

Di tepi kebun, dahulu burung – burung berdendang,
Kau mendekat pelan, tak ada duri di pagi.
Lalu kau ubah ladang jadi rawa yang menegang,
Kau sakiti lebih dulu, sebelum aku sempat pergi.
Kini aku simpan benci seperti singa di semak,
Tak mengaum tiap waktu, hanya waspada pada jejak.
Ku biarkan ia bertapa, agar kukenali cara,
Bukan dendam membabi, sekedar batas yang tak ditekuk nakal.
Jika mereka datang lagi, ku pasang bayang gagak,
Tanda hitam di udara : “Jauh, jangan terlalu dekat”.
Aku tak ingin darah menetes di musim yang berulang,
Aku hanya tak mau terluka lagi, dan itu cukup untuk cepat.

