oranment
play icon
Punggawa
Cerpen
karya @hasani
Kutipan Cerpen Punggawa
Karya hasani
Baca selengkapnya di Penakota.id

Musim pemilu telah berada di depan mata. Semarak pesta demokrasi telah terasa. Ini ditandai dengan banyaknya baliho, poster, pamflet dan perangkat kampanye yang tersebar sepanjang jalan, lengkap dengan foto pasangan calon, partai pendukung, semboyan dan janji-janji yang tak kunjung ditepati. Hal inilah yang membuatku merasa muak dengan pemilu. Sudah menjadi suatu alergi yang tak bisa disembuhkan dari dulu. Aku tidak mau amanahku disia-siakan oleh mereka yang bekerja sambil menutup mata.


Teman-temanku adalah orang-orang yang fanatik pada politik. Tiap musim pemilu, selalu ada yang menjadi musuh dan kawan secara tiba-tiba. Parahnya, gejolak permusuhan itu terbawa sampai pesta demokrasi itu berakhir. Bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. ancaman demi ancaman sudah tak asing lagi disini. Rasanya, aku kembali pada jaman dimana berlakunya hukum adalah hukum rimba. Oh Ratu Adil…. Dimanakah kamu??


“hey jangan melamun! Nanti ada setan yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuhmu, bagaimana?” tegur Umar, temanku. “setannya tidak berani masuk, Mar! nanti dia yang kesurupan.” Candaku. Dia tertawa. Murni tanpa filter yang dibuat-buat. “temani aku yuk?” ajaknya. Aku mengernyit. “ke balai desa. Mengurusi perpanjangan KTP.” ucapnya ketika melihat raut wajahku “kenapa tidak ke dinas kependudukan dan pencatatan sipil?” tanyaku. Dia hanya menatapku tidak sabar “kita harus ke balai desa. Itu kan prosedurnya!” jawabnya seraya menarik tanganku untuk berdiri menemaninya. Aku hanya mengangkat bahu sebagai ganti dari jawaban “terserah”.

Sebenarnya aku malas mengantarkannya, mengingat pasti banyak yang antre di hari senin pagi, ini membuatku sedikit bosan. Bahkan tak ada yang patut untuk dilihat di papan informasi balai desa, Selain data kependudukan, dan grafik kelahiran, tak ada yang mendominasi selain poster calon kepala desa yang dipasang ganda. Lengkap dengan daftar janji-janji, program-program yang mungkin tak bisa terealisasi. Tak ada yang bisa kulakukan selain memandang jam besar yang keberadaannya terlupakan. Menunggu. Menunggu Umar mengantri dan menyelesaikan perpanjangan KTP nya.


15 menit berlalu, semakin banyak penduduk yang datang. Seorang bapak tua yang kelihatan garang, dengan kumis melintang, duduk disampingku. Memegang banyak kertas. Tak lama kemudian, temannya datang, raut wajahnya terlihat tegas, matanya tajam. Ditemani seorang kakek yang masih bugar tubuhnya.


“Ed, mau apa kau kemari?” sapa bapak yang berwajah tegas. Bapak yang berkumis melintang (yang baru kutahu ternyata pak Edi, tetanggaku) tertawa sambil menunjukkan berkas-berkas yang tadi ia bawa. “dalam pencoblosan nanti, menurutmu siapa yang akan menang?” tanyanya. “tentu saja si Haris dari partai merah, Wan!!” jawab Pak Edi. “kita kan sehati, tentu partai merah kita bela sepenuh hati!” sahut kakek-kakek tersebut. Pak Edi dan Pak Wawan tertawa, sementara aku sibuk pura-pura tidur sambil mendengarkan. “tentu Mbah, siapa yang berani menentang kita, akan kita warnai tubuhnya, sehingga semuanya berwarna merah! Biar semuanya tahu!!” jawab Pak Wawan. Aku bergidik mendengarnya. Memang, banyak partai yang mengusung Pak Haris sebagai calon kepala desa. Dia adalah kepala desa yang sudah 2 kali menjabat. Sebenarnya, dalam 2 periode pemerintahannya, tidak ada perubahan berarti yang ia ciptakan. (dan sebenarnya, pencalonannya untuk yang ketiga kali adalah melanggar hukum) Masih banyak jalan berlubang yang belum ditambal, banyak anak-anak dari latar keluarga kurang mampu yang mengemis di lampu merah. Bukannya duduk mendengarkan guru di sekolah. Dan potensi desa sama sekali tidak dimanfaatkan. Bahkan ada salah satu anggota karang taruna yang pernah dipukul hanya gara-gara terlalu kritis dengan kondisi desa saat ini. Anehnya, tiap pemilu, ia selalu mendapat suara terbanyak, tidak peduli seberapa banyak putaran yang digelar, hasilnya tetap sama, tidak berubah.


