Kutipan Cerpen
KOTAK KEHIDUPAN
Karya
hanihanf
Baca selengkapnya di
Penakota.id
“Aku lebih baik mati bersama kedua orang tuaku, daripada selamat dengan keadaan seperti ini.”
Cuaca di luar begitu buruk. Hujan disertai dengan petir menemani kesedihanku. Sebuah cuter sudah dalam genggamanku. Rintikan air dari shower mandi sudah mulai memijat kepalaku. Aku melemaskan kakiku, bersandar pada dinding, dan membiarkan pintu kamar mandi terbuka. Aku mulai membuat garis-garis kecil di tangan, untuk mengingatkanku akan perihnya masalah yang tak seberapa. Pisauku terhenti di bawah telapak tangan kiri. Jaraknya sekitar 3cm. Aku mencoba menghela nafas, mengingat puncak kepedihan hidup ini. Kecelakaan yang merenggut orang tuaku dan wajah catikku. Darah mulai bercucuran, rasa sakit semakin terasa, air mataku semakin deras. Sampai tiba-tiba cahaya putih yang memusingkan itu datang hingga aku tak sadarkan diri.
Aku terbangun dari lelapku. Aku tak tahu sedang berada di mana. Sebab yang terakhir aku ingat, aku mencoba mengakhiri hidupku sendiri. Aku berdiri di tepi danau. Suara air terjun, kicauan burung-burung, sinar matahari yang menerobos masuk melewati pepohonan, dan angin yang bermain-main dengan rambutku, lebih dari memanjakan jiwaku. Terlebih, di sini terdapat sebuah rumah pohon yang begitu indah dihiasi bunga-bunga segar. Entah milik siapa, namun rumah itu kosong. Kedamaian bisa aku temukan di sini.
Kedamaian itu sekejap hilang setelah aku melihat beberapa orang menunggangi kuda dan dilucuti kilatan cahaya dan membuat mereka terjatuh seketika. Kilatan itu datang dari seseorang lelaki berbaju besi yang menaiki sebuah awan. Namun, ada yang lebih menarik perhatianku, seorang pemuda yang berlari menuju arah rumah pohon ini. Lelaki itu nampak kelelahan, apa yang hars aku lakukan? Menolongnya? Itu tidak mungkin. Bagaimana kalau dia melihat wajahku ini? Tapi tak ada pilihan lain, aku harus menolongnya. Aku mengintipnya dari sela-sela kayu rumah pohon ini. Kujatuhkan sebuah ranting sebagai kode keberadaan rumah pohon ini. Ia menyadarinya, tak lama ia bergegas naik. Aku sudah menduga, lelaki itu pasti akan terkejut ketika memasuki rumah pohon ini.
“Siapa kau? Apa kau orang suruhan Zeus untuk menangkapku?” Sembari menodongkan pedangnya ke arahkau.
“Siapa Zeus? Bahkan aku tak mengenalnya. Meski wajahku buruk seperti ini, setidaknya aku tak sekejam orang yang menunggangi awan itu. Niatku hanya membantumu.”
Setelah beberapa percakapan mengenai tuduhannya padaku yang katanya kau suruhan Zeus untuk menangkapnya, dan juga menuduhku seorang peri cantik dengan wajahku yang buruk seperti ini. Aku meyakinkannya, aku bukan seorang yang jahat seprti itu, dan aku juga tidak cantik. Dia menerima pernyataanku, kecuali sanggahanku mengenai kecantikanku.
”Lalu harus aku sebut apa rambut pirangmu, mata coklat dan bundar, juga kulit putih yang mulus itu?”
Aku terkejut. Bergegas mencari cermin, namun tak kutemukan. Aku melongo keluar jendela dan bercermin pada air danau. Aku tertegun, bagaimana wajah kecilku bisa kembali? Aku meangis, sampai tak mampu berkata-kata. Lelaki itu mencoba menenagkanku. Kuucapkan terima kasih. Percakapan kami lanjutkan, mengenai siapa aku, siapa dia, dan siapa orang yang menunggangi kuda itu. Ternyata, aku sedang berada di negeri dewa. Itulah yang bisa aku tangkap dari ceritanya. Dan lelaki itu, dia adalah Robin.
