

aku mengenal seorang perempuan yang membakar kembang api dalam dadanya sendiri, tapi tidak bertahan lama. dua puluh satu hari kemudian, kembang api itu padam dan tidak hanya menyisakan abu tapi membuat kepalanya menjadi semak belukar dan tubuhnya menjadi labirin tak berkesudahan tanpa jeda.
ia mematahkan kesembilan jarinya di atas papan tulis elektronik yang menyebabkan ia menangis semalaman di pojok kamar; penyesalan karena ia menulis dengan emosi dan pesan itu sampai pada tuan di seberang sana.
pada dinding kamar, jarum jam berdetak tak seirama dengan detak jantungnya. ia menemukan sepotong sajak sapardi yang tertulis samar di antara dinding dan cermin, diambilnya sajak itu dan ia tulis ulang dengan penuh permisi;
yang fana adalah kita, kenangan abadi.
***
-estinoor // mei 2019
ditulis subuh-subuh, dengan mata bengkak akibat penantian lugu semalaman.