Tepukan lembut Umar mengagetkanku. Dia mengajakku pulang, sementara 4 orang tadi masih disana, bercakap-cakap dengan pandangan beringas. Aku mencoba bertanya pada Umar yang selalu up to date dengan perkembangan dan situasi desa. “mereka tadi siapa?” “simpatisan partai merah delima” jawabnya “Pak Edi dan Pak Wawan ‘kan tetanggamu! Masa’ nggak tahu?” lanjutnya. Aku menggeleng. “ya Tuhan.. jangan terlalu kuper lah. nanti banyak cewek yang nggak kenal sama kamu. Lalu kamu jadi perjaka tua deh!” ujarnya mengejekku. “kan enak dapat gelar baru. Ipung si perjaka tua. Lepas dari tanggung jawab urus anak istri nantinya”

“nikah itu ibadah, Pung! Kamu memang orang yang lari dari tanggung jawab!” jawabnya berpura-pura sebal. Aku tertawa melihat tingkahnya. “mereka tadi bilang soal politik, Mar! rasanya bergidik aku mendengarnya”

“yah memang begitu, Pung. Kamu belum melihat kalau nanti hari H nya tiba.” Jawabnya dengan nada biasa saja. “makanya lain kali, kamu memilih yah? Datang ke TPS. Ikuti hati nuranimu. Pasti ada calon yang kau anggap pas untuk memimpin desa kita. Terlepas dari benar atau bohongnya program dan janji mereka, setidaknya kita menggunakan hak kita. Toh kalaupun calon ‘amanahmu’ tidak terpilih, setidaknya kamu telah berkontribusi dengan mendukungnya.” Lanjutnya. Aku hanya bisa diam mencerna perkataannya. “aku tak mau dibodohi, Mar!” dia menatapku bingung “dibodohi bagaimana?” tanyanya. Aku menghela nafas “rakyat harusnya cerdas sedikit. Kalau pemimpin yang sudah tidak amanah, mencalonkan diri lagi di pemilu selanjutnya, harusnya mereka tak memilih dia lagi dong. Dibuktikan dengan kades kita. Pak Haris. 2 kali periode. Padahal dalam masa pemerintahannya, uang kita, uang rakyat, digunakan untuk memperkaya dirinya sendiri. Mobil mewah sudah ada dua, sebentar lagi pasti tambah. Jadi tiga. Sementara rakyatnya, makan sehari pun kadang tak bisa. Apa yang membuat dia berani maju dalam pemilu lagi?” Ujarku berapi-api. “karena uang Pung! Jangan terlalu lugu dan polos. Semuanya karena ada uang. Politik ya gitu. Dewa nya adalah uang” jawab Umar enteng. Aku hanya bisa terdiam.


Terlepas dari kejadian tadi, aku mulai mengamati. Di tengah dinginnya malam, selalu saja ada yang terasa panas. Dan di tengah teriknya siang, selalu ada yang terasa dingin. Sikap sesama warga yang tak mau bertegur sapa, saling memalingkan muka ketika berjumpa, padahal setahuku, dulu mereka adalah kawan lama. Sekarang seperti musuh saja. Apakah politik sekejam itu? Memecah belah persatuan yang dulu diperjuangkan? Aku hanya menghela nafas. Menghabiskan malam dengan menghentikan setiap pemikiran yang berontak hendak keluar.

