Kutipan Cerpen
Perakit Mimpi
Karya
hanihanf
Baca selengkapnya di
Penakota.id
“Aku merasa kelelahan harus membagikan mimpi-mimpi ini ke seluruh penjuru bumi. Dayang-dayangku juga sudah seharusnya diregenerasi. Mereka bahkan sudah tak produktif lagi merakit mimpi.” Sang Ratu mengeluh, dia merasa mimpi-mimpi di bumi harus tetap dihidupkannya kembali.
Ratu mimpi tahu, siapa saja yang akan dia undang ke istana, mereka adalah orang-orang yang putih hatinya, berbudi manis, dan memiliki mimpi yang begitu tinggi. Dia kirim undangan itu lewat mimpi. Bagi mereka yang bersedia hadir, mereka akan menjawab undangan tersebut dengan mengenakan piama putih ketika tidur lalu berdoa dan berkata, “Aku bersedia menghadiri undangan itu.” Semua jawaban yang mereka kirim akan terbang ke langit dan menempati posisinya sendiri. Setelah ratu mimpi mengirimi mereka pesan, dia menyediakan tempat yang akan terhubung langsung dengan penerima mimpi. Lalu respon mereka akan menempati posisinya.
Dari sekitar seratus orang yang diundang, hanya ada 24 yang merespon undangan tersebut. 12 dari mereka adalah perempuan, yang nantinya akan menjadi peri mimpi. Sedang sisanya, akan dijadikan sebagai pengawal. Namun, dari 24 orang tersebut tidak ada nama Venica di sana. Ratu mimpi sempat cemas, padahal dia adalah orang yang paling diharapkan. Setelah 24 orang itu datang melalui mimpi ke istana, Ratu bertanya,
“Apa dari kalian ada yang mengenal Venica? Gadis remaja yang sangat baik hatinya.”
Namun, semua yang hadir menggelengkan kepala. Ratu turun ke bumi, dan mendapati Venica sedang bersedih.
“Aku ingin terbebas dari hidup ini. Aku ingin ke sana, menghadiri undangan itu. Tapi kenapa mesti piama putih? Jangankan putih, piama saja aku tak punya,” sambil jongkok di lantai bersandar ke dinding bilik yang mulai rapuh. Dengan kekuatannya, sang Ratu menidurkan Venica dengan sekali tiupan dari telapak tangannya. Seketika Venica tertidur, Ratu mengirim sinyal mimpi itu kembali dan Venica akhirnya bisa pergi.
Para perempuan yang menghadiri undangan satu per satu dijejali pertanyaan oleh Ratu. Dayang-dayang ikut membekali mereka bekal penglihatan, kasih sayang, pesan, juga kebahagiaan. Prosesi pembekalan begitu khidmat, lagu-lagu mengalun mengiringi mereka. Sedangkan bagi para pria, hanya dibekali baju besi dan pedang oleh para pengawal sebelumnya. Tugas mereka adalah mengawal semua mimpi supaya sampai ke tempat tujuan. Mereka juga yang menyiapkan keperluan-keperluan lain untuk membawa mimpi sampai ke tempat tujuan.
Dari 25 orang, satu orang akan dipilih menjadi pemegang kendali dan yang akan menjadi narahubung dengan Ratu, meski Ratu sendiri akan tetap memantau kerja mereka secara langsung. Peri memutuskan memilih Venica menjadi pemegang kendali di antara yang lain. Semuanya bersorak dan akan turut mendukung Venica menjalankan tugas dengan baik.
Para peri mulai bekerja untuk membuat mimpi-mimpi. Mimpi itu terbuat dari kenangan-kenangan yang selalu menghiasi pikiran manusia. Pikiran mereka akan secara otomatis mengirimkan sinyalnya ke dunia peri, dan akan mengalirkan kenangan tersebut ke sebuah alat yang dinamai muara kenangan. Setiap orang memiliki muara kenangannya masing-masing. Tidak sulit bagi para peri, sebab dari muara kenangan, mereka akan mengalir kembali ke tempat-tempat yang sesuai dengan suasana kenangan. Seperti kesedihan, ketakutan, kecemasan, kebahagiaan dan lain-lain. Di sanalah para peri meracik mimpi itu, bekerja sama menyatukan kekuatan mereka supaya mimpi terbentuk dengan sempurna.
Para pengawal mulai mempersiapkan keperluan untuk keberangkatan. Istana mimpi tepat berada di atas langit kota Greenwich. Sebuah kota yang memiliki garis meridian tepat 0 derajat. Dari sanalah rute akan ditentukan.
Hanya Venica, yang akan pergi mengantarkan mimpi-mimpi itu, dikawal beberapa pengawal. Sedangkan peri-peri lain akan terus merakit mimpi-mimpi secara bergantian. Jika pengawal sudah bersiap, maka mimpi-mimpi akan dimasukkan ke dalam kantung mimpi, lalu Venica bergegas membagikannya.
Di mulai dari Greenwich, Venica membuka kantung yang berisi mimpi tersebut. Ia akan meletakkan mimpi itu di jalurnya masing-masing dengan urutan yang dimulai dari mimpi yang mampu menyegarkan suasana. Jalur yang terlihat seperti segaris tipis yang membentang dari pemimpi menuju kereta yang dinaiki Venica. Lalu, mimpi itu akan melaju di jalurnya sendiri menuju sang pemilik. Namun, ditugasnya yang pertama, Venica mengalami sebuah tragedi. Mimpi-mimpi yang dilepas itu kembali dan menyerang dirinya bahkan para pengawal tidak sigap sebab kedatangannya sangat mendadak. Kantung mimpi itu pun terlempar dan mimpi-mimpi berjatuhan sembarangan.
“Ratuku, tolong ...! Ratu ...!”
Ratu mendengarkan Venica memanggilnya, segeralah ia turun ke bumi, melihat Venica dan pengawalnya dikepung mimpi-mimpi yang kembali. Ratu segera mengibaskan jubahnya, seketika melebar dan membawa mereka kembali ke istana. Melihat Venica yang terluka, para peri terkejut dan menghentikan pekerjaan mereka.
“Ada yang belum kamu ketahui Venica, mimpi-mimpi itu akan kembali dan menyerangmu ketika pemilik mimpi lupa berdoa pada Tuhannya. Aura negatif akan menutupi mereka dan merubah mimpi-mimpi menjadi buruk. Lalu mengembalikan mimpi yang sebenarnya dan memberi aura negatif untuk menyerang kita,” kata Ratu.
“Sungguh, saya tidak tahu, Ratu. Ampunilah kami, sebab lalai dalam bertugas.”
“Tak mengapa. Peri-peri, tolong bantu Venica, berikan dia obat. Hentikan sejenak pekerjaan kalian!” perintah Ratu.
Sebab para peri tak merakit mimpi kala itu, dan sebagian mimpi tersebar dengan tidak disengaja, mimpi yang dialami manusia menjadi kacau. Ada yang baru saja bermimpi namun sudah bangun, ada yang bermimpi dengan sebuah kebahagiaan tiba-tiba bermimpi bencana, ada yang tidak bermimpi sama sekali, bahkan ada yang pada mimpinya dia berubah menjadi sosok berlawanan. Itu sebab kantung mimpi terjatuh di jalur yang tidak teratur.
Sebab kecelakaan itu, hubungan antara para peri semakin merekat. Berkat kerja sama yang dilakukan dan selalu berpacu pada kepentingan akan mimpi seseorang. Venica merasa senang, melihat teman-temannya bekerja dengan giat demi merakit mimpi manusia-manusia yang ada di bumi.
Venica sendiri merasakan, bagaimana mimpi bisa menopang hidupnya. Mimpi-mimpi itu merupakan sebuah tunas kebahagiaan untuk menjalani kasarnya kehidupan.
Peri-peri selalu melakukan tugasnya dengan senang hati, bahagia juga tekun. Sedang pengawal, mereka lebih sigap, sudah lebih terlatih dan lebih kuat. Mereka siap menjalankan tugas mereka mengawal mimpi-mimpi supaya sampai ke seluruh penjuru bumi. Mimpi-mimpi yang dibuat para-peri semakin sempurna.
Kedekatan di antara para peri dan pengawal sudah tidak bisa lagi diingkari. Meskipun biasanya para prajurit dididik supaya tegas, lain halnya di Istana Mimpi ini. Ratu mewajibkan semuanya menjalin keakraban satu sama lain. Alasannya, supaya aura-aura positif dari kebahagiaan mereka dalam mengerjakan tugas mampu membantu dalam merakit mimpi-mimpi.
Kesekian kalinya, Ratu meliburkan mereka bertugas dan membiarkan manusia hidup tanpa mimpi semalam. Ini adalah malam keseribu bagi mereka berada di Istana Mimpi. Ratu sengaja mengumpulkan mereka di aula istana. Kali ini, bukan untuk berpesta sebab telah melewati setiap periode yang terdiri dari seribu hari mereka yang sempurna dalam bertugas. Suasana membuat para peri dan pengawal cemas. Di istana telah disiapkan pintu-pintu sebanyak 25 pintu. Berbentuk tabung dengan bahan seperti kaca namun dilingkari atap yang dilapisi emas, dan pintu yang terbuka dari dalam terpancar cahaya yang menyilaukan mata. Para dayang berdiri mengelilingi istana, dan ratu berada di tengah-tengah.
“Kalian adalah sebuah tim yang hebat. Peri yang sangat hebat ketika menjadi peri, prajurit yang gagah ketika menjadi prajurit,” Ratu mengawali pembicaraannya. Suasana begitu hening dan cemas. Apa yang akan terjadi? Tidak ada satu pun dari 25 itu yang mengetahuinya.
“Aku sangat berterima kasih, atas kesediaan kalian membantu kami memberikan mimpi pada manusia-manusia bumi. Tapi kalian juga manusia yang memiliki mimpi. Kalian tak bisa selamanya menjadi perakit mimpi demi orang-orang, sedang mimpi kalian tidak kalian perjuangkan,” lanjut Ratu.
Ekspresi wajah dari para peri dan prajurit memperlihatkan keterkejutan.
“Tidak, Ratu. Sungguh inilah mimpi kami, menjadi berguna bagi manusia-manusia lain di bumi,” jawab Venica.
“Tidak, kau salah. Kau tak bisa menjadi berguna hanya memberikan mimpi pada orang-orang. Kau harus bertindak langsung untuk meraih kesuksesan. Mimpi ini hanya sekadar motivasi saja. Ini adalah malam keseribu, sesuai perjanjian, kalian hanya membantu kami selama seribu hari saja.”
“Perjanjian?” ucap Venica.
“Iya, perjanjian. Kalian adalah manusia, makhluk Tuhan. Tak semata-mata aku membawa kalian ke sini tanpa seizin Tuhan. Maka berbanggalah, kalian orang-orang yang dipilih Tuhan mengemban amanat ini. Segeralah bersiap dan masuk ke ruangan itu, aku akan mengirim kalian kembali.”
Semua peri menangis, bahkan prajurit yang gagah pun tak kuasa menahan kesedihan mereka. Setelah seribu hari bersama, mereka akan dipisahkan kembali. Ruang yang selalu menyatukan mereka, juga menjadi tempat perpisahan mereka.
“Kalian sudah menjadi tim yang mampu memberi motivasi lewat mimpi-mimpi. Jangan merasa sedih karena harus saling pergi, jangan merasa khawatir tidak akan ada lagi yang merakit mimpi. Sebab setelah kalian, akan ada peri pengganti yang akan sama hebatnya seperti kalian. Tanpa kalian, mungkin mimpi-mimpi seribu hari ke belakang tak akan mampu membuat perubahan. Karena kalianlah, manusia merasa mudah termotivasi.”
Semuanya masuk ke ruangan yang sudah disediakan. Peri menutup pintu, dan kilatan cahaya menyilaukan pandangan mereka.
“Venica, bantu ibu mengangkut barang bekas ini ke pengepul”
Seketika Venica terbangun. Dia merasakan badannya pegal. Semalaman dia tertidur dalam posisi jongkok sambil menyandar ke dinding ruangan yang terbuat dari bilik. Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celahnya. Venica tersenyum, melihat langit yang begitu cerah dan mendapati tanda awan di tangan kirinya.
“Saya akan mengembalikan ke waktu semula ketika saya mengambil jiwa kalian. Namun, saya akan memberikan tanda di tangan kalian yang hanya bisa dilihat oleh kalian dan para peri lain ketika berada di bumi.”
Venica sangat menikmati tidurnya, meskipun tidak setelah ia bangun. Tidur dengan posisi duduk dan diimpit bilik rapuh adalah cara tidur yang paling menyedihkan. Tapi tak masalah, seribu hari menghantarkan mimpi kepada setiap orang telah mengajarkannya bahwa seindah apa pun mimpi, kenyataan setelah tidurlah yang harus dihadapi.
22 Oktober 2017
Unduh teks untuk IG story