

Di bawah langit yang sempat kukira cerah,
Empat mega bersekutu menghimpun jelaga.
Tawa yang dulu menyatu kini berubah nanah,
Menikam sukma dengan lidah yang berbisa.
Mereka menenun badai di balik punggungi,
Menghujamkan fitnah dalam gelap yang sunyi.
Aku dipaksa menelan pahitnya duri,
Di antara kawan yang kini menjadi keji.
Lalu satu bintang menunjukku penuh murka,
Menuduhku merampas cahaya yang bukan milikku.
Padahal orbitnya yang liar mengejar raga,
Membuatku muak dan membenci seluruh waktu.
Maka kupadamkan fajar dengan tangan sendiri,
Memutus cakrawala agar mereka lekas enyah.
Biarlah aku meringkuk di ruang yang sepi,
Daripada bernapas di atmosfer yang serapah.
Aku adalah senja yang memilih untuk mati,
Menenggelamkan diri dari pertemanan yang palsu.
Lebih baik hampa tanpa ada yang mendampingi,
Daripada dikelilingi sekumpulan awan yang abu-abu.
Namun di antara reruntuhan bintang yang hancur,
Ada satu titik cahaya yang tak pernah pudar.
Rembulan masa kecilku yang tak pernah luhur,
Tetap menjagaku saat duniaku kian memar.
Meski jarak membentang di langit yang berlainan,
Engkau adalah satu-satunya udara yang murni.
Di tengah badai yang penuh pengkhianatan,
Hanya sinarmu yang menemaniku hingga hari ini.