***

Di tempat lain.....


“bagaimana persiapan kita? Sudah fix semua kah?” tanya Pak Haris pada anak buahnya.

“sudah pak. Baliho sudah dipasang, pamflet, poster, dan yang lainnya sudah kita sebar. Tinggal menunggu bapak bertindak saja”

“baiklah… besok kita bagikan sembako dan uang pada warga desa. Kumpulkan mereka di balai desa jam setengah sembilan. Jangan sampai telat. Biarkan mereka menunggu dahulu.” Jawabnya. Para anak buahnya cuma mengangguk setuju.


“dan Agung, jangan lupa, dana untuk pembangunan jalan, lebihkan sedikit.” Lanjutnya. Sementara Agung yang diperintah Cuma mengangguk “berapa pak? Seharusnya dana pembangunan jalan sih 150 juta. Ditulis berapa?” nampak Pak Haris berpikir sejenak “250 juta. Tulis itu. Jangan sampai lupa!! Harus ada hal yang kembali saat kita mengeluarkan sesuatu. Itu yang dinamakan menimbang untung dan rugi” lanjutnya menyeringai puas.

***

Pagi sebelum pukul setengah sembilan, warga sudah memadati balai desa. Kebanyakan adalah ibu-ibu yang membawa balita dalam gendongannya. Ada yang menangis karena merasa sesak. Dan ada yang menangis karena minta dibelikan mainan. Mereka menunggu dengan cemas. Menanti kapan pak kades akan hadir. Membagikan uang dan sembako yang tak sebanding dengan isinya. Namun, karena demi kebutuhan, mereka terpaksa melaksanakannya.

Hampir pukul 09.30, pak kades baru hadir. Menebarkan senyum yang mirip seringai serigala lapar, berjalan dengan perut buncit yang ia sebut sebagai lambang kesejahteraan.

“maafkan keterlambatan saya, bapak dan ibu sekalian. Banyak tugas yang tak bisa saya tinggalkan sebenarnya. Namun, karena saya sangat memperhatikan betul warga saya, saya rela hadir dan menyempatkan waktu disini.” Dengan nada dibuat-buat, ia terus mengoceh.

“jadi jangan lupa. Coblos nomor 1 dalam pemilihan nanti saudara-saudara. Saya akan membenahi infrastruktur yang rusak, menggratiskan pengobatan ke puskesmas dan menyediakan pendidikan gratis selama 12 tahun. jadi tidak ada yang putus sekolah. Begitupun dengan lapangan kerja, akan diperluas. Dengan begitu, angka penganggurannya bisa diminimalisasi.”

Seorang bapak tua berdiri dengan tiba-tiba “bagaimana dengan kebijakan bapak yang dulu? Saya tidak mendapatkan obat gratis di puskesmas untuk penyakit TBC saya. Padahal kata bapak dulu, obat itu gratis. Termasuk pelayanan puskesmas juga gratis.”


“iya pak. Bagaimana dengan nasib sawah saya yang dibeli oleh investor kawan bapak itu? Sawah itu sudah menjadi perumahan elite sekarang, namun uang yang dijanjikan, belum saya pegang. Jangankan saya pegang, melihat pun tidak. Padahal sawah itu merupakan sumber penghasilan keluarga saya pak!” keluh seorang ibu yang menggendong anaknya.

Menghadapi aksi seperti itu, reaksi pak kades tentu saja bingung. Apalagi aksi itu tidak terduga sama sekali dan seakan-akan semua warga ikut mengamini. Terdengar gumam-gumam “bagaimana pak..?” “jalan desa belum diaspal, padahal yang lain sudah..” “mana janji bapak yang katanya….”


Menghadapi situasi seperti itu, dengan satu isyarat ke anak buahnya, situasi bisa terkendali. Sekalipun dibawah ancaman. Dua orang pria gondrong bertampang preman lah penyebab warga menutup mulut. Membuat pak kades tersenyum lagi. “tanpa menunda-nunda lagi, silahkan dibagi”


Warga desa hanya bisa pasrah. Mengantri sambil dibisikkan kata yang tak asing di telinga. Dengan genggaman kokoh seakan ingin meremukkan tangan tua mereka. “jangan lupa pilih pak kades Haris. Jika tidak ingin hilang malam nanti”

***

Dalam suasana siang yang terik. Sepulang kuliah, aku mampir ke sebuah warung yang tak jauh dari rumah. Bersama Umar sahabatku. “bu.. pesan mie goreng 2 dan es jeruknya 2 ya” sementara sang ibu warung mengacungkan jempol tanda mengerti.


“bagaimana tadi acara di balai desa pak?” tanya Umar pada 3 orang warga yang ngopi disitu. “yah begitulah Mar! si kades sialan itu hanya bicara janji dan omong kosong saja” jawabnya “diberi uang berapa memangnya?” tanya Umar yang selalu ingin tahu “Cuma 100 ribu, Mar!! tapi, kami tak mau disogok. Kami takkan memilihnya lagi saat pemilu.” Sahut bapak yang satunya. “itu bagus lah pak.. jangan mau dibodohi dengan janji-janji pemimpin yang busuk itu.” Ujarku ikut nimbrung. “ingin seperti itu nak.. namun, semuanya itu.. money politic dan kami juga sebenarnya memilih karena dibawah ancaman.”

“ah seperti zaman orde baru saja” ujarku enteng. Sementara mereka Cuma berpandangan.

“siapa yang akan menjadi musuh si Haris?” tanya Umar.


“Pak Majid, Mar!! menurutku, dia baik. Alim. Cerdas dan amanah. Cocok lah sebagai pemimpin desa kita”

“Ustadz majid mau mencalonkan diri? Diusung partai apa? Wah kalau beliau yang jadi, aku akan mencukur rambutku dan alisku!!” kata Umar disambut tawa yang lainnya.

“tapi.. apa berani? Aku dengar, si kades ini akan menggunakan berbagai cara untuk mencapai ambisi!!” sahut ibu warung mengantar pesanan kami. “ilmu hitam takkan mempan pada seorang alim, Inem! Tuhan yang akan melindungi beliau. kalau si kades itu macam-macam, warga akan melindunginya.! Toh kita sudah lelah di pimpin oleh si Haris!!” Umar mengacungkan jempol tanda setuju. Aku hanya mengangguk tanda setuju. “lebih baik, perwakilan dari warga diam-diam mendatangi rumah Pak Majid untuk menyampaikan dukungannya. Tentu kita harus berhati-hati. Mengingat si pak kades ini bertangan besi. Punya mata-mata sana sini. Kita harus bergerak perlahan, namun pasti. Pura-pura saja kita mendukung Pak Haris. Padahal kita memilih Pak Majid.” Usulku disambut tatapan setuju yang lainnya. Umar terbatuk-batuk mendengar perkataanku, menatapku tidak percaya. “ini Ipung kan? Kupikir, kau akan golput tahun ini!!” aku tersenyum kecil. Pak Majid adalah orang yang kuanggap tepat menjadi kades disini. Dengan pengetahuannya, kondisi desa ini pasti lebih baik jika berada dalam tangannya. “tidak Umar. Aku akan menggunakan hak ku”

***

Hari-hari berlalu dengan biasa. Namun kewaspadaan Pak Haris dan anak buahnya semakin bertambah. Mengingat pesaing nya kali ini berasal dari tokoh masyarakat yang terkenal. Ia tak ragu untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi sebuah suara. Posternya diperbesar dan diperbanyak. Ditempel sembarangan pada pohon-pohon di pinggir jalan. Terpaku serampangan. Namun, sepertinya usahanya kali ini sia-sia. Semakin hari, rakyat semakin sadar akan pentingnya reformasi. Demokrasi harus terealisasi demi mencapai masyarakat madani. Diam-diam, masyarakat mengalirkan dukungannya untuk Pak Majid. Seperti sore ini, aku dan beberapa warga desa yang lain berkumpul untuk bertamu di rumahnya. “sebelumnya terima kasih. Karena kalian sudah repot-repot datang kemari.” Sapa Pak Majid dengan suara santun. “bagaimana agenda lusa pak? Apakah bapak sudah siap?” tanya pak Abdul. Pak Majid memperbaiki posisi duduknya agar senyaman mungkin “saya sebenarnya tak menghendaki untuk menjadi pemimpin. Karena didesak oleh warga desa, saya pun maju karena menganggap ini amanah. Walaupun dari jalur independen. Insha allah saya amanah. Karena tanggungannya ini berat. Harus bertanggung jawab di dunia maupun akhirat. Jadi, jika saya menjadi kades yang baru, barangkali ada masukan, ataupun kritik, silahkan sampaikan, rumah saya masih terbuka lebar”