“Aku adalah Robin, Putra Pangeran di negeri seberang. Kerajaan kami dibekuk oleh kerajaan langit. Alasannya, kerajaan kami sangat menjaga kesucian seorang wanita dan kami tidak mau menghadiahkan seorang gadis kepada raja langit itu.”
Kerajaan Langit adalah kerajaan dari semua kerajaan. Rajanya sekarang adalah Zeus. Dia adalah raja yang paling besar nafsunya dari yang pernah ada. Setiap tahun, ia selalu meminta seorang gadis dari setiap kerajaan. Dan tahun ini, kerajaan Robin menjadi gilirannya. Namun, ia tak mengabulkan keinginan Zeus. Maka dari itu, Zeus membekuk kerajaannya. Semua warga ditahan dan dimasukkan ke dalam kurungan.
Ini negeri yang aneh menurutku. Tiba-tiba Robin memintaku untuk membantunya. Ia yakin akulah juru selamatnya. Sebab menurut mitos, kekuatan Zeus hanya bisa ditaklukkan oleh golongan makhluk paling tinggi derajatnya, yaitu manusia. Aku tak banyak bertanya, kuputuskan membantunya. Kami mulai mencari cara untuk membebaskan masalah itu. Berjalan melintasi hutan demi hutan untuk pergi ke perpustakaan para Dewa, turun ke jurang untuk bersembunyi dari kejaran musuh, sampai menyamar menjadi pedagang, berusaha mencari informasi mengenai keadaan kerajaan.
“Putra Pangerannya hilang, entah ke mana. Padahal, menurut buku “THE POWER OF LIFE” hanya ia yang bisa menyelamatkan negeri itu,” kata salah seorang pedagang yang sedang berbincang.
Kami menumukan kuncinya, semua masalahnya akan terjawab oleh sebuah buku yang berjudul “THE POWER OF LIFE”. Namun, buku itu entah berada di mana.
Kami mulai mencari informasi mengenai buku tersebut. Menaklukkan badai, mengarungi sungai untuk mendatangi para suhu, perpustakaan daerah dan juga peradaban para filsuf. Tak ada yang bisa memberikan jawaban. Kami hampir menyerah. Sampai kami bertemu dengan seorang musafir dan memberi tahu bahwa buku itu berada di tengah hutan keindahan kenangan. Tak ada yang tahu tentang tempat itu. Entah tempat apa itu. Robin mulai stres akan hal ini. Tiba-tiba aku ingat akan kembalinya kecantikan dari masa kecilku. Rumah pohon itu. Kami langsung bergegas pergi ke rumah pohon itu. perlu dua hari perjalanan, tapi kami tidak menyerah.
Sesampainya di sana, tak ada yang bisa kami temukan. Hanya ruangan yang kosong berukuran 2x2 meter saja. Tak ada yang lain. Ketika aku mulai kesal dan menghentakkan kakiku, terdengar pantulan suara dari bawah lantai. Kami langsung membuka salah satu kotak lantai dan menemukan tangga yang terhubung dengan batang pohon yang menyangga rumah pohon itu. Kami munuruni anak tangga dan mendapati ruangan yang begitu luas. Terlihat beberapa rak buku dengan buku yang sudah kusam, di sebelah barat tepat tangga terakhir, tampak benda seperti kotak harta karun, namun ketika dibuka isinya adalah buku. Buku yang kami cari. Terdapat surat yang berisikan tulisan “Kunci buku ini adalah seorang wanita cantik”. Sontak, Robin menyuruhku membuka buku itu. Aku menolaknya, karena aku tak merasa diriku cantik. Kecantikan ini hanya tipuan saja. Namun, ketika aku memegang buku itu tiba-tiba dengan sendirinya buku itu terbuka langsung ke halaman yang memberi jawaban atas masalah Robin. Aku melihat cahaya putih yang memusingkan kepalaku sampai kembali tak sadarkan diri.
Aku terbangun, di sebuah kamar dengan cat putih, terbaring di atas ranjang. Tangan kiriku dibalut kain dan tangan kananku dipasang infus. Seseorang menghampiriku.
“Apa kau baik-baik saja? Kembalilah menjadi cantik, tanpa perlu mementingkan wajahmu.”
“Robin?” Jawabku.
“Siapa Robin? Aku ini Aldo, teman kecilmu.”
Aku pun tersenyum. Dari jendela, aku meihat langit sudah kembali cerah.
Unduh teks untuk IG story