oranment
play icon
Simfoni Roh yang Terlupakan
Kutipan Cerpen Simfoni Roh yang Terlupakan
Karya fitrianggraininazlimtd1622
Baca selengkapnya di Penakota.id

Aurora duduk di tepi jendela kamarnya, menatap langit malam yang gelap gulita. Usianya baru sepuluh tahun saat itu, tapi dunia sudah terasa berbeda. Awalnya, itu hanya perasaan aneh, seperti ada seseorang yang berdiri di belakangnya, napas hangat menyentuh tengkuknya, meski tak ada siapa pun di sana. Ia tak berani bilang pada orang tuanya, takut dianggap gila. Tapi perasaan itu datang lagi dan lagi, seperti bayangan yang tak pernah pergi.


Suatu malam, saat ibunya sedang memasak di dapur, Aurora duduk di meja makan sambil mengerjakan PR. Tiba – tiba, ia merasakan tangan dingin menyentuh bahunya. Ia menoleh cepat, tapi ruangan kosong. "Siapa itu?" bisiknya pelan, jantungnya berdegup kencang. Tak ada jawaban, hanya keheningan yang menusuk. Ibunya, yang mendengar bisikan itu, masuk ke ruangan. "Aurora, kamu bicara apa? Ada siapa di sini?"

 

Aurora menggeleng. "Nggak ada, Bu. Cuma... angin."

 

Ibunya mengangkat alis, tapi tak berkata apa – apa. Namun, Aurora tahu ibunya mulai khawatir. Ayahnya, yang bekerja sebagai mekanik, sering pulang larut malam. Suatu hari, saat ayahnya sedang memperbaiki mobil di garasi, Aurora mendekat. "Ayah, aku... aku ngerasa ada orang yang lihatin aku terus."


Ayahnya tertawa kecil, sambil mengelap tangan berminyak. "Itu cuma imajinasi kamu, Sayang. Kamu terlalu banyak nonton film horror sih. Udah, tidur aja sana."

Tapi Aurora tahu itu bukan imajinasi. Seiring waktu, ia mulai melihat mereka. Bukan wujud utuh, hanya siluet samar di sudut mata, seperti asap tipis yang melayang di ruangan kosong. Ia pikir itu imajinasi anak – anak, tapi mereka tak pernah hilang. Di sekolah, teman – temannya mulai menjauh. "Aurora bicara sendiri lagi," bisik mereka. Aurora tahu, ia sedang berbicara dengan seseorang, sosok tak terlihat yang duduk di sebelahnya di bangku kelas, atau yang berjalan bersamanya pulang. Salah satu temannya, Maya, yang dulu sahabatnya, akhirnya bertanya di halaman sekolah. "Aurora, kenapa lo sering ngomong sendiri sih? Lo nggak gila kan?"


Aurora tersenyum lemah. "Bukan gila, May. Ada... ada sesuatu yang gue lihat. Mereka diam aja, tapi mereka ada."


Maya tertawa, tapi matanya penuh takut. "Jangan bercanda deh. Itu serem. Gue nggak mau deket – deket lo lagi." Setelah itu, Maya benar – benar menjauh, dan yang lain ikut – ikutan. Aurora merasa sendirian, tapi kehadiran roh – roh itu membuatnya tak sepenuhnya sendiri. Salah satu roh, yang ia sebut "Bayangan Pertama", mulai berbicara padanya dalam mimpi. "Kami menunggu," bisiknya dengan suara seperti daun kering bergesekan.


Pada usia 17 tahun, segalanya berubah. Aurora sedang sendirian di rumah tua itu, rumah yang dulu milik neneknya. Malam itu, hujan deras mengguyur atap, dan lampu tiba – tiba mati. Ia meraba – raba mencari senter, tapi saat cahaya menyala, ia melihatnya. Bukan lagi siluet manusiawi yang samar. Di depannya berdiri makhluk itu, kulitnya abu – abu pucat, mata hitam kosong seperti lubang tanpa dasar, dan mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan gigi tajam yang tak beraturan. Makhluk itu mengulurkan tangan, jari – jari panjangnya seperti ranting kering, dan berbisik dengan suara yang seperti angin menderu, "Kami selalu di sini."


Aurora menjerit, melempar senter ke arahnya, tapi makhluk itu hanya tertawa, suara yang bergema di dinding, membuat kaca jendela retak. Ia lari ke kamar, mengunci pintu, tapi mereka datang lagi. Lebih banyak. Satu demi satu, mereka muncul dari kegelapan, wujud mereka yang sebenarnya terungkap: beberapa dengan luka membusuk di tubuh, darah kering menetes dari mata, ada yang dengan kepala terputus tapi masih bisa berbicara. Mereka bukan manusia; mereka adalah roh – roh terkutuk, terperangkap di dunia ini, lapar akan perhatian, lapar akan jiwa. Salah satu roh, yang tampak seperti wanita tua dengan luka di leher, mendekat. "Mengapa kau takut pada kami?" tanyanya, suaranya seperti bisikan dari kubur. "Kami hanya ingin didengar."