Suaranya bergetar. Dan kami yang mendengarkan mengangguk terpesona. Seakan ada sesuatu yang magis yang tak bisa dijabarkan oleh kata-kata. Ada kekuatan dan tekad dalam suaranya.


Cukup lama kami berbincang. Membahas keperluan yang dipersiapkan untuk kampanye nanti nya. “pesan saya, jangan terhasut fitnah. Jangan terlalu fanatik juga. Karena itu tidak baik. Tidak pernah ada cobaan yang paling besar fitnahnya selain daripada terpecah belah. Maka dari itu, harap jagalah integrasi diantara sesama”


Setelah pertemuan itu, Pak Majid masih sering mengisi pengajian di masjid-masjid maupun acara keagamaan lainnya. Walaupun tanpa diminta, kami selalu hadir disana. Membagikan makanan untuk jamaah diselipi pesan “jangan lupa. Coblos nomor dua. Pemimpin amanah. Ustad Abdul Majid” di sisi lain, Pak Haris menyebarkan isu bahwa Pak Majid menjual agama demi kekuasaan. Menjual ayat-ayat tuhan demi ambisinya meraih kursi sebagai pemimpin. Tentu saja masyarakat tak terpengaruh akan hal tersebut. mereka sudah berpikir, bahwa selayaknya demokrasi ini terealisasi. Bukan hanya obral janji minim bukti.


Menjelang seminggu sebelum pemilu, desas-desus semakin santer. Entah itu tentang Pak Majid yang punya masa lalu suram, atau Pak Haris yang diduga melakukan tindak korupsi dana desa. Ini dibuktikan dengan adanya mobil polisi yang mampir ke balai desa minggu lalu. “kalau benar begitu, kuharap dia membusuk di tahanan!” bisik Umar “sudah kucurigai saat dana desa yang besar itu turun, tapi tidak ada wujudnya sama sekali. Lihatlah.. jejaknya dana itu tak berbekas sama sekali” timpal Aris, rekan karang taruna. “warga desa sudah cerdas sekarang. Tidak mau terima uang dari Haris lagi. Bahkan uang itu diberikan pada Joko. Hahaha.. dia kaya sekarang. Sesumbar bahwa dia akan membeli mobil seperti punya si Haris!!” lanjut Aris. Kami tertawa. Karena Joko merupakan orang yang terganggu otaknya di desa kami. Dan rasanya, anak buah Pak Haris takkan menyakitinya karena ucapannya. Jika mereka tersinggung, berarti mereka sama-sama gila.


Suasana menjelang pemilu juga semakin mencekam. Orang-orang simpatisan berjaga-jaga siang malam mengintimidasi orang-orang pendukung independen. Rasanya, pemilihan gubernur dan presiden tidak terasa se fanatik ini dibandingkan dengan pemilihan kepala daerah. Jika pemilihan presiden pihak pro dan kontra berperang di sosial media, saling hujat sana sini, termakan berita hoax dan hate speech, berbeda dengan pemilihan kepala desa yang penuh dengan fanatik nyata. Aksi langsung. Jika tidak mempan dengan ilmu kanuragan, maka praktik primitif dijalankan. Apalagi kalau bukan ilmu hitam..?

