

Terlihat seperti fatamorghana, menyejukkan bahkan sangat indah. Berjalan di atas gurun tanpa peta dan hanya ditemani kepalsuan belaka. Rela meminum racun karena haus yang tak kunjung ada akhir. Menggenggam mawar berduri hanya demi mendapatkan keindahan. Waktu dan takdir seolah mengikis semua harapan. Seperti zombie yang hidup tapi seperti tak bernyawa. Masa depan? Bahkan untuk satu menitpun sudah tak berani untuk memikirkannya. Ini semua seperti tak ada akhir. Berharap malam tak akan pergi. Seolah malam mengerti dengan kegelisahan yang mengoyak, mencabik, dan membuyarkan kedamaian. Malam seperti selimut tipis yang menutupi tubuh dalam menghadapi dinginnya angin takdir. Apa yang dikejar? Tak ada!!! Semua jauh dari ekspektasi. Dan bodohnya, semakin nyaman dengan dunia ciptaan sendiri yang penuh ego dan khayalan. Selalu berperan sebagai lilin yang membelah gelap malam dengan cahayanya, tapi lupa tentang diri yang terkikis oleh api takdir. Seperti tak tau malu, selalu membuat harapan yang pada akhirnya hanya kekosonganlah ujungnya. Lagi dan lagi, bodohnya selalu berharap pada suatu hal yang tidak mungkin. Hidup hanya sekedar bernafas. Wajah yang selalu tertutup topeng, penuh kepalsuan. Bagaimana caranya untuk menikmati hari? Sedangkan dada terasa berat setiap melangkahkan kaki?
Mengapa waktu terlalu begitu cepat? Sukma semakin tak tenang, berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh. Menyerah dan mengikuti arus sampai hilir batas hidup. Entah berisi terang, gelap, bahagia, atau kesedihan, sampai semuanya akan terbakar dalam kata sepi.