 

Aurora mundur, tangannya gemetar. "Pergi! Kalian tidak nyata! Ini mimpi!"

Roh itu tertawa, giginya berderak. "Nyata? Kau yang membuat kami nyata. Kau yang melihat kami."


Aurora menyangkalnya. Ia pikir ini kutukan, hukuman atas dosa yang tak ia ketahui. Ia mencoba berdoa, meminum obat tidur, bahkan pindah rumah. Tapi mereka selalu menemukannya. Di malam – malam sunyi, mereka datang, membisikkan rahasia – rahasia mengerikan tentang kematian yang akan datang, tentang teman – temannya yang sebenarnya sudah mati tapi tak sadar, tentang dunia di balik tirai realitas yang penuh kegelapan.


Suatu hari, Aurora bertemu dengan seorang ahli paranormal tua bernama Pak Hasan, yang direkomendasikan oleh tetangganya. Pak Hasan, dengan janggut putih dan mata tajam, duduk di ruang tamu rumah Aurora. "Coba ceritakan apa yang kamu alami, Nak," katanya sambil menyesap teh.


Aurora ragu, tapi akhirnya menceritakan semuanya. "Mereka menyeramkan, Pak. Saya takut."


Pak Hasan mengangguk. "Itu bukan kutukan. Itu anugerah. Kamu bisa melihat apa yang orang lain tak bisa lihat. Tapi kamu harus belajar mengendalikannya, atau mereka yang akan mengendalikanmu."


Aurora terdiam. "Tapi kenapa saya? Kenapa saya yang dipilih?"


Pak Hasan tersenyum tipis. "Karena kamu kuat. Tapi kekuatan itu datang dengan tanggung jawab. Mereka adalah roh – roh yang terlupakan. Kamu bisa membantu mereka pergi, atau mereka akan menarikmu ke dalam kegelapan."


Malam itu, Aurora mencoba. Di kamarnya, ia memanggil salah satu roh itu, Bayangan Pertama. "Siapa kau?" tanyanya, suaranya bergetar. Roh itu muncul, wujudnya lebih jelas sekarang: seorang pria muda dengan luka tembak di dada. "Aku adalah korban perang," katanya. "Aku mati di sini, di rumah ini, puluhan tahun lalu. Aku tak bisa pergi karena tak ada yang ingat padaku."


Aurora menelan ludah. "Bagaimana aku bisa membantu?"


"Ingat aku. Ceritakan kisahku pada orang lain. Biarkan aku pergi." Aurora mulai mendengarkan, dan dengan itu, ia bisa membantu. Satu malam, ia menemui roh seorang anak kecil yang hilang, anak tetangga yang dulu hilang misterius. Roh itu, dengan mata kosong dan tangan kecil yang penuh luka, berbisik, "Ibuku... ia menangis setiap malam. Tolong, katakan padanya aku baik – baik saja."


Aurora pergi ke rumah tetangga, menceritakan apa yang ia lihat. Awalnya, tetangga itu marah, mengira Aurora gila. "Kau ini anak aneh! Pergi sana!"


Tapi malam berikutnya, roh anak itu datang lagi, lebih tenang. "Terima kasih," bisiknya. "Sekarang aku bisa pergi." Dan roh itu pun hilang, meninggalkan cahaya samar di udara.


Lambat laun, Aurora mulai memahami. Mereka bukan musuh. Mereka adalah pesan. Melalui mereka, ia melihat kebenaran yang tersembunyi, roh – roh yang terlupakan, jiwa – jiwa yang menderita, memohon untuk didengar. Ia mulai mendengarkan, dan dengan itu, ia bisa membantu lebih banyak. Anugerah ini, ia sadari, adalah cara Tuhan untuk membuatnya menjadi penjaga antara dunia hidup dan mati.


Tapi anugerah itu datang dengan harga. Sekarang, saat ia menatap langit malam, ia tahu mereka menunggu. Dan di cermin di depannya, ia melihat bayangan mereka mulai muncul lagi, lebih dekat, lebih lapar. Salah satu roh, yang paling menyeramkan, mendekat. "Kau milik kami sekarang," bisiknya. "Kau tak bisa lari."


Aurora tersenyum, tapi matanya penuh ketakutan. "Aku tahu. Tapi aku akan membantu kalian, satu per satu."

 

Pak Hasan pernah bilang, "Anugerah ini tak pernah berakhir. Kamu adalah milik mereka, selamanya." Aurora menghela napas, membuka jendela. Angin malam membawa bisikan – bisikan baru. Ia siap menghadapi mereka, tapi dalam hati, ia bertanya – tanya, sampai kapan ia bisa bertahan? Dunia kegelapan itu tak pernah tidur, dan Aurora adalah cahaya yang mereka incar.

 

"Menjadi cahaya di tengah kegelapan berarti kamu akan selalu menjadi incaran bagi mereka yang haus akan kehidupan."


calendar
19 Feb 2026 10:47
view
4
idle liked
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig