

Aku masuk ke dalam mobilmu dengan tergesa-gesa. Kamu menunggu dengan sabar di balik kemudi, sebelum akhirnya kami meninggalkan gedung kantorku. Aku menghela napas dan mulai berdandan cantik serta menyemprot parfum kesukaanku. Kamu mendekat ke arah leherku dan mendaratkan kecupan di sana, membuatku merinding. Kamu sedikit tertawa melihatku yang heboh dari pertama masuk ke dalam mobil. "Aku tetap suka kamu tanpa dandananmu," ujarmu tiba-tiba. Aku mendelik ke arahmu "Bohong," sahutku. "Sungguh! I swear to God!" jawabmu lalu mencubit kecil hidungku. Akhirnya kami tertawa dan kamu mulai menghubungkan perangkatmu untuk menyetel lagu I Would Do Anything for You. Kamu bernyanyi dan menggoyangkan kepalamu, sementara aku hanya menahan tawa melihat tingkahmu.
Aku yang semula bertanya-tanya kemana kamu akan membawaku, ternyata sudah kutemukan jawabannya. Kamu masuk ke salah satu restoran mewah di Jakarta. Aku mengernyitkan dahi dan memukul lenganmu pelan. "Serius?" tanyaku. Kamu masih diam dan memutar kemudi untuk memarkirkan mobil. "Ayo," ajakmu, disusul oleh aku yang masih kebingungan untuk apa ke sini. Kamu turun dan membukakan pintu. Kami berjalan menuju restoran mewah itu dengan suara sepatu hak tinggiku yang sebenarnya lebih cocok kutukar dengan sandal. Kamu masih menggenggam tanganku. Aku tersipu malu, sementara kamu menyeringai dengan penuh kemenangan.
Kamu memesan Sauvignon Blanc dan steak untuk kami. "Kamu selalu ingin makan malam di sini, kan?" tanyamu, masih dengan senyum penuh kemenangan dan aku yang langsung pura-pura sibuk memotong steak. Aku mengangguk dan melihat ke jendela yang tampak lampu-lampu dari gedung tinggi dan kendaraan. Kamu meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku membiarkan tanganmu dan masih memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang. Aku melihat dari ekor mataku bahwa kamu mengeluarkan kotak dari tasmu dan menaruhnya di meja. Kamu mendorong pelan kotak itu ke arahku sembari memberi gestur untuk membukanya. Aku tersenyum ragu dan menggigit bibir sebelum membukanya. Aku membukanya dengan perlahan dan terkejut. Di dalamnya terbaring sebuah kalung dengan liontin batu kelahiranku. “Kamu suka?” tanyamu. “How did you know?” tanyaku balik dengan ekspresi terkejut dan mata yang masih melekat pada kalung tersebut. “Rahasia,” jawabmu dengan seringai. Aku menyibakkan rambutku dan memberikan kecupan sebagai ucapan terima kasih. Kamu membantu memakaikan kalung tersebut ke leherku.
Kami bersenda gurau selama makan malam ini. Kamu masih menggenggam tanganku, seakan tak ingin lepas. Aku membiarkan genggamanmu. Aku tertawa pada gurauan-gurauan kecilmu. Kamu berandai-andai tentang apa jadinya jika aku dan kamu bersama selamanya. Aku hanya tersenyum mendengarkanmu. Aku menginginkan hal yang sama. Namun, aku tak ingin jatuh untuk kesekian kalinya. Aku melirik ke jam tanganku. Sudah pukul sepuluh malam, tapi kamu terlihat seperti pukul tujuh malam yang penuh energi. Ponselku bergetar beberapa kali, aku dapat merasakannya. Tapi, aku ingin lupa dengan dunia sejenak. Aku ingin bersamamu. Aku membiarkan pandanganku fokus padamu, mendengarkan cerita-ceritamu, dan memperhatikan gerakan-gerakanmu.
"Astaga, sudah larut malam rupanya." Kamu terkejut ketika melihat jam tanganmu. "Kamu aku antar pulang saja, ya?" tanyamu. Aku terkejut dan mengernyitkan dahi. "Serius?" balasku. Kamu mengangguk yakin. Sepanjang perjalanan, kamu sibuk meletakkan tanganmu di pahaku atau di persneling. Kamu bersenandung A Girl from Ipanema yang kamu setel dari mobilmu. Aku memilin rambutku dengan perasaan khawatir. Ponselku bergetar dan aku dapat melihat nama yang sangat familiar di layarku. Aku mengabaikannya dan berusaha terlihat tenang.
Kami sampai di pekarangan rumahku. Tampak mobil sedan sudah berada di sana dengan mesin yang masih menyala. Kamu turun untuk membukakan pintuku. Tak lama, seorang pria keluar dari mobil sedan itu setelah mematikan mesin. Dia menghampiriku dan kamu. "Hai sayang." Dia menyapa dan mencium pipiku. Aku tersenyum tipis. Kamu berubah seketika menjadi kaku. "Aku tadi diantar pulang oleh temanku. Maaf ya aku tidak sempat memberi kabar," belaku. Dia hanya tersenyum memaklumi. "Terima kasih sudah mengantar istri saya. Saya ganti uang bensinnya, ya." Dia membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang kamu tolak. "Dengan senang hati. Kebetulan tadi kami searah, jadi tidak perlu repot-repot." Kamu menolak dengan sopan. Dia hanya tertawa sopan. "Kami masuk dulu, ya. Terima kasih sekali lagi." Dia merangkul pinggangku dan berjalan masuk ke dalam rumah. Aku menoleh ke belakang, tampak kamu yang masih berdiri di tempat menyaksikan segalanya. Dia membuka pintu rumah dan mempersilakanku masuk terlebih dahulu. Aku dapat melihat kamu mematung dari celah pintu.

