

Di balik jubah yang putih berseri,
Akar serakah menjalar ke bumi.
Mengambil jatah yang bukan milik diri,
Sambil bersujud memuji Illahi.
Mulutnya bicara tentang air surga,
Tangan merampas setiap tetes telaga.
Ia mengaku paling menderita,
Padahal hatinya membara jelaga.
Mawar berduri yang gemar menghina,
Saat tergores ia menangis pilu.
Lidahnya tajam seumpama bisa,
Memerankan korban di balik tabu.
Bahkan sang bayang pun merasa ngeri,
Melihat haus yang tak pernah usai.
Menumpuk harta di atas duri,
Di tanah suci yang ia klandestin landai.

