanya redup tapi liar. Ia menjadi ganas tapi semakin anggun. Dan kata-kata menggoda bermunculan dari mulutnya, dari bibirnya yang merah bergairah.


           Ia tak henti meracau, mengigau dan mengutuk beberapa lelaki yang diingatnya, yang pernah menidurinya. Ia menceritakan para lelaki itu, lelaki yang punya birahi seberingas kuda pacuan ketika hendak bercinta, tapi mudah lemah seperti kambing rumahan ketika sudah di atas ranjang. Lalu ia tertawa dan tertawa. Lalu ia mereguk lagi bir yang ada di gelas yang sedari tadi dipegangnya.   


           Botol kedelapan, kesembilan, dan seterusnya. Bir terus berdatangan. Kepalaku menjadi begitu berat. Dan aku bakal tak sanggup menjalankan rencanaku, pikirku.


           Mataku sudah tidak jelas melihat benda sekitar. Semua tampak buram dan ada puluhan lampu beterbangan di atas kepalaku. Tapi pisau itu, pisau yang berdiam di pinggangku masih terus menari-nari, semakin licin dan kadang ia terasa menjadi begitu besar, mungkin bukan pisau lagi tetapi pedang atau tombak.


           Sedangkan perempuan yang menemaniku sudah tak sanggup menegakkan kepalanya lagi. Botol-botol dan gelas mengutukinya—juga mengutukiku.


           Kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi. Mabuk dan tertidur. Gelap dan gelap.


 


***


 


Hanya pisau itu yang menari-nari di atas kepalaku. Hanya pisau itu yang pertama kali kulihat ketika aku sadar dan dengan susah payah bangkit. Pisau itu bercahaya tapi juga berlumur warna merah, lalu di gagangnya tumbuh sepasang sayap. Ia mengepak dan terus membuat tarian, sehingga warna merah itu terus menetes dari ujungnya. Cairan, ya cairan merah dan jatuh di kening dan hidungku. Terasa dingin. Aku raba dengan jari telunjuk dan kujilat cairan merah itu, asin rasanya.


            Kafe sangat sepi. Tak ada aktivitas apa-apa selayaknya tadi. Dalam keadaan begitu lemas dan pusing, aku mencoba mengamati sekelilingku. Di dekat pintu kulihat seorang perempuan tertidur di lantai. Lalu di pojok bagian selatan seorang lelaki juga tertidur di lantai.


           Tidak. Ternyata mereka tidak tidur, melainkan terkapar dan kemungkinan sudah mati. Di lantai, di dekatnya ada cairan warna merah yang tercecer dan aku yakin itu darah, darah mereka berdua.


           Kudekati mereka satu per satu, dan ternyata ada pisau menyala, menari-nari di dada dan perut mereka. Pisau itu hendak melompat ketika kuhampiri.


           “Diam!” bentakku. Dan ia tidak jadi melompat, tetapi masuk lebih dalam lagi ke dada lelaki dan perut perempuan itu.


           Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi pisau yang bersayap di atasku terus mengikutiku. “Yang mana pisauku?” aku berbisik. Sesaat bisikanku dibalas oleh suara aneh di luar kafe. Suara yang meraung; sirene polisi, sirene ambulans, sirene mobil darurat, dan mungkin juga sirene malaikat maut.


           Seketika aku menjadi menggigil, kakiku gemetar, dan kepalaku terasa sangat berat. Aku hendak lari, namun dari arah pintu ada begitu banyak pisau yang melayang, menari-nari dan menghadangku. Lalu diikuti pisau-pisau lainnya yang masuk ke kafe lewat jendela dan lubang-lubang ventilasi udara. Pisau itu banyak sekali, bersayap dan bercahaya. Mereka mengepungku. Mereka mengerubungiku dan tertawa-tawa. Mereka tak ingin membiarkan aku melangkah bebas ke luar.


           “Di mana pisauku?”


           Aku merasa pisauku masih ada di tempatnya seperti semula, di pinggangku di balik baju.[]


 


 


Denpasar, 2017


 


 

Senin 27 Mei 2019
105
2 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Kim Al Ghozali AM

cakkim91

Kim Al Ghozali AM lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini mukim di Denpasar dan bergiat di Jatijagat Kampung Puisi. Menulis puisi, cerpen, esai dan artikel. Tulisannya tersebar di pelbagai media...

Tuliskan tanggapanmu tentang Pisau dan Bir

Pisau dan Bir

Cerpen oleh Kim Al Ghozali AM

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah