

Rasanya seperti lelucon. Aku tidak tahu ada di titik mana hidupku sekarang. Terkadang hidup lebih lambat dari laju kura-kura, setidaknya ia punya tekad untuk terus hidup, sedang aku tidak.
Aku terus mengupayakan diriku terlihat namun yang terjadi adalah aku semakin terkuras dan memutuskan bersembunyi. Kesunyian seperti dua mata pisau. Terkadang cukup mencekik hingga aku harus memukul dadaku untuk membuatnya sedikit riuh. Tetapi ada kalanya ia menjadi teman baikku, dan aku sukarela dipenjarakan berdua dengannya dalam waktu lama.
Namaku mulai menghilang dari kepala orang-orang. Tidak ada kabar bahagia yang datang kepadaku melalui burung burung di udara. Mereka melewatiku hingga membuatku iri sekali. Bagaimana rasanya terbang sebebas itu? Atau adakah satu pesan untukku? Satu saja? Namun mereka terus saja mengudara di atasku dan lagi-lagi aku menjadi kecil dan tak terlihat.
Aku masih bersembunyi dan hidup dalam ribuan pertanyaan. Menunggu untuk ditemukan. Meskipun, aku memutuskan bergeming tanpa terisak, terdiam tanpa meminta bantuan. Sesekali hanya tertawa pelan —bisik-bisik, membiarkan lelucon hidupku ini aku rasakan dan nikmati sendiri.

