

tadi malam badai sangat kencang, sehingga rasanya aku bisa terhisap oleh redupnya.
beberapa kali hujan menyuarakan gunturnya, beri tanda bahwa ia akan tiba.
namun, malam itu hujan menjadi enggan untuk datang.
seperti merasa bahwa ini bukan saatnya ia tampak.
bahkan, hujan syahdu yang bisa meredakan amarah pun enggan datang saat badai menunjukkan kemarahannya.
—
degup jantung seorang diri perlahan bertambah, di dalam kamar yang tak begitu megah, ia mendengar angin & petir bersahutan.
terdengar seperti akhirnya mereka akan meluap.
dan, akhirnya terjadi.
luapan besar yang membuat siapa saja akan termenung saat mendengar.
lidah kelu, nafas tersengal, degup jantung sudah tak karuan bunyi nya.
seluruh anggota tubuh bergetar, namun tidak juga bisa di gerakkan.
seolah komponen jiwa telah terlepas dengan perlahan dari raga, yang hanya meninggalkan jejak luka, kecewa dan trauma.

