Aku dan Domba-domba yang Tersesat
Cerpen
Kutipan Cerpen Aku dan Domba-domba yang Tersesat
Karya hilmanhar
Baca selengkapnya di Penakota.id

Sore tadi aku menyaksikan dua ekor domba sedang bersitegang. Aku mengenal mereka, keduanya merupakan sahabat sekaligus adik kakak beda bapak. Domba berbulu putih dengan lingkarang hitam di matanya itu bernama Loki dan domba yang berwarna hitam itu bernama Roy.

 

Faktanya, memang itu merupakan nama mereka. Pak Dadang lah yang memberikan nama itu. Dia merupakan pemilik peternakan, dia merupakan pengangon sekaligus pengusaha domba paling terkenal di kampung ini.

 

Kalian bisa melihat itu dari kedua domba dihadapanku ini, Loki dan Roy. Tanduk mereka, cara mereka berjalan dan suara mereka yang tegas menandakan bahwa Pak Dadang tidak main-main dalam mengurusi domba-dombanya.

 

Kebetulan saat itu Pak Dadang sedang mengangon domba-dombanya di ladang Pak Tomi. Sementara letak ladang pak Tomi tidak berjauhan dengan rumahku. Maka ketika sore itu aku berjalan-jalan dan secara kebetulan menyaksikan perdebatan antara Loki dan Roy. 

 

Loki berkata bahwasannya rumput di ladang pak Supri lebih enak dan lebih gurih. Tapi Roy menyanggahnya dia berkata bahwa rumput ini jauh lebih baik. Lihat saja warnanya yang hijau terang tidak seperti rumput di ladang Pak Supri yang warnanya sudah kekuningan.

 

Loki tetap bersikeras dengan pendapatnya dan Roy pun sama. Perdebatan mereka semakin memanas sampai salah satu dari keduanya main tanduk. Loki yang sudah geram kemudian mengambil langkah mundur dan memasang kuda-kuda. Melihat itu Roy pun cekatan, dia juga mundur dan segera menanduk Loki lebih dulu.

 

Roy si domba hitam ini memang terkenal dan sering diikutkan kontes oleh Pak Dadang. Kancahnya di dunia perdombaan sudah tidak bisa diragukan lagi. Sementara Loki hanya seekor domba amatiran yang masih harus banyak belajar dari Roy, sahabat sekaligus kakak tirinya. 

 

Tapi saat menyaksikan itu aku cukup kagum melihat semangat Loki yang pantang menyerah. Dia terus menahan tandukan Roy yang bila mana keduanya beradu maka tanduk-tanduk mereka bersuara nyaring. 

 

Di sore hari yang indah ini melihat dua ekor domba yang bersahabat bahkan bersaudara bertengkar, keadaan sangat membuatku pilu. Hanya karena memperdebatkan rasa rumput yang mereka makan mereka sampai bertengkar. Ini adalah pertengkaran terkonyol selama aku melihat domba-domba. Biasanya mereka bertengkar karena berebut wanita atau menyombongkan diri merasa paling superior di antara yang lain. Tapi kali ini mereka bertengkar karena rumput di ladang pak Tomi. 

 

Rumput di sini memang hijau dan pemandangannya indah. Aku pun senang berada di sini. melihat domba-domba atau hewan pemakan rumput lainnya yang datang di angon oleh pemiliknya, membuatku senang.

 

Tapi baru kali ini aku merasa sedih. Meskipun aku tetap harus memihak salah satunya. Mungkin aku akan memihak Roy karena dia menyukai rumput di sini, setidaknya dia sependapat denganku dan akan lebih mudah untuk didekati dari pada Loki. 

 

Di tengah pertarungan, Loki mulai kelelahan. Roy tidak berhenti menyeruduknya terus-menerus. Akhirnya Loki pun menyerah dan Loki pergi ke tengah hutan di ujung ladang. Sontak Roy yang melihat itu segera tersadar, dia mulai menenangkan dirinya dan berusaha memanggil-manggil Loki untuk meminta maaf.

 

Tapi Loki terus berlari tidak ingin lagi merasa lebih malu. Seakan-akan dia selalu kalah dari kakak tirinya itu bahkan dalam hal sepele yaitu berdebat soal makanan. Kakaknya selalu benar, dan Loki pun mengakui bahwa sebenarnya rumput di ladang Pak Tomi jauh lebih enak dibanding rumput di ladang Pak Supri. Tapi dia hanya ingin mengajak kakaknya itu bertengkar saja untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kekuatannya. Tapi tentu saja hasilnya sudah kita ketahui bahwa tidak ada perkembangan sama sekali pada Loki. Karena itulah dia amat kecewa pada dirinya sendiri.

 

sementara Roy menyadari hal itu dan terus berusaha mengajarkan beradu kepala dengan tanpa memperlihatkan belas kasihan. Untuk menghargai Loki Roy berusaha sekuat tenaga, meskipun begitu sebagai seorang kakak Roy tetaplah berbelas kasih. Dia tidak sepenuhnya menanduk Loki, tenaga yang dikeluarkan hanya setengah dari biasanya.

 

Sore pun semakin gelap. Roy khawatir karena Loki tidak kunjung kembali dari hutan.

Sementara Pak Dadang sudah kembali dari gubuknya membawa sebilah kayu dan mulai menggiring domba-domba gemuknya untuk kembali ke kandang.

 

Roy meminta bantuan kepada pak Dadang. Sebagai pemilik yang perhatian, pak Dadang mengerti ada sesuatu yang tidak beres pada Roy. Domba hitam itu berlari ke arah pak Dadang sambil berteriak, Loki, Loki Hilang.

 

Menerima laporan Roy, kemudian Pak Dadang menghitung domba-dombanya itu. Ternyata pak Dadang tidak mendapati Loki, benarlah yang Rpy laporkan. Loki hilang!

 

Karena langit semakin gelap, maka pak Dadang memutuskan untuk memulangkan domba-dombanya terlebih dahulu. Pak Dadang tidak ingin mengambil resiko kehilangan domba lebih banyak lagi. Akan tetapi Roy sempat tidak terima itu, kakak tiri Loki itu sangat mengkhawatirkannya. Roy terus berteriak pada pak Dadang.

 

“Roy tenanglah!” pinta pak Dadang, “Nanti akan aku temukan Loki, tapi sekarang kita pulang dulu. Biar saudara-saudaramu yang lain bisa tenang menunggu di rumah.”

 

Roy menghela nafas panjang dan mengatur emosinya. Hingga keadaan lebih tenang Roy yang berada di barisan paling belakang mulai pergi meninggalkan ladang pak Tomi dan pulang dengan domba lainnya. Pandangannya tidak pernah lepas dari hutan, dia selalu menoleh kebelakang.

 

Sore berganti malam.

Pak Dadang merasa ada yang tidak beres dengan kehilangan Loki ini. Maka pak Dadang meminta beberapa karyawannya dan warga setempat untuk mencari Loki di hutan. 

 

Saat itu aku sedang makan malam. Aku melihat orang-orang membawa senter sebagai penerang jalan, ada yang membawa parang dan senjata tajam lainnya. Aku sedikit ketakutan saat itu, tapi rasa lapar tidak menghentikanku. Aku terus makan dan tidak menghiraukan mereka. 

 

Keadaan semakin menegangkan saat beberapa orang mulai berjalan mendekati rumahku. “Ah apa yang harus aku lakukan, Loki belum habis kumakan.” Aku pun tidak punya pilihan lain selain pergi meninggalkan santapanku yang masih sisa sedikit lagi. Padahal rasa Loki begitu enak, tapi aku tidak ingin dipukuli oleh warga. Aku berlari ke hutan paling dalam dan menunggu siapa tahu nanti ada domba-domba lain lagi yang makan di ladang pak Tomi.

 

Dari kejauhan aku melihat wajah pak Dadang yang sedih melihat Loki sudah aku makan. Aku pun sebenarnya tidak tega, tapi aku lapar dan makanan serigala adalah domba-domba yang tersesat. Jadi aku tidak punya pilihan.

 

08 Jul 2022 13:59
240
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
5 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh: