

Dari jauh terdengar teriakan yang suaranya disamarkan oleh hujan.
Teriakan yang bersumber dari seorang pejuang di medan perang.
Tangan kanannya memegang pedang bernama keteguhan,
tangan kirinya memegang tameng bernama kepercayaan,
dan tubuhnya dilindungi oleh cinta dan kasih sayang yang tabah seperti baju zirah.
Terlihat sempurna meski pada akhirnya ia tewas.
Ia dihantam dari segala penjuru di medan perang.
Bahkan ketika ia sudah terkapar lemas
seseorang datang
menawarkan sebuah kesempatan emas
dan ternyata hanya sebuah perangkap untuk dikirimkan pulang.
Ribuan anak panah dilontarkan secara diam-diam.
Anak-anak panah yang dibakar menggunakan kata-kata dan janji-janji manis yang begitu menyala menghujani tamengnya hingga pecah.
Kemudian ratusan pedang mampu menyayat baju zirahnya bahkan pedangnya pun tak tersisa dibabat oleh hal-hal yang tak habis ia pikirkan.
Baju zirah yang agung itu pun hancur tak bersisa
diporak-porandakan pedang yang menyala
namun menyembunyikan segala realita yang ada.
Satu serangan dari belakang
dan satu serangan dari depan
menyudahi hidupnya di medan perang.
Barangkali ia sudah tau akan diserang
dari dua arah berlawanan,
tapi ia tetap berusaha melawan dengan tenang,
sebab baginya tak ada senjata yang lebih ampuh dari kepercayaan.
Atau justru memang ia tak tahu
kalau ia akan diserang
maka ia tetap berani maju
meski akhirnya dikirim pulang
dari medan pertempuran,
sebab yang ia tahu
senjata paling ampuh di medan perang
adalah kepercayaan.
Bojonegoro, 10-10-20