***

Hari itu tiba. Masyarakat memadati TPS setempat. Aku yang ditemani Umar pun antusias. Ini adalah pertama kalinya aku ikut berpartisipasi dalam pemilu. “bagaimana rasanya mencoblos?” tanya Umar iseng. “biasa saja” jawabku singkat memandangnya sebal. Jari kelingkingku secara sempurna tercelup tinta. Seluruhnya. Dan ini karena keisengan Umar. berkata bahwa tinta itu sebagai ganti tinta sebelumnya yang pernah kulewatkan.


“aku tak sabar menunggu quick count nya. Bagaimana ya hasilnya? Kuharap Pak Majid menang” harap Umar. aku mengamini. “eh ya.. dimana ya para preman itu? Biasanya setiap pemilu mereka berjaga-jaga disini” tanya Umar celingukan. Aku memandang mobil polisi yang diparkir tak jauh dari area TPS. “mungkin itu sebabnya” tunjukku. “wah.. makanya kulihat Haris kok berkeringat dingin!” jawab Umar antusias. Pukul 12 siang, TPS sudah sepi. Dan menurut jadwal, pukul 2 sore nanti akan diadakan hitung cepat. Kali ini diawasi oleh pihak kepolisian. Aku rasa, ketidakwajaran di desa kami sudah mulai di perhatikan. Batinku mengutuk “mengapa tidak dari dulu?”


Dan hitung cepat dimulai, para warga dari masing-masing kubu memadati balai desa. Bersorak tiap kali nomor urut calonnya disebut. Riuh sekali. aku yang tak pernah mengikuti hal ini pun terbawa arus ketika nama Pak Majid ternyata lebih unggul daripada Pak Haris. Tinggal beberapa suara lagi, namun Pak Majid memperoleh lebih banyak suara, unggul dari Pak Haris yang tertinggal jauh. Yang hanya bisa memperoleh 50 suara saja. Ketika surat suara terakhir dibacakan, kegaduhan pun muncul. Ucapan syukur dari para pendukung terdengar bersamaan. Hanya satu hal yang kurasakan ditengah perubahan, bahagia. Entah mengapa…..

***

Dampaknya setelah pemilihan luar biasa, Pak Majid tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dan syukur. Sementara pendukungnya tak henti-hentinya berkunjung ke rumahnya mengucapkan selamat. Umar pun begitu. Kepalanya plontos dan kulihat ia tak punya alis. Ingin ku tertawa. Namun katanya terlanjur bersumpah. Hitung-hitung wujud bahagia. Walau kulihat, ia sendiri merasa risih dan tersiksa.


Dua hari pasca pemilu, pihak kepolisian bersama KPK menangkap Pak Haris atas tuduhan korupsi dana desa. Selama menjabat kepala desa, Pak Haris ternyata selalu menggelapkan dana desa yang diterima dari pemerintah. Kejadian ini membuat para warga merasa puas. “bagaimana pun orang dhalim akan menerima balasannya”


Ketika ditangkap, penampilannya acak-acakan. Ia meracau tidak karuan, seperti orang yang sudah kehilangan kewarasan. Aku yang sudah hafal dengan drama pejabat hanya menghela nafas. Bosan dan bosan. Tak jauh dari tempat itu, aku melihat Joko yang duduk di bawah pohon nangka. Dengan wajah sedih, ia mendandani boneka usang. Aku iseng menghampirinya. Bertanya “ada apa disini?” ia menyisir rambut boneka tersebut “melihat orang gila yang dibawa pak polisi tadi. Dia sudah gila. Melarikan dan memakai uang orang banyak itu tidak baik. ‘kan itu bukan hak nya. Itu hak orang banyak. Itu yang dinamakan gila kan? Diberi amanah malah disia-siakan. Dia sama seperti istriku. Yang membawa kabur uangku. Meninggalkan aku dan anakku sendirian disini. Kasihan dia belum makan. Lihatlah..” ia menunjukkan boneka usang itu padaku.


Aku terdiam.

calendar
10 May 2020 18:17
view
145
wisataliterasi
Tendean, Mampang Prapatan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia
idle liked
2 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig