

Di dalam kardus mie instan yang tersimpan di bagasi mobilnya, di antara tumpukan buku tebal yang mapnya sudah usang, Dias menemukan sebuah buku tulis bersampul cokelat. Pada halaman depannya, tertera tulisan tangan yang mulai memudar dengan tinta biru: Kamus Besar Bahasa Kita - Edisi I.
Dias tersenyum kecut, sebuah senyuman yang terasa kaku di pipinya yang mulai ditumbuhi janggut tipis. Buku itu adalah proyek iseng yang ia buat bersama Laras selama sepuluh tahun pernikahan mereka. Sebuah kumpulan kosakata buatan yang hanya dipahami oleh mereka berdua, bahasa rahasia yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan intim di dalam rumah kontrakan mereka yang dulu sering bocor saat hujan.
Dua bulan lalu, pengadilan agama secara sah mengetuk palu, menyatakan bahwa Dias dan Laras bukan lagi sepasang suami istri. Mereka berpisah dengan cara yang sangat beradab—tanpa perebutan harta, tanpa makian, hanya sebuah kesepakatan dingin bahwa cinta mereka telah menguap menjadi rutinitas yang melelahkan.
Dias membuka halaman pertama kamus itu.
“Mengerik (kata kerja): Tindakan menyisakan kuah soto ayam di mangkuk tepat satu sentimeter dari dasarnya, karena terlalu malas untuk menghabiskannya.”
Dias tertawa pelan sendirian di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan raya yang bising. Kosakata itu lahir karena Laras selalu melakukan hal tersebut setiap kali mereka makan di warung tenda pinggir jalan. Selama bertahun-tahun, Dias akan selalu menghela napas, mengambil mangkuk Laras, lalu melakukan gerakan mengerik itu demi tidak membuang makanan.
Ia membalik halaman berikutnya, mencari huruf M.
“Meremang-Pagi (kata sifat): Kondisi di mana seseorang mendadak ingin memeluk pasangannya dari belakang saat udara di luar sangat dingin, tetapi urung dilakukan karena tahu pasangan sedang buru-buru memasak air.”
Bahasa-bahasa ini dulunya adalah pelindung mereka dari kepungan dunia luar yang terlalu berisik dan menuntut. Ketika mereka berada di tengah pesta keluarga besar yang membosankan, Laras hanya perlu menatap Dias dari kejauhan lalu membisikkan kata “Gelepar” tanpa suara. Dias akan langsung paham artinya: Aku ingin pulang sekarang juga karena kepalaku pening melihat pamer kekayaan sepupu-sepupumu.
Namun, logika perpisahan ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar membagi barang bawaan atau memindahkan alamat KTP.
Minggu lalu, Dias mencoba berkencan untuk pertama kalinya setelah perceraian. Ia pergi ke sebuah kedai kopi bersama seorang wanita rekan kerja barunya. Saat wanita itu tidak sengaja menjatuhkan sendok kecilnya ke lantai dan mengeluarkan bunyi dentang yang nyaring, Dias secara refleks bergumam, "Ah, kesandung-lidah."
Wanita di hadapannya mengernyitkan dahi, menatap Dias dengan tatapan aneh. "Apa artinya itu, Dias?"
Dias mendadak membeku. Ia tersadar, di dunia nyata, kata kesandung-lidah tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Itu adalah kata yang ia dan Laras ciptakan untuk menggambarkan momen ketika seseorang melakukan kecerobohan kecil akibat terlalu banyak melamun. Di depan wanita asing ini, kata itu kehilangan seluruh dayanya, berubah menjadi gumaman tanpa arti seorang pria aneh yang gagal melupakan masa lalu.
Bahasa rahasia itu, yang dulu menjadi perekat paling kuat di antara mereka, kini justru berubah menjadi penjara psikologis yang sunyi bagi Dias. Ia menyadari sebuah kenyataan yang getir: setelah sepuluh tahun merawat sebuah bahasa bersama seseorang, lidah Anda akan mendadak menjadi gagap saat harus kembali berbicara menggunakan bahasa universal manusia modern. Ia tidak bisa lagi menggunakan kata-kata pendek yang efisien; ia harus menjelaskan segala sesuatunya dari awal dengan kalimat-kalimat yang panjang, formal, dan melelahkan.
Dias menutup buku bersampul cokelat itu dengan pelan. Ia memasukkannya kembali ke dalam kardus, menumpuknya di bawah buku-buku teori ekonomi miliknya yang berat.
Ia menyalakan mesin mobilnya, bersiap melaju membelah kemacetan sore kota Jakarta. Di dalam kabin mobil yang senyap, ia tahu bahwa di sudut kota yang lain, di dalam sebuah flat kecil yang mungkin jendelanya menghadap ke arah matahari terbenam, Laras pun pasti sedang mengalami kegagapan yang sama. Mereka berdua telah membawa setengah dari kamus yang sama, menjadi dua orang asing yang menguasai sebuah bahasa mati yang tidak akan pernah bisa diucapkan lagi kepada siapa pun di bumi ini sampai mereka mati.

