

Satu Dua Tiga Empat Lima Enam Tujuh Delapan
Suara hitungan terdengar selalu berulang, disebuah pelataran rumah penduduk desa telah berlangsung pelatihan calon pendekar.
aku, iya aku yang baru mengikuti pelatihan walaupun sudah beranjak dewasa, namun tak meredupkan semangat juangku, apalagi adanya dia jika hadir di malam pelatihan.
dia, iya dia penyemangat dalam diamku, gadis yang baru beranjak remaja yang lebih dulu menyelesaikan pelatihannya.
gadis yang kulihat saat malam pelatihan bersama, gadis dengan senyum indahnya, gadis yang selalu terbayang di fikiranku, gadis yang umurnya tepaut cukup jauh dariku, gadis yang telah menumbuhkan rasa dihatiku
aku tahu umur kami cukup jauh, tapi aku tak ragu untuk menyebutnya dalam doaku
karena aku yakin umur hanyalah angka dan cinta hadir tak memandang angka
Harapku sederhana semoga kelak pertemuan hatiku adalah dirinya
Harapku sederhana semoga kelak kita bisa merajut rumah tangga sampai tua
Tapi bagaimana bisa bersatu kalau doaku dan doanya tak saling bertemu
Kamu adalah ketidak mungkinan yang selalu aku semogakan
Namun jika rasa ini tak terbalaskan mungkin aku hanya sedikit kecawa , aku tidak bisa menjadi seseorang yang bisa membuatnya tersenyum sesungguhnya
Aku mencintainya sederas hujan, namun ia memilih untuk berteduh dan menghindar
Jika kita tidak bisa bersatu dalam suatu ikatan maka ijinkan aku untuk tetap berteman dan lupakan rasa yang pernah aku ucapkan
Beruntung sekali pria yang bisa menjadi tambatan hatinya, pria yang telah mendapatkan hatinya, pria yang sewaktu waktu bisa melihat indah senyumnya. Namun aku tetap berharap Tuhan membalikan hatinya agar aku terpatri di hatinya. Hati orang tidak bisa diprediksi, bahkan dengan pemilik hati itu sendiri
Aku sadar diri, aku hanya sekedar menyukai kalau untuk memilikinya aku sadar diri.
Kini pelangimu telah tiba dan saatnya untuku menutup payung yang selama ini menemanimu di ketika hujan tiba.
Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta, meskipun dia merasakan manisnya cinta. Kamu lihat dia menangis di setiap waktu, karena takut berpisah atau karena rindu. Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang pujaan hati, namun bila pujaan hati dekat, ia menangis karena takut berpisah. Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan, juga matanya berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba.

